Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Film Hasut Tak Andalkan Hantu, Suara Misterius Justru Bikin Penonton Ikut Curiga

Disutradarai Ilya Sigma, Hasut mengajak penonton mengikuti perjalanan empat sahabat yang masuk ke tengah hutan untuk menjalani ritual penyembuhan.(Istimewa)

JAKARTA|| Radarpost.id

Film horor tak selalu harus menghadirkan sosok menyeramkan untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Hasut, film terbaru produksi Tuta Films, mencoba membangun rasa takut lewat sesuatu yang lebih sederhana: suara.

Disutradarai Ilya Sigma, Hasut mengajak penonton mengikuti perjalanan empat sahabat yang masuk ke tengah hutan untuk menjalani ritual penyembuhan. Namun, perjalanan yang awalnya ditujukan untuk mencari ketenangan perlahan berubah menjadi permainan rasa percaya.

Suara-suara misterius muncul melalui handy talkie (HT) yang mereka gunakan. Awalnya terdengar seperti komunikasi biasa. Namun semakin cerita berjalan, suara tersebut mulai memunculkan kecurigaan dan membuat keempat karakter mempertanyakan orang-orang di sekitar mereka.

Di sinilah Hasut mencoba bermain.

Film ini tidak buru-buru memberikan jawaban tentang siapa yang berada di balik suara tersebut. Penonton justru diajak ikut merasakan kebingungan para karakter: apakah suara yang mereka dengar memang berasal dari seseorang, atau justru ada sesuatu yang membuat mereka tidak lagi bisa mempercayai pikirannya sendiri?

Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova menjadi empat pemeran yang membawa cerita tersebut. Masing-masing karakter datang dengan luka dan persoalan masa lalu yang kemudian ikut memengaruhi hubungan mereka.

Ketika suara-suara hasutan semakin sering terdengar, hubungan keempatnya mulai berubah. Rasa percaya perlahan digantikan kecurigaan. Hal kecil bisa terasa mencurigakan, sementara orang yang sebelumnya dianggap dekat justru mulai dipertanyakan.

Buat penonton yang terbiasa dengan film horor yang mengandalkan penampakan, pendekatan Hasut mungkin terasa berbeda. Film ini lebih banyak mengandalkan atmosfer, suara, ekspresi pemain, serta situasi yang membuat penonton bertanya-tanya.

Terornya bukan semata-mata tentang apa yang terlihat, tetapi tentang apa yang terdengar dan kemudian dipercaya.

Ilya Sigma mengatakan konsep tersebut memang menjadi bagian penting dari cerita Hasut.

“Film Hasut berbicara tentang sebuah rasa curiga dan kepercayaan. Dengan elemen suara yang menjadi kekuatan film ini, Hasut menjadi horor yang datang bukan dari makhluk yang tak terlihat, tapi dari keraguan terhadap diri sendiri dan orang terdekat,” ujar Ilya.

(istimewa)

Pendekatan itu membuat film terasa lebih dekat dengan ketakutan yang sebenarnya cukup familiar dalam kehidupan sehari-hari. Rasa curiga, salah memahami perkataan orang lain, hingga mempertanyakan apakah sesuatu yang kita dengar benar atau tidak, menjadi sumber ketegangan.

Rachel Amanda juga menyebut lokasi hutan menjadi salah satu tantangan dalam proses produksi. Seluruh cerita Hasut dibangun dengan empat pemeran utama yang harus menghidupkan teror psikologis melalui interaksi mereka.

“Menonton film Hasut akan membawa kita pada sebuah perasaan tegang, terteror secara psikologis, dan refleksi tentang sebuah relasi terhadap orang terdekat kita,” kata Rachel.

Sementara Karina Salim melihat hubungan antarkarakter sebagai salah satu bagian emosional dalam film. Karakternya dan karakter Rachel Amanda merupakan kakak-adik yang sama-sama menyimpan trauma masa lalu.

“Karena kami berdua di sini adalah kakak-adik, yang memiliki trauma di masa lalu, dan di hutan inilah, keduanya mencoba membicarakannya untuk pertama kalinya,” ujar Karina.

Menariknya, Hasut tampaknya tidak ingin penonton terlalu cepat merasa aman dengan satu jawaban. Cerita perlahan membuka informasi, tetapi pada saat yang sama menambah pertanyaan baru.

Bagi penonton awam, pola seperti ini mungkin membuat arah cerita terasa sedikit membingungkan. Namun, kebingungan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman menonton. Penonton dibuat berada di posisi yang sama dengan para karakter: mendengar sesuatu, mencoba mempercayainya, kemudian kembali meragukannya.

Begitu pula dengan bagian akhirnya. Tanpa membocorkan cerita, Hasut tampaknya ingin meninggalkan ruang bagi penonton untuk menafsirkan kembali apa yang sudah mereka lihat dan dengar sepanjang film.

Pertanyaan mengenai siapa yang menghasut dan siapa yang sebenarnya bisa dipercaya menjadi benang merah yang terus dibawa hingga akhir.

Film Hasut disutradarai Ilya Sigma dan ditulis bersama Priesnanda Dwisatria. Film ini diproduseri Putrama Tuta dan Siera Tamihardja, dengan Nick Musa serta Randi Wibawa sebagai ko-produser.

Buat yang mencari film horor dengan formula berbeda, Hasut menawarkan pengalaman yang lebih mengandalkan suasana dan permainan psikologis ketimbang sekadar penampakan.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling mengganggu dari film ini bukanlah siapa yang ada di balik suara HT tersebut.

Melainkan, kalau suara yang kita dengar membuat kita meragukan orang terdekat, apakah kita masih bisa percaya pada apa yang kita yakini sendiri?

Hasut tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.