JAKARTA|| Radarpost.id
Penyanyi Anggun C. Sasmi memandang musik sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan identitas Indonesia kepada masyarakat internasional.
Di tengah budaya global yang semakin terhubung, ia meyakini bahwa kekayaan Indonesia dapat dikenal melalui bahasa, lagu tradisional, hingga pengalaman artistik yang dibawanya ke panggung dunia.
Bagi Anggun, memperkenalkan Indonesia tidak harus selalu melalui simbol budaya yang telah dikenal luas, seperti batik. Musik justru menawarkan pendekatan yang lebih personal dan alami untuk membangun ketertarikan audiens asing terhadap Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan Anggun saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2026). Ia menceritakan sejumlah pengalamannya membawakan lagu Indonesia dalam berbagai kesempatan di luar negeri.
Salah satunya ketika Anggun menyanyikan lagu daerah Sunda, Bubuy Bulan, di televisi Prancis. Ia juga pernah membawakan lagu Malam Kudus dalam bahasa Indonesia saat tampil dalam konser Natal di Vatikan.
“Jadi saya pernah nyanyi Bubuy Bulan di televisi Prancis, saya pernah nyanyi Malam Kudus dalam bahasa Indonesia di konser Natal di Vatikan, terus pernah juga di talkshow saya diminta nyanyi lagu tradisional Indonesia. Dengan begitu aja udah bisa memperkenalkan Indonesia ke arah internasional,” ujar Anggun.
Musik sebagai Identitas Budaya di Panggung Internasional
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi medium pertukaran budaya lintas negara. Tanpa harus melalui presentasi formal mengenai sejarah atau tradisi, sebuah lagu dapat membuka ruang bagi audiens internasional untuk mengenal bahasa dan karakter budaya Indonesia.
Menurut Anggun, bahasa Indonesia yang terdengar asing bagi sebagian penonton di luar negeri justru dapat memunculkan rasa ingin tahu. Dari pengalaman mendengarkan lagu, masyarakat internasional berkesempatan mengenal Indonesia melalui perspektif yang berbeda.
“Jadi kadang hanya untuk ngenalin kayak gitu impact-nya tuh sudah besar sekali gitu. Karena kan orang banyak yang enggak tahu Indonesia itu di mana, terus tiba-tiba dengar bahasa Indonesia, buat mereka itu asing sekali tapi menarik,” katanya.
Pendekatan ini juga relevan dengan perkembangan gaya hidup global, ketika musik, fesyen, dan ekspresi personal kerap menjadi bagian dari cara seseorang menunjukkan identitas budaya. Popularitas sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh bahasa yang digunakan, tetapi juga oleh pengalaman emosional dan karakter yang disampaikan kepada pendengarnya.
Melampaui Batik, Memperluas Representasi Indonesia
Dalam dunia fesyen internasional, batik telah menjadi salah satu identitas budaya Indonesia yang dikenal luas. Namun, representasi sebuah negara tidak harus berhenti pada busana tradisional atau simbol visual tertentu.
Anggun ingin memperkenalkan Indonesia melalui cakupan yang lebih luas, termasuk musik dan bahasa. Baginya, kesempatan tampil di luar negeri dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam.
“Jadi setiap kali saya dapat kesempatan untuk mengenalkan Indonesia, saya mau mengenalkan Indonesia bukan cuma lewat saya, bukan cuma lewat batik, tapi lebih dari itu,” ungkapnya.
Pandangan tersebut menempatkan identitas budaya sebagai sesuatu yang hidup dan terus berkembang. Tradisi tidak hanya hadir melalui pakaian, motif, atau benda budaya, tetapi juga melalui karya seni dan pengalaman yang dapat diterima lintas generasi.
Dalam konteks gaya hidup modern, pendekatan semacam ini memberikan ruang bagi budaya lokal untuk hadir secara lebih luas tanpa harus kehilangan karakter aslinya. Musik menjadi salah satu cara untuk membawa unsur Indonesia ke lingkungan internasional melalui medium yang dapat dinikmati oleh beragam latar belakang budaya.
Identitas Indonesia yang Mengalir dalam Karya
Bagi Anggun, memperkenalkan Indonesia bukan semata-mata strategi yang dirancang setiap kali tampil di luar negeri. Identitas sebagai orang Indonesia merupakan bagian dari dirinya yang secara alami ikut terbawa dalam perjalanan karier dan karya musiknya.
Melalui lagu, bahasa, dan pengalaman panggung, ia dapat memperlihatkan sisi Indonesia yang mungkin belum banyak diketahui oleh audiens internasional.
Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengenalan budaya tidak selalu membutuhkan kampanye besar. Kesempatan tampil di televisi, konser, maupun forum hiburan internasional dapat menjadi ruang untuk mempertemukan budaya Indonesia dengan masyarakat dunia.
Di tengah pertukaran budaya yang semakin dinamis, pengalaman Anggun memperlihatkan bahwa musik dapat berjalan berdampingan dengan fesyen dan gaya hidup sebagai medium ekspresi identitas.
Indonesia pun berpeluang dikenal bukan hanya melalui simbol yang melekat pada tradisinya, tetapi juga melalui karya dan cerita yang dibawa para pelakunya ke panggung global.












