JAKARTA|| Radarpost.id
Kebiasaan memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik perlu dibangun sejak usia sekolah. Tidak cukup hanya memahami teori, anak-anak juga perlu mendapat kesempatan untuk mempraktikkan pengelolaan sampah sekaligus mengajak teman sebaya menjaga lingkungan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari program edukasi lingkungan #BijakPlastikSejakDini yang diinisiasi Mondelēz Indonesia sejak 2021. Memasuki tahun keenam, program ini mulai memperkuat keterlibatan siswa melalui pembentukan Duta #BijakPlastikSejakDini.
Melalui peran tersebut, siswa tidak hanya belajar mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga didorong menjadi contoh bagi teman-temannya dalam menerapkan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.

Hingga Juni 2026, program tersebut telah menjangkau 23 sekolah binaan dengan melibatkan lebih dari 5.700 siswa. Dalam periode 2021 hingga Juni 2026, sebanyak 50,2 ton sampah plastik dan 116 ton sampah kemasan dari berbagai jenis berhasil dikumpulkan.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Agus Rusly, menilai edukasi pengelolaan sampah perlu diikuti praktik nyata di lingkungan sekolah.
Menurut dia, pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan pemilahan, tetapi juga pemahaman terhadap jenis dan karakteristik sampah yang dihasilkan.
“Pengelolaan sampah tidak berhenti pada pemilahan, tetapi perlu diikuti dengan pemahaman mengenai jenis dan karakteristik sampah yang dihasilkan,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/10/2026).
Dia mengapresiasi inisiatif #BijakPlastikSejakDini yang mendorong penerapan kebiasaan mengelola sampah sejak dini. Program tersebut juga disebut sebagai bagian dari upaya mendukung pelaksanaan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Sekolah Jadi Tempat Membentuk Kebiasaan Peduli Lingkungan
Pembentukan kebiasaan peduli lingkungan membutuhkan dukungan dari sekolah. Kegiatan seperti pemilahan sampah, pengurangan penggunaan plastik, dan pengelolaan bank sampah dapat menjadi praktik sederhana yang dilakukan secara berulang.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup KLH/BPLH, Lu’lu’ Agustina, mengatakan kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari budaya sekolah sekaligus mendukung upaya menuju Sekolah Adiwiyata.
Dalam lingkungan sekolah, Duta #BijakPlastikSejakDini diharapkan dapat menjadi contoh sekaligus mengajak siswa lain untuk menerapkan perilaku serupa.
Pendekatan ini menempatkan anak bukan hanya sebagai penerima materi edukasi, melainkan juga sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan sekolah yang lebih peduli terhadap persoalan sampah.
Pembina Tim Kerja Pembinaan Peserta Didik Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Minhajul Ngabidin, yang mewakili Direktur Sekolah Dasar, Moch. Salim Somad, turut menekankan pentingnya membangun kepedulian lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter anak.
Menurut dia, kebiasaan tersebut sejalan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya pilar bermasyarakat, yang mendorong anak berkontribusi positif di lingkungan sekitarnya.
Program Bertambah Empat Sekolah
Jangkauan #BijakPlastikSejakDini pada tahun ini diperluas melalui bergabungnya empat sekolah baru, yakni SD RK II Fransiscus Padang dan SD Semen Padang di Sumatera Barat, serta SDN Bintaro 01 dan SDN Bintaro 02 di Jakarta.
Perluasan tersebut membuka kesempatan bagi lebih banyak siswa untuk mengenal pengelolaan sampah melalui kegiatan edukasi, lokakarya, kompetisi, dan penerapan konsep bank sampah di sekolah.
Country Head of Corporate and Government Affairs Mondelēz Indonesia, Marfusita Hamburgiwati, mengatakan pembentukan duta merupakan pengembangan program yang telah berjalan sejak 2021.
“Tahun ini, kami ingin memberikan ruang yang lebih luas bagi anak untuk mengambil peran aktif melalui Duta #BijakPlastikSejakDini. Kami percaya, ketika anak diberikan kesempatan untuk menjadi contoh dan mengajak teman-temannya, kebiasaan baik dapat tumbuh menjadi gerakan bersama yang lebih berdampak baik untuk lingkungan sekitarnya,” ujar Marfusita.
Sejak 2023, program tersebut juga menjadi mitra resmi Gerakan Sekolah Sehat (GSS) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Ke depan, keterlibatan sekolah, guru, siswa, orang tua, masyarakat, dan pemerintah diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan kebiasaan pengelolaan sampah.
Melalui langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, edukasi lingkungan di sekolah dapat menjadi bekal bagi anak untuk memahami tanggung jawabnya terhadap lingkungan, baik di rumah maupun di masyarakat.












