Jakarta|| Radarpost.id
Sosok Sambas Mangundikarta masih membekas di ingatan masyarakat, terutama lewat suaranya saat mengomentari pertandingan olahraga di televisi. Pada peringatan 100 tahun kelahirannya, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengenang kemampuan Sambas yang membuat penonton seolah ikut berada di lapangan.
Kenangan itu disampaikan Adhyaksa dalam acara 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta di Auditorium Yusuf M. Ronodipuro, RRI Jakarta, Senin (19/10/2026).

Bagi Adhyaksa, Sambas bukan sekadar komentator olahraga. Ia memiliki cara bertutur yang khas, tegas, tenang, dan mampu menghidupkan suasana pertandingan melalui penjelasannya.
“Suara Pak Sambas itu mantap, tegas, tenang, tetapi juga sangat eksploratif. Kalau beliau menceritakan pertandingan, kita seperti ikut berada di lapangan dan ikut berjuang,” ujar Adhyaksa.
Kemampuan Sambas menggambarkan jalannya pertandingan membuat penonton tidak hanya menyaksikan aksi para atlet, tetapi juga merasakan ketegangan dan semangat kompetisi.
Adhyaksa juga menyoroti olahraga sebagai bagian dari dinamika politik dan geopolitik dunia. Ia mencontohkan persaingan negara-negara besar pada masa Perang Dingin yang turut terlihat dalam kompetisi olahraga internasional, termasuk Olimpiade.
Menurutnya, olahraga memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar menang atau kalah. Kerja keras, dedikasi, ketekunan, dan disiplin merupakan nilai yang dapat membentuk karakter bangsa.
“Di dalam olahraga ada nilai kerja keras, dedikasi, ketekunan, dan disiplin. Dari sanalah karakter bangsa bisa dibangun. Pak Sambas membawa nilai-nilai itu melalui penyampaian dan ulasannya,” tuturnya.
Adhyaksa menilai kreativitas Sambas dalam mengulas pertandingan menjadi salah satu hal yang membuatnya dikenang. Ulasan yang jelas dan menarik mampu memancing rasa ingin tahu masyarakat terhadap dunia olahraga.
Tika Bisono Gelar Tribute untuk Sambas Mangundikarta
Peringatan 100 tahun Sambas Mangundikarta juga menjadi momentum untuk mengenalkan kembali kiprahnya kepada generasi muda, khususnya mereka yang berkecimpung di bidang penyiaran, jurnalistik, dan komunikasi.
Tika Bisono, yang terlibat dalam penyelenggaraan acara tersebut, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang memiliki kontribusi penting dalam dunia penyiaran Indonesia.
“Perayaan 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta ini merupakan sebuah perayaan istimewa dan luhur, di mana seluruh narasumber dan artis pengisi acara menyuguhkan talk show tentang dunia penyiaran yang mumpuni dan persembahan lagu-lagu karya Sambas Mangundikarta yang sangat dikenal masyarakat pada zamannya,” kata Tika dalam keterangan panitia.
Acara tersebut menggabungkan diskusi mengenai dunia penyiaran dengan penampilan musik. Kegiatan juga disiarkan secara daring melalui kanal YouTube RRI Jakarta.
Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, antara lain Adhyaksa Dault, M. Kabul Budiono, Yassir Den Has, dan Brigitta Isworo Laksmi. Acara dipandu Isabella Fawzi, dengan Tika Bisono sebagai pembawa acara.
Hetty Koes Endang Bawakan Manuk Dadali
Suasana penghormatan semakin terasa melalui penampilan musik. Hetty Koes Endang membawakan lagu “Manuk Dadali”, lagu berbahasa Sunda yang telah dikenal luas sejak dekade 1960-an.
Fadhil Indra dan Inge Sambas juga turut memeriahkan acara tersebut.
Panitia berharap penghormatan terhadap Sambas Mangundikarta tidak berhenti pada perayaan satu hari. Kegiatan serupa direncanakan berlanjut pada 2027 dengan melibatkan pemerintah daerah Bandung dan Subang serta mengangkat kebudayaan Sunda.
Melalui peringatan ini, Sambas dikenang bukan hanya karena suara khasnya, melainkan juga karena kemampuannya menyampaikan cerita olahraga dengan cara yang membekas bagi penonton lintas generasi.












