JAKARTA|| Radarpost.id
Penyanyi Alika Shafira terus mengembangkan karakter bermusiknya melalui karya-karya yang mengangkat cerita tentang cinta, perbedaan, dan perjalanan emosional seseorang. Hal tersebut diceritakannya saat berbincang di sela-sela penampilannya di Glamz Antasari bersama Sigit Wardana.
Dalam kesempatan itu, Alika mengungkap perjalanan awalnya menekuni musik secara profesional, proses penggarapan extended play (EP) berisi tujuh lagu, hingga tantangannya mengeksplorasi warna vokal di luar karakter lagu melankolis yang selama ini lekat dengannya.
Alika mulai serius bermusik pada 2024. Perjalanan tersebut berawal dari kebiasaannya mengunggah video cover lagu di media sosial. Kesempatan bertemu dengan Lebal melalui seorang perantara kemudian membuka jalan baginya untuk terjun lebih jauh ke industri musik.

“Awal aku bermusik itu di tahun 2024. Aku kebetulan ketemu sama Lebal karena aku suka cover-cover di media sosialku. Terus ada yang bisa menjembatani juga, dan akhirnya waktu itu aku serius bermusik,” ujar Alika.
Meski baru menekuni musik secara profesional pada 2024, kecintaannya terhadap dunia tarik suara sudah tumbuh sejak kecil. Lingkungan keluarga yang juga gemar bernyanyi turut membentuk ketertarikannya terhadap musik.
Seiring berjalannya waktu, Alika mulai membangun identitas musikal melalui karya-karya yang dekat dengan pengalaman emosional. Baginya, lagu tidak sekadar menjadi ruang untuk menyampaikan perasaan, tetapi juga sarana untuk menggambarkan pengalaman yang mungkin pernah dialami banyak orang.
Alika Shafira Angkat Cerita Hubungan dalam EP Tujuh Lagu
Salah satu karya awal Alika adalah Kita Berbeda, yang dirilis pada 2024. Lagu tersebut mengangkat kisah tentang perbedaan dalam sebuah hubungan yang terkadang baru disadari setelah dua orang menjalani kebersamaan dalam waktu cukup lama.
Menurut Alika, perbedaan tidak selalu terlihat sejak awal hubungan. Ada hal-hal yang baru muncul ketika pasangan mulai mengenal satu sama lain lebih dalam dan menghadapi berbagai persoalan bersama.

“Kalau orang-orang tahu dari awal beda agama, mungkin sudah ketahuan perbedaannya di awal. Tapi kalau perbedaan-perbedaan yang lain, baru ketahuan setelah kita menjalani hubungan. Sebenarnya, kita sudah menjalani hubungan cukup lama, tetapi ternyata terlalu banyak perbedaan,” tuturnya.
Tema tersebut menjadi salah satu gambaran pendekatan Alika dalam bermusik. Ia mencoba menyampaikan bahwa hubungan tidak selalu berakhir karena hilangnya perasaan, tetapi terkadang karena perbedaan yang sulit dipertemukan.
Selain Kita Berbeda, EP Alika memuat sejumlah lagu lain, di antaranya Tersenyumlah, Belum Waktunya Jatuh Cinta, Ternyata Kamu, dan Berakhir Sudah.
Melalui kumpulan lagu tersebut, Alika menghadirkan berbagai sisi perjalanan cinta. Ia tidak hanya berbicara tentang kesedihan dan kehilangan, tetapi juga mencoba mengangkat perasaan ketika seseorang mulai menemukan cinta dan melihat masa depan bersama orang yang disayanginya.
Proses penggarapan EP tersebut berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan. Dalam pengerjaannya, Alika berkolaborasi dengan sejumlah musisi, termasuk Jikustik dan Nur. Ia juga turut terlibat dalam penulisan lagu untuk proyek tersebut.
Bagi Alika, kolaborasi menjadi kesempatan untuk bertukar gagasan sekaligus mempelajari pendekatan bermusik dari orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda.
Tantang Diri Lewat Lagu Upbeat
Selama ini, Alika lebih terbiasa membawakan lagu-lagu mellow dengan nuansa melankolis. Karena itu, Belum Waktunya Jatuh Cinta menjadi salah satu materi yang menantangnya untuk keluar dari zona nyaman.
Lagu tersebut memiliki karakter musik yang lebih upbeat dibandingkan lagu-lagu yang biasa dibawakannya. Perubahan suasana itu menuntut Alika menyesuaikan ekspresi dan pendekatan vokal agar pesan lagu dapat tersampaikan dengan tepat.
“Aku biasanya membawakan lagu mellow, lagu galau. Lagu ini lumayan upgrade dan menjadi tantangan juga buat aku karena musiknya agak upbeat, lebih cepat,” kata Alika.
Menurutnya, tantangan tersebut bukan sekadar mengikuti tempo musik. Ia juga harus membangun suasana yang lebih ceria, sesuatu yang berbeda dari karakter emosional yang selama ini sering ia tampilkan melalui lagu-lagu bertema patah hati.
Keinginan untuk memperluas warna musik juga terlihat dalam lagu Ternyata Kamu. Alika mengaku terinspirasi oleh perasaan ketika seseorang sedang jatuh cinta dan meyakini bahwa orang yang dicintainya akan menjadi sosok penting dalam hidup.
“Waktu aku menulis Ternyata Kamu, aku ingat kejadian saat lagi jatuh cinta sama seseorang. Rasanya seperti dia adalah satu-satunya yang akan aku sayangi seumur hidup,” ungkapnya.
Melalui lagu tersebut, Alika ingin menghadirkan sisi romantis yang berbeda dari karya-karyanya yang identik dengan kesedihan.
“Di antara semua lagu aku yang galau-galau cinta, aku juga ingin punya lagu yang lebih romantis,” lanjutnya.
Eksplorasi itu menjadi bagian dari upayanya untuk memperluas jangkauan musikal, sekaligus memperlihatkan bahwa dirinya ingin berkembang tanpa terpaku pada satu karakter lagu.
Kolaborasi dan Latihan Jadi Bekal Bermusik
Dalam perjalanan bermusiknya, Alika menyadari bahwa pengembangan kemampuan tidak bisa berhenti setelah sebuah lagu selesai direkam. Ia masih rutin berlatih vokal dan sesekali berganti pelatih untuk memperoleh referensi serta pendekatan baru.
Ia pernah menjalani latihan vokal bersama Kak Ebi. Selain mengikuti latihan, Alika juga berusaha mengembangkan kemampuannya secara mandiri di rumah.
Pengalaman berkolaborasi dengan musisi lain turut memberikan banyak pelajaran. Melalui proses diskusi dan pertukaran ide, ia memperoleh masukan yang membantunya memahami berbagai pendekatan dalam mengolah lagu.
“Yang selalu aku ingat adalah terus latihan, terus belajar, tetapi tetap humble,” ujarnya.
Proses penggarapan EP juga diwarnai tantangan kesehatan. Alika mengungkapkan sempat mengalami masalah pada hidung sehingga harus menjalani penanganan sebelum melanjutkan proses rekaman.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan selama pengerjaan materi lagu. Meski menghadapi kendala, proses itu menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya perjalanannya sebagai penyanyi.
Ingin Temani Pendengar Lewat Lagu
Bagi Alika, kedekatan emosional menjadi salah satu hal penting dalam sebuah karya musik. Ia memahami bahwa pendengar kerap mencari lagu yang bisa mewakili perasaan mereka, terutama ketika sedang menghadapi masalah dalam hubungan.
Pengalaman mendengarkan lagu saat patah hati turut memengaruhi keinginannya untuk menghadirkan karya yang dapat menemani pendengar melewati masa-masa sulit.
“Kalau lagi patah hati, aku pribadi mencari lagu yang bisa menyentuh hati dan bikin aku menangis pada saat itu. Aku berharap lagu-laguku bisa menemani teman-teman semua saat hatinya lagi enggak baik-baik saja,” tutur Alika.
Harapan tersebut menjadi salah satu alasan ia terus mengeksplorasi cerita dan warna musik dalam karya-karyanya. Ia ingin lagu-lagunya tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi teman bagi orang-orang yang sedang mengalami situasi serupa.
Ke depan, Alika berharap bisa terus merilis karya baru dan berkolaborasi dengan lebih banyak musisi. Ia juga memiliki keinginan untuk merilis album serta mewujudkan pertunjukan dengan konsep yang dirancangnya sendiri.
Bagi Alika, perjalanan bermusik masih menjadi proses untuk terus belajar, menemukan karakter, dan mengembangkan potensi. Dari lagu-lagu melankolis hingga eksplorasi musik yang lebih ceria, ia ingin memberikan ruang bagi dirinya untuk tumbuh dan menghadirkan cerita yang semakin beragam kepada pendengar.












