DEPOK|| Radarpost.id
Musik tradisional angklung berpotensi menjadi lebih dari sekadar warisan budaya. Di tengah perkembangan industri kreatif global, kesenian berbasis alat musik bambu ini dapat membuka ruang kolaborasi lintas generasi, memperluas pasar pertunjukan budaya, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.
Potensi tersebut terlihat dalam kompetisi Harmoni Angklung PWI Depok 2026 di Depok Town Square (Detos), Kota Depok, Minggu (11/10/2026). Kegiatan yang diikuti 14 sanggar dengan total 370 peserta dari berbagai wilayah Jabodetabek itu menjadi salah satu upaya memperkuat keberadaan angklung di tengah masyarakat perkotaan.
Sanggar Kenanga Angklung dari Tangerang Selatan berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Sanggar Angklung Simfoni Gladio RW 24 Abadijaya, Sukmajaya, Depok, sedangkan juara ketiga diraih Sanggar Angklung Happy Rivaria dari Sawangan, Depok.
Digagas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok bersama Sanggar Suluk Nusantara, kompetisi tersebut berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Pesertanya berasal dari berbagai komunitas angklung yang menunjukkan bahwa pelestarian musik tradisional tidak hanya bertumpu pada institusi pendidikan atau kelompok seniman profesional, tetapi juga tumbuh melalui partisipasi masyarakat.
Dari Pelestarian Budaya Menuju Ekonomi Kreatif
Angklung memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari industri budaya Indonesia. Selain melalui pertunjukan, pengembangan kesenian ini dapat dilakukan lewat pendidikan musik, pertukaran budaya, festival internasional, pariwisata berbasis komunitas, hingga produk kreatif yang berkaitan dengan alat musik bambu.
Namun, peluang tersebut membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan. Komunitas seni perlu mendapat ruang tampil, pembinaan, akses promosi, serta kesempatan membangun jejaring dengan penyelenggara acara dan pelaku industri kreatif.
Dalam konteks itu, kompetisi angklung di Depok dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas apresiasi masyarakat sekaligus memetakan potensi sanggar lokal. Jika dikembangkan secara konsisten, kegiatan serupa berpeluang menjadi agenda budaya yang turut menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Langkah berikutnya adalah membangun program yang tidak berhenti pada perlombaan, tetapi juga memberikan ruang pembelajaran, pertukaran pengalaman antarsanggar, dan pengenalan angklung kepada generasi muda.
PWI Depok Siapkan Festival Angklung Nusantara 2027
Ketua PWI Kota Depok Rusdy Nurdiansyah menyebut Harmoni Angklung sebagai langkah awal untuk memperluas gerakan pelestarian seni tradisional. Pihaknya berencana menyelenggarakan Festival Angklung Nusantara pada 2027 dengan cakupan yang lebih besar.
“Harmoni Angklung ini menjadi awal gema pelestarian seni budaya angklung. Insya Allah PWI Kota Depok akan menggelar ajang yang lebih besar lagi pada 2027, yakni Festival Angklung Nusantara. Ini salah satu kebermanfaatan kehadiran PWI Kota Depok di masyarakat,” ujar Rusdy.
Rencana tersebut membuka peluang bagi Depok untuk memperluas jejaring kebudayaan melalui pertemuan komunitas angklung dari berbagai daerah. Jika disertai kemitraan dengan lembaga kebudayaan, pelaku pariwisata, dan penyelenggara festival, kegiatan itu juga berpotensi memperkenalkan seni angklung kepada khalayak yang lebih luas, termasuk audiens internasional.
Meski demikian, pengembangan ke tingkat internasional membutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari kualitas pertunjukan, kesinambungan pembinaan, strategi promosi digital, hingga kemitraan lintas negara.
Pemkot Depok Dorong Angklung Masuk Agenda Tahunan
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengapresiasi penyelenggaraan Harmoni Angklung PWI Depok 2026. Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan kepedulian insan pers terhadap pelestarian seni dan budaya.
Chandra juga mendorong agar Harmoni Angklung masuk dalam agenda rutin Pemerintah Kota Depok. Ia meminta Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporyata) mempertimbangkan penyelenggaraan kegiatan secara berkala, termasuk membuka kategori khusus untuk pelajar.
“Saya meminta Disporyata Kota Depok untuk jadikan agenda tetap pelaksanaan Harmoni Angklung. Kalau bisa ada kategori untuk kalangan pelajar. Pemkot Depok sangat mengapresiasi PWI Kota Depok yang peduli dengan seni budaya, tentunya Harmoni Angklung 2026 yang berlangsung sukses,” kata Chandra.
Keterlibatan pelajar menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional. Pembinaan sejak dini dapat membantu memperkenalkan angklung sebagai alat musik yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memperkuat pemahaman generasi muda terhadap keragaman budaya Indonesia.
Di tengah persaingan industri hiburan global, pengenalan musik tradisional juga dapat dikembangkan melalui konten digital, pertunjukan kolaboratif, dan program edukasi yang menjangkau masyarakat di luar Indonesia.
Angklung sebagai Identitas Budaya Indonesia
Harmoni Angklung PWI Depok 2026 turut dihadiri Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Muhammad Qodari bersama istrinya, Halimah, serta aktor Chandra Wahyu dari Bonte Holistik.
Hadir pula Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Depok Manto, serta Sekretaris Disporyata Kota Depok Dody Setiawan.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari sejumlah anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dan DPRD Kota Depok, antara lain Pradi Supriatna, Hamzah, Yeti Wulandari, Ela Dahlia, dan Qonita Lutfiyah.
Ke depan, tantangan pelestarian angklung bukan hanya mempertahankan keberadaannya, melainkan juga menciptakan ruang agar kesenian tersebut terus dimainkan, dipelajari, dan dikembangkan.
Rencana Festival Angklung Nusantara 2027 menjadi kesempatan untuk memperluas partisipasi komunitas, memperkuat identitas budaya daerah, dan membuka peluang ekonomi kreatif berbasis seni tradisional.
Dengan dukungan komunitas, pemerintah, dan sektor swasta, angklung berpeluang menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia sekaligus produk seni pertunjukan yang mampu menjangkau panggung internasional.












