JAKARTA|| Radarpost.id
Industri kreatif Indonesia terus membuka peluang untuk memperluas pasar dan menjalin kerja sama dengan pelaku internasional. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Jakarta Futura Connectiva (JFC) 2026 yang mempertemukan kreator, pemilik kekayaan intelektual (intellectual property/IP), investor, penerbit, hingga perusahaan dari berbagai sektor industri kreatif.
Digelar di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, pada 3 Oktober 2026, JFC menghadirkan 40 studio kreatif lokal yang bergerak di bidang komik, animasi, dan gim. Ajang yang diselenggarakan Asosiasi Komik Indonesia (AKSI) sebagai bagian dari program Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta ini dirancang untuk membuka akses bisnis, memperluas jejaring, serta mendorong pengembangan karya kreatif Indonesia ke pasar yang lebih luas.
Berbeda dari ajang budaya pop yang umumnya berfokus pada hiburan dan komunitas, JFC 2026 menghadirkan ruang yang lebih berorientasi pada pengembangan bisnis. Sejumlah agenda disiapkan, mulai dari business matchmaking, Creative Conference, IP Market, editorial review, hingga networking yang mempertemukan pelaku industri lokal dengan calon mitra dari dalam maupun luar negeri.
Penyelenggaraan JFC tahun ini juga berkolaborasi dengan Indonesia Comic Con (ICC) 2026 yang memasuki tahun ke-10. Kolaborasi tersebut memungkinkan pelaku industri kreatif bertemu langsung dengan komunitas dan penggemar budaya pop dalam satu kawasan, sekaligus mempertemukan kepentingan bisnis dengan perkembangan pasar dan audiens.
Perwakilan Asosiasi Komik Indonesia, Rizqi R. Mosmarth, mengatakan JFC menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai elemen industri kreatif yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri.
Menurutnya, pertemuan antara kreator, pelaku bisnis, dan mitra potensial dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, termasuk menghasilkan kesepakatan bisnis dan karya baru.
“Biasanya ini berjalan secara terpisah, tetapi sekarang bisa berkolaborasi. Di event bisnis ada transaksi bisnis, baik yang sudah dijadwalkan maupun yang berawal dari perkenalan baru. Forum bisnis di industri kreatif lokal tidak mudah, tetapi banyak peluang kolaborasi yang bisa kita ciptakan dengan modal passion dan semangat,” ujar Rizqi.
Ia menilai, kehadiran pelaku industri internasional menjadi kesempatan bagi kreator dan studio Indonesia untuk membangun koneksi di luar pasar domestik. Interaksi tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada pertukaran kontak, tetapi juga berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan.
Rizqi pun mendorong para peserta untuk memanfaatkan forum tersebut dengan memperluas pertemanan profesional, mengenal calon mitra, dan memperkenalkan potensi karya yang mereka miliki.
“Banyak-banyak kenalan di hari ini. Ada pelaku internasional juga di sini, jadi bisa kenalan dengan semua pelaku industri. Mudah-mudahan setiap tahun kita bisa mencapai tingkatan kualitas konten melalui event ini dan acara ini bisa terus bermanfaat dan produktif,” tuturnya.
Business Matchmaking Jadi Penghubung Kreator dan Investor
Salah satu fokus utama Jakarta Futura Connectiva 2026 adalah program business matchmaking. Melalui agenda ini, pelaku industri kreatif mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan calon mitra bisnis, penerbit, investor, pemilik merek, serta pihak lain yang berpotensi mendukung pengembangan karya.
Pertemuan bisnis tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam membangun industri kreatif yang tidak hanya menghasilkan konten, tetapi juga mampu mengembangkan kekayaan intelektual menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Kepala Subkoordinator Akses Pemasaran dan Permodalan Disparekraf DKI Jakarta, Raymond Stefanus, mengatakan konsep business matchmaking menjadi salah satu pembeda JFC dibandingkan dengan kegiatan kreatif yang lebih berorientasi pada penggemar.
“JFC mempertemukan pelaku industri untuk membuat kesepakatan dan menghasilkan karya. Tujuannya adalah melengkapi spektrum industri kreatif kita. Ada penggemar dan ada pelaku bisnis, dan keduanya dapat bertemu dalam satu ekosistem,” kata Raymond.
Menurut Raymond, pengembangan industri kreatif membutuhkan keterhubungan antara pihak yang menghasilkan karya dengan pihak yang dapat mendukung distribusi, pemasaran, pendanaan, hingga pengembangan bisnis.
Dalam konteks tersebut, business matchmaking membuka ruang bagi studio dan kreator untuk memperkenalkan portofolio, mendiskusikan potensi kerja sama, serta menjajaki peluang pengembangan proyek bersama mitra yang sesuai.
Meski demikian, keberhasilan pertemuan bisnis tidak hanya ditentukan oleh banyaknya koneksi yang terbangun, tetapi juga bagaimana komunikasi tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi proyek dan kerja sama yang konkret.
IP Lokal Berpeluang Menjangkau Pasar Global
Potensi kekayaan intelektual lokal turut menjadi salah satu pembahasan dalam JFC 2026. Sejumlah karya Indonesia, seperti Si Juki dan Tahilalats, disebut Raymond sebagai contoh IP lokal yang telah berkembang dan menjangkau pasar internasional.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa karakter, cerita, dan karya yang lahir dari kreator Indonesia memiliki peluang untuk dikenal oleh audiens yang lebih luas. Namun, pengembangan IP juga membutuhkan strategi bisnis, pengelolaan hak kekayaan intelektual, serta dukungan distribusi agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Keberadaan penerbit, investor, pemilik merek, dan mitra internasional dalam JFC diharapkan dapat membuka akses bagi studio lokal untuk menjajaki peluang tersebut.
Selain memperkenalkan karya yang sudah dikembangkan, forum ini juga memberikan ruang bagi kreator untuk mendapatkan masukan melalui editorial review dan Creative Conference. Agenda tersebut dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan, pengembangan ide, serta pembahasan mengenai potensi suatu karya untuk dikembangkan ke berbagai format.
Pengembangan IP sendiri tidak terbatas pada penerbitan komik atau peluncuran gim. Karakter dan cerita yang memiliki basis audiens berpotensi dikembangkan ke dalam berbagai bentuk karya kreatif lainnya, bergantung pada konsep, hak penggunaan, dan kesepakatan bisnis yang dibangun.
Melalui pendekatan tersebut, JFC berupaya mempertemukan kreativitas dengan kebutuhan industri sehingga karya lokal memiliki kesempatan untuk berkembang lebih jauh.
Kolaborasi dengan Indonesia Comic Con Perluas Jangkauan Audiens
Penyelenggaraan JFC 2026 bersamaan dengan Indonesia Comic Con menjadi salah satu aspek yang memperluas ruang interaksi industri kreatif. Jika JFC berfokus pada hubungan profesional dan pengembangan bisnis, ICC menghadirkan komunitas, penggemar, serta audiens dari berbagai bidang budaya pop.
Pertemuan kedua kegiatan ini membuka kesempatan bagi kreator untuk memperkenalkan karya secara langsung kepada publik sekaligus menjajaki potensi bisnis dengan para pelaku industri.
Kehadiran komunitas juga menjadi bagian dari perkembangan ekosistem kekayaan intelektual. Audiens yang mengenal dan mengikuti sebuah karakter atau cerita dapat membentuk basis penggemar yang berperan dalam perjalanan suatu IP.
Di sisi lain, interaksi langsung dengan penggemar dapat memberikan gambaran mengenai respons audiens terhadap karya yang ditampilkan. Hal ini menjadi salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan kreator dalam mengembangkan konten dan merancang strategi bisnis.
Kolaborasi tersebut juga mempertemukan dua kebutuhan industri kreatif, yakni membangun keterikatan dengan audiens dan menciptakan peluang komersial melalui kerja sama antarpelaku usaha.
Dengan demikian, JFC dan ICC menghadirkan ruang yang menghubungkan kreator, pemilik IP, pelaku bisnis, serta komunitas dalam satu rangkaian kegiatan.
Dorong Penguatan Ekosistem Industri Kreatif Jakarta
Jakarta Futura Connectiva 2026 menghadirkan berbagai agenda yang mencakup B2B matchmaking, Creative Conference, IP Market, editorial review, networking, dan kegiatan pengembangan bisnis lainnya. Sebanyak 40 studio kreatif lokal dari sektor komik, animasi, dan gim terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pemasaran dan permodalan bagi pelaku industri kreatif, khususnya studio lokal yang ingin mengembangkan karya dan menjangkau mitra baru.
Bagi industri kreatif, tantangan pengembangan tidak hanya terletak pada proses produksi, tetapi juga pada akses terhadap pendanaan, perlindungan kekayaan intelektual, distribusi, dan pemasaran. Keterhubungan antara berbagai unsur tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung keberlanjutan sebuah karya.
Melalui JFC 2026, pelaku industri kreatif diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan untuk memperkenalkan potensi masing-masing, membangun kemitraan, dan menjajaki pengembangan proyek lintas sektor.
Penyelenggaraan ini juga mencerminkan upaya memperkuat posisi Jakarta sebagai ruang pertemuan pelaku industri kreatif lokal dan internasional. Dengan mempertemukan berbagai pihak dalam satu ekosistem, JFC membuka peluang agar karya kreatif Indonesia tidak hanya dikenal di tingkat domestik, tetapi juga memiliki kesempatan untuk dikembangkan dan dipasarkan di tingkat global.
Keberlanjutan kolaborasi dan tindak lanjut dari pertemuan bisnis yang berlangsung selama acara menjadi bagian penting dalam melihat dampak JFC terhadap perkembangan industri kreatif Indonesia.












