JAKARTA|| Radarpost.id
Transformasi digital dan komunikasi publik menjadi sorotan setelah Menteri Agama Nasaruddin Umar meraih Top GPR Figure Award 2026. penghargaan tersebut diberikan dalam subkategori Special Achievement for TOP Public Service Digital Transformation Figure 2026 pada ajang 6th TOP GPR Award 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Nasaruddin menilai capaian tersebut bukan semata-mata prestasi pribadi, melainkan hasil kerja kolektif aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag), mulai dari tingkat pusat hingga daerah.
Menurutnya, komunikasi publik memiliki peran penting dalam mendukung kementerian kementerian yang memiliki cakupan tugas luas, terutama dalam urusan keagamaan dan pendidikan.
“Penghargaan ini bukan untuk saya sendiri, tetapi segenap karyawan, staf, pimpinan yang lain di Kementerian Agama, dari pusat sampai ke tingkat daerah. Karena penilaian ini adalah penilaian kolektif,” kata Nasaruddin di Jakarta.
Humas Kemenag Dituntut Responsif
Dibalik penghargaan tersebut, penguatan fungsi hubungan masyarakat (humas) menjadi salah satu aspek yang dipahami. Nasaruddin mengapresiasi tim humas Kemenag yang bertugas menyampaikan informasi sekaligus memfasilitasi komunikasi antara institusi dan masyarakat.
“Saya juga secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Humas kami, Andalan kami. Kerja mereka 24 jam karena harus memfasilitasi komunikasi Kementerian Agama,” ujarnya.
Tuntutan komunikasi publik saat ini tidak hanya berkaitan dengan kecepatan penyebaran informasi. Akurasi, keterbukaan, dan kemampuan merespons kebutuhan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.
Dalam konteks tersebut, transformasi digital Kemenag diarahkan untuk mempermudah akses terhadap layanan keagamaan dan pendidikan. Pemanfaatan kanal digital juga diharapkan membuka ruang komunikasi dua arah agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menyampaikan aspirasi.
Penilaian Berdasarkan Jejak Digital
Penghargaan Top GPR Figure Award 2026 menggunakan pendekatan penilaian berbasis jejak digital. Berdasarkan pemaparan penyelenggara, GPR Institute, terdapat sejumlah indikator yang digunakan untuk menilai figur pemerintah.
Indikator tersebut meliputi Kesadaran Digital, yang mengukur pencarian dan ulasan terkait figur; Aspek Media Digital, yang mencakup jumlah pemberitaan digital beserta sentimennya; serta Social Media Aspect, yang menilai jumlah pengikut, aktivitas, dan keterlibatan di Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok.
Penilaian figur juga mensyaratkan sedikitnya 90 persen pemberitaan memiliki sentimen netral dan positif. Pengumpulan data dilakukan melalui riset digital untuk mengukur rekam jejak komunikasi dan reputasi tokoh di ruang publik.
Sementara itu, kategori Prestasi Khusus mempertimbangkan kebaruan inovasi, kepemimpinan, manfaat bagi masyarakat, serta potensi replikasi dan program yang diinginkan.
Dengan demikian, penilaian kategori-kategori tersebut tidak hanya berfokus pada frekuensi kemunculan seorang pejabat di media, tetapi juga mempertimbangkan inovasi dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
Nasaruddin berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh jajaran Kemenag untuk meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan kepada masyarakat.
“Semoga menjadi motivasi yang lebih baik untuk kita semua,” tuturnya.












