Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Sigit Wardana Punya Alasan Khusus Remake Lagu Lama di EP Eksisten!, Bukan Sekadar Nostalgia

Proyek ini bukan sekadar menghidupkan kembali lagu lama, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap karya-karya yang telah memberi warna dalam perjalanan hidupnya.(Foto: Rangga).

JAKARTA|| Radarpost.id

Sigit Wardana, yang dikenal lewat perjalanan musiknya bersama Basejam, punya alasan khusus saat memilih membawakan ulang lagu-lagu milik musisi lain dalam EP terbarunya, Eksisten!. Proyek ini bukan sekadar menghidupkan kembali lagu lama, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap karya-karya yang telah memberi warna dalam perjalanan hidupnya.

EP Eksisten! berisi lima lagu, yakni Bis Kota, Saat Bahagia, Luka Tak Berdarah, Oh Tak Mungkin, dan Ramadan Raya. Proyek tersebut memadukan tiga lagu remake dengan dua lagu baru yang menjadi bagian dari eksplorasi musikal Sigit sebagai penyanyi solo.

Dalam peluncuran EP yang dikemas melalui intimate showcase di GLAMZ Antasari, Jakarta, Senin (12/10/2026), Sigit bercerita bahwa ide awal proyek tersebut sebenarnya adalah membuat album yang sepenuhnya berisi lagu-lagu milik musisi lain.

“Emang ada keinginan untuk bikin satu album penuh lagu orang semua. Kayak penghargaan terhadap lagu-lagu yang menurut gue sudah memberikan warna buat hidup gue,” kata Sigit Wardana.

Namun, proses pengerjaan tidak berjalan persis seperti rencana awal. Sejumlah kendala membuatnya harus menyesuaikan konsep dan menggabungkan lagu remake dengan materi baru.

Perubahan tersebut tidak membuat gagasan utama proyeknya hilang. Sigit tetap ingin menghadirkan lagu-lagu yang memiliki kedekatan emosional dengannya, sekaligus memberikan interpretasi sesuai karakter musikalnya saat ini.

Lagu Tipe-X dan Flanella Belum Masuk EP Eksisten!

Di balik lima lagu yang akhirnya masuk dalam EP Eksisten!, Sigit masih memiliki sejumlah lagu yang ingin dibawakan ulang. Salah satunya adalah Satu Senyum Saja milik grup musik Tipe-X.

Ia mengungkapkan komunikasi mengenai lagu tersebut sempat dilakukan, tetapi rencana itu belum dapat direalisasikan karena sejumlah kendala. Selain Tipe-X, Sigit juga menyebut lagu-lagu Flanella sebagai karya yang ingin ia bawakan kembali.

Keinginan tersebut memperlihatkan bahwa pemilihan lagu remake tidak semata-mata didasarkan pada popularitas. Ada kenangan dan pengalaman personal yang membuat sebuah lagu terasa penting bagi seorang musisi.

Bagi Sigit, membawakan ulang lagu yang pernah memberi pengaruh dalam hidupnya merupakan cara untuk memberikan penghormatan kepada karya tersebut sekaligus memperkenalkannya kembali kepada pendengar.

Eksisten! Menjadi Penegasan Perjalanan Musik Sigit Wardana

Judul Eksisten! juga memiliki makna tersendiri bagi Sigit. Judul itu menjadi semacam afirmasi bahwa dirinya masih terus berkarya dan hadir di industri musik.

Setelah dikenal melalui Basejam, Sigit menjalani perjalanan bermusik dengan mengeksplorasi karya-karya solo. Melalui proyek ini, ia ingin menunjukkan bahwa perjalanan kreatif seorang musisi tidak berhenti pada satu fase atau identitas musik tertentu.

Eksisten! menjadi penanda bahwa ia masih memiliki cerita untuk disampaikan melalui lagu, baik lewat karya baru maupun interpretasi ulang terhadap lagu yang sudah lebih dulu dikenal.

Sigit Wardana Ingin Mengangkat Sisi Sederhana Kehidupan

Selain menghadirkan lagu remake, proyek solo Sigit juga menjadi ruang untuk bercerita tentang kehidupan pribadi. Pendekatan ini sebelumnya terlihat dalam album November, yang mengangkat cerita seputar keluarga dan pengalaman hidupnya.

Dalam Eksisten!, ia kembali tertarik menggambarkan sisi kehidupan yang dekat dengan keseharian. Menurut Sigit, ada anggapan bahwa kehidupan musisi yang dikenal publik selalu identik dengan kemewahan. Padahal, kehidupan di luar panggung juga diisi rutinitas sederhana.

“Gue pengen mengangkat kesederhanaan. Sederhana itu indah kok. Hidup sederhana itu indah,” tuturnya.

Sigit juga menceritakan kebiasaannya menggunakan transportasi umum dalam beberapa tahun terakhir. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari keseharian yang menurutnya menarik untuk diangkat dalam karya.

Baginya, cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi bahan untuk menciptakan musik yang terasa relevan bagi pendengar. Tidak semua lagu harus berkisah tentang sesuatu yang besar, karena pengalaman sederhana pun bisa memiliki makna.

Pendekatan itu sekaligus memperlihatkan sisi lain Sigit sebagai musisi solo. Jika perjalanan bersama band menjadi bagian penting dari kariernya, karya solo memberinya ruang untuk menyampaikan pengalaman dan sudut pandang yang lebih personal.

Showcase 10 Lagu, dari Basejam hingga Karier Solo

Peluncuran EP Eksisten! dikemas melalui intimate showcase di GLAMZ Antasari. Dalam acara tersebut, Sigit dijadwalkan membawakan 10 lagu yang merangkum perjalanan kariernya, mulai dari masa bersama Basejam hingga kiprahnya sebagai penyanyi solo.

Pertunjukan ini menjadi kesempatan bagi penonton untuk menelusuri berbagai fase perjalanan musik Sigit dalam satu panggung. Selain memperkenalkan materi dari EP terbaru, acara tersebut juga menghubungkan karya-karya solonya dengan perjalanan bermusik yang telah ia jalani sebelumnya.

Showcase itu turut menghadirkan Tsukuridanosu dan Alika Shafira sebagai penampil pendamping.

Kehadiran para penampil tersebut menambah warna dalam acara peluncuran, sekaligus menempatkan Eksisten! sebagai bagian dari pertemuan musisi dan pendengar dalam suasana yang lebih dekat.

Sigit Wardana Berencana Rilis Mini Album pada 2027

Setelah Eksisten!, Sigit juga membuka peluang untuk merilis sejumlah single dan mini album dengan tema berbeda pada 2027, jika proses pengerjaannya berjalan sesuai rencana.

Ia mengaku lebih menyukai format mini album karena proses produksinya relatif lebih cepat dan jumlah lagu yang lebih sedikit membuat pesan karya terasa lebih terfokus.

“Tapi mungkin juga di tahun depan kalau memang nggak ada halangan juga akan rilis mini album lagi dengan tema yang berbeda,” katanya.

Sigit menilai format tersebut memberi ruang bagi musisi untuk menyampaikan gagasan tanpa harus menunggu proses produksi album penuh yang lebih panjang.

“Gue lebih suka mini album ya, lebih cepat prosesnya, lebih dikit lagunya, lebih gampang nyampenya menurut gue ya. Lebih gampang nyampe ke teman-teman,” jelasnya.

Lewat Eksisten!, Sigit Wardana mempertemukan penghormatan terhadap lagu-lagu yang berpengaruh dalam hidupnya dengan cerita personal yang ingin ia sampaikan sebagai penyanyi solo.

Bagi Sigit, lagu lama bukan hanya kenangan, melainkan bagian dari perjalanan yang masih bisa menemukan makna baru ketika dinyanyikan kembali.