Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Dari Dermaga ke Ruang Kelas: 410 Prajurit TNI AL Menapaki Perubahan Strata

banner 120x600

Surabaya || Radarpost.id

Senin pagi (15/9/2025), semilir angin laut di Dermaga Semampir Koarmada II, Ujung Surabaya, menjadi saksi langkah baru ratusan prajurit TNI Angkatan Laut. Dengan seragam kebanggaan, mereka berdiri tegap menanti aba-aba. Di wajah-wajah itu tergambar harapan sekaligus tanggung jawab besar: resmi memulai pendidikan singkat menuju perubahan strata keprajuritan.

Sebanyak 410 prajurit terpilih mengikuti Pendidikan Pembentukan Perwira Singkat (Diktukpakat) TNI AL Angkatan ke-3 dan Pendidikan Pembentukan Bintara Singkat (Diktukbakat) TNI AL Tahun Anggaran 2025. Mereka bukan prajurit biasa—tetapi individu yang berhasil melewati seleksi ketat hingga tahap akhir, Pantukhir.

Dari Bintara ke Perwira, dari Tamtama ke Bintara

Wadan Kodiklatal, Laksma TNI Singgih Sugiarto, yang mewakili Dankodiklatal Letjen TNI Marinir Nur Alamsyah, secara resmi membuka pendidikan tersebut dengan penyematan tanda siswa. Dalam amanatnya, ia menekankan bahwa pencapaian ini bukan sekadar perubahan pangkat, tetapi juga kehormatan bagi keluarga dan jalan baru untuk mengabdi dengan tanggung jawab lebih besar.

“Hanya prajurit yang memenuhi syarat kesehatan, kesamaptaan jasmani, mental, dan ideologi yang layak melanjutkan pendidikan ini. Kalian adalah bagian dari yang terbaik,” ujarnya menegaskan.

Perubahan strata ini berarti mengemban beban lebih berat. Seorang Bintara yang naik menjadi Perwira tak hanya dituntut memimpin, tetapi juga menjadi teladan. Begitu pula Tamtama yang kini bertransformasi menjadi Bintara, diharapkan mampu menjadi penghubung yang tangguh antara prajurit pelaksana dan komando di atasnya.

Sebulan Ditempa, Seumur Hidup Mengabdi

Pendidikan ini diawali dengan Pendidikan Dasar Golongan selama satu bulan di Puslatdiksarmil. Di sanalah para siswa akan ditempa, tidak hanya fisik, tetapi juga jiwa kepemimpinan dan karakter Sapta Marga.

Latihan keras, disiplin ketat, dan dinamika kebersamaan akan menjadi menu harian mereka. Tujuannya jelas: melahirkan Perwira dan Bintara TNI AL yang tanggap, tranggon, dan trengginas—istilah klasik militer yang berarti cekatan, tangguh, dan gesit.

Di balik angka 410 itu, tersimpan kisah perjuangan pribadi: ada yang meninggalkan keluarga jauh, ada yang harus berlatih keras melampaui batas fisiknya, ada pula yang menahan rindu demi sebuah kehormatan.

Namun, satu hal menyatukan mereka: komitmen menjaga laut Nusantara. Karena bagi seorang prajurit TNI AL, lautan bukan sekadar wilayah tugas, tetapi juga medan bakti dan kehormatan bangsa.

Hari itu, di bawah langit Surabaya yang biru, sebuah babak baru dimulai. Bagi 410 prajurit, pendidikan singkat ini bukan akhir perjalanan, melainkan gerbang menuju pengabdian yang lebih besar—sebuah langkah kecil di dermaga yang akan mengantarkan mereka pada samudra luas pengabdian kepada Indonesia.