Depok || Radarpost.id
Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara signifikan, terutama di kalangan Generasi Z yang tumbuh bersama media sosial. Platform digital seperti Instagram tidak lagi sekadar menjadi ruang berbagi visual, tetapi juga menjadi arena utama penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa Universitas Pamulang, Muhamad Nugraha Zakyansyah, menilai bahwa dalam konteks komunikasi digital, Bahasa Indonesia mengalami transformasi yang cukup besar, baik dari segi bentuk, fungsi, maupun cara penggunaannya. Menurutnya, Generasi Z dikenal komunikatif, ekspresif, dan cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Dalam arus komunikasi digital, Bahasa Indonesia cenderung digunakan secara lebih ringkas, santai, dan kreatif. Singkatan, akronim, hingga istilah populer menjadi strategi komunikasi agar pesan tersampaikan secara cepat dan relevan,” ujarnya. Selasa (13/01/26).
Instagram menjadi salah satu platform yang berperan besar dalam membentuk gaya bahasa Generasi Z. Melalui fitur caption, komentar, hingga story, pengguna memiliki kebebasan berekspresi dengan bahasa yang tidak selalu terikat pada kaidah baku. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti kebutuhan sosial dan budaya penggunanya.
Di sisi lain, pengaruh globalisasi turut mewarnai penggunaan bahasa di kalangan Gen Z. Campur kode antara Bahasa Indonesia dan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, kerap digunakan untuk memberikan kesan modern dan universal. Namun, penggunaan bahasa asing secara berlebihan dinilai berpotensi mengaburkan identitas bahasa nasional apabila tidak disikapi secara bijak.
Kebiasaan menggunakan bahasa informal di media sosial juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang mengalami kesulitan membedakan konteks penggunaan bahasa, sehingga gaya bahasa media sosial terbawa ke dalam tulisan akademik, laporan resmi, maupun komunikasi formal lainnya.
“Hal ini menjadi perhatian penting dalam upaya menjaga kualitas penggunaan Bahasa Indonesia baku,” tambahnya.
Meski demikian, bahasa gaul dan bahasa baku pada dasarnya memiliki fungsi yang berbeda dan tidak saling meniadakan. Bahasa populer berperan membangun kedekatan sosial, sementara bahasa baku berfungsi menjaga ketepatan dan kejelasan dalam komunikasi formal. Kesadaran terhadap konteks penggunaan bahasa menjadi kunci utama agar keduanya dapat digunakan secara proporsional.
Menariknya, media sosial juga membuka peluang besar sebagai sarana literasi Bahasa Indonesia. Munculnya berbagai konten edukatif kebahasaan di Instagram menunjukkan bahwa media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar yang efektif. Penyajian materi bahasa dengan pendekatan visual dan ringan dinilai mampu menarik minat Generasi Z untuk belajar tanpa merasa terbebani.
Sebagai pengguna aktif sekaligus kreator konten, Generasi Z memiliki peran strategis dalam menentukan arah perkembangan Bahasa Indonesia. Setiap konten yang diproduksi berpotensi membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat luas. Oleh karena itu, tanggung jawab kebahasaan tidak hanya berada di tangan institusi formal, tetapi juga pada individu pengguna media sosial.
Institusi pendidikan pun dituntut untuk merespons fenomena ini secara kontekstual. Pembelajaran bahasa yang mengaitkan media sosial dengan kaidah kebahasaan dinilai dapat membantu peserta didik memahami perbedaan bahasa formal dan informal secara nyata. Dengan pendekatan tersebut, teknologi digital dapat menjadi mitra pendidikan, bukan ancaman.
Perkembangan teknologi dan media sosial merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Bahasa Indonesia akan terus berkembang seiring perubahan zaman. Tantangan utamanya bukan membatasi kreativitas berbahasa Generasi Z, melainkan menumbuhkan kesadaran akan penggunaan bahasa yang tepat sesuai konteks. Dengan literasi digital yang baik, Bahasa Indonesia diharapkan tetap eksis sebagai bahasa nasional yang modern, adaptif, dan berwibawa di era digital.













