Surabaya || Radarpost.id
Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap 2 Mei kembali menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan di Indonesia. Di tengah capaian peningkatan akses dan partisipasi pendidikan, muncul dorongan agar kualitas pendidikan lebih difokuskan pada pembentukan karakter dan keselamatan peserta didik.
Anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya, Sukma Sahadewa, menilai tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Menurutnya, pendidikan tidak lagi cukup dipahami sebagai proses belajar di ruang kelas, tetapi harus menjadi sistem yang membentuk manusia secara utuh, mencakup aspek intelektual, sosial, emosional, hingga kesadaran hukum.
“Pendidikan harus bergerak ke arah yang lebih transformatif, tidak hanya administratif. Sekolah perlu menjadi ruang pembentukan nilai, termasuk budaya keselamatan,” ujarnya.
Secara nasional, perkembangan pendidikan dinilai menunjukkan tren positif, mulai dari pemerataan akses hingga kemajuan digitalisasi pembelajaran. Namun di lapangan, masih ditemukan persoalan mendasar, terutama dalam pembentukan karakter siswa dan kesadaran akan keselamatan.
Salah satu fenomena yang menjadi perhatian di Surabaya adalah masih adanya pelajar tingkat SMP yang menggunakan sepeda motor ke sekolah. Praktik ini tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga mencerminkan lemahnya pengawasan serta rendahnya kesadaran hukum.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, setiap pengendara kendaraan bermotor wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), dengan batas usia minimal 17 tahun. Artinya, pelajar SMP secara hukum belum diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor secara mandiri.
Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan telah mengeluarkan larangan bagi siswa SMP untuk membawa kendaraan bermotor ke sekolah. Selain itu, kawasan sekolah juga ditetapkan sebagai zona tertib lalu lintas guna menjamin keamanan siswa.
Meski regulasi sudah jelas, implementasi di lapangan belum sepenuhnya efektif. Masih ditemukannya pelanggaran menunjukkan bahwa pendekatan berbasis aturan saja belum cukup tanpa dibarengi dengan pembentukan kesadaran sejak dini.
Sukma menekankan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan karakter. Ia menyebut, banyak kasus pelajar membawa kendaraan bermotor terjadi karena adanya izin atau kurangnya pengawasan dari orang tua.
Di sisi lain, sekolah diharapkan mampu mengintegrasikan pendidikan karakter dalam aktivitas sehari-hari, termasuk melalui pengawasan ketat serta pembiasaan disiplin. Pemerintah daerah juga didorong untuk memperkuat program edukasi keselamatan melalui kolaborasi dengan aparat kepolisian.
Sejumlah sekolah di Surabaya kini mulai mengambil langkah konkret, seperti pembatasan kendaraan siswa dan peningkatan pengawasan. Upaya ini turut didukung kerja sama dengan kepolisian guna membangun budaya tertib berlalu lintas sejak usia dini.
Momentum Hardiknas 2026 juga menghidupkan kembali pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai upaya menuntun anak menuju keselamatan dan kebahagiaan. Dalam konteks kekinian, nilai tersebut dinilai semakin relevan di tengah tantangan sosial yang berkembang.
Dengan kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat, Surabaya dinilai memiliki potensi menjadi model kota pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam membangun budaya disiplin dan keselamatan.
Hardiknas tahun ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi titik tolak perubahan nyata menuju pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga melindungi generasi bangsa.













