Jakarta|| Radarpost.id
Di tengah derasnya arus informasi digital, Generasi Z (Gen Z) dituntut semakin kritis dalam menyaring informasi yang mereka konsumsi setiap hari. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Mercu Buana melalui platform komunitas Specta UMB menggelar talkshow “GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled?” di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Sabtu (4/7/2026).
Mengangkat isu literasi digital dan pengaruh algoritma media sosial, kegiatan ini mengajak peserta merefleksikan apakah mereka benar-benar mengendalikan teknologi atau justru dikendalikan oleh algoritma yang membentuk pola pikir, opini, hingga pengambilan keputusan.
Acara menghadirkan komika Pandji Pragiwaksono, rapper sekaligus penulis lagu JFlow, serta pendiri Distrik Berisik dan Sekolah Tanah Air Rian Fahardhi. Diskusi juga diperkuat oleh akademisi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, yakni Dr. Farid Hamid, M.Si., Dya Toretta, S.I.Kom., M.I.Kom., dan Gadis Octory, S.I.Kom., M.I.Kom. Selain itu, acara turut dimeriahkan dengan penampilan tari Moluccan Soul.
Ketua Pelaksana GEN Z SPEAKS, Afris Sara Frelilyan, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seminar, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami dampak dunia digital terhadap kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin menghadirkan ruang refleksi, tempat generasi muda, khususnya Gen Z, bisa duduk, berpikir, dan jujur pada diri sendiri. Acara ini merupakan implementasi mata kuliah Event Management Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, sehingga tidak hanya menjadi sarana belajar bagi peserta, tetapi juga menjadi pengalaman nyata bagi seluruh panitia dalam mengelola sebuah acara,” ujarnya.
Menurut Afris, tema “Aware or Controlled?” dipilih karena algoritma media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang menerima informasi. Karena itu, peserta didorong untuk lebih kritis dengan selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
“Media digital bergerak sangat cepat. Karena itu Gen Z harus mampu memfilter informasi, mencari fakta terlebih dahulu, dan tidak mudah terbawa arus. Kami berharap forum diskusi ini membuat mereka semakin kritis,” katanya.
Ia menambahkan, Gen Z memiliki potensi besar untuk menciptakan perubahan positif apabila mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
“Gen Z sebenarnya keren. Mereka punya kreativitas luar biasa. Tinggal bagaimana mereka bisa membawa dampak yang lebih luas dan positif melalui apa yang mereka ciptakan,” tambahnya.
Rian Fahardhi hingga Dosen Mercu Buana Bahas Pengaruh Algoritma
Sesi diskusi menghadirkan Rian Fahardhi bersama dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, Dya Toretta, S.I.Kom., M.I.Kom. dan Gadis Octory, S.I.Kom., M.I.Kom. Ketiganya membahas bagaimana algoritma media sosial memengaruhi pola pikir, opini, hingga cara generasi muda mengambil keputusan.
Rian menilai algoritma kini mampu mengenali hampir seluruh kebiasaan pengguna media sosial, mulai dari konten yang disukai, emosi yang muncul saat melihat sebuah unggahan, hingga kecenderungan membeli suatu produk.
“Hari ini algoritma tahu segalanya tentang kita. Apa yang kita suka, apa yang membuat kita marah, bahkan apa yang ingin kita beli. Kalau kita tidak kritis, kita hanya menjadi penonton yang disetir,” kata Rian.
Menurutnya, Gen Z harus memahami cara kerja teknologi agar tetap menjadi pihak yang mengendalikan media sosial, bukan sebaliknya.
“Gen Z punya potensi besar. Mereka harus sadar kapan memanfaatkan teknologi dan kapan justru dimanfaatkan oleh teknologi. Yang harus memegang kendali adalah kita, bukan layar gawai,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dya Toretta dan Gadis Octory memberikan perspektif akademis mengenai pentingnya literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta kecakapan memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun membagikannya di media sosial. Kolaborasi antara praktisi dan akademisi tersebut diharapkan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan dunia digital.
Dr. Farid Hamid: Literasi Digital Menjadi Kebutuhan
Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, Dr. Farid Hamid, M.Si., mengapresiasi penyelenggaraan GEN Z SPEAKS karena mengangkat isu yang dinilai sangat relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.
Menurutnya, masyarakat perlu mulai mempertanyakan apakah mereka benar-benar memiliki kendali atas informasi yang dikonsumsi atau justru diarahkan oleh algoritma media sosial.
“Ada dua pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama. Apakah kita memiliki kendali terhadap apa yang kita lihat di media sosial, atau justru kita yang dikendalikan oleh algoritma itu sendiri?” ujarnya.
Farid menegaskan kegiatan seperti GEN Z SPEAKS memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi digital masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sangat penting karena memberikan literasi digital kepada kita semua. Pemahaman terhadap perubahan dunia digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
“Semua hal pasti berubah. Hanya satu yang tidak berubah, yaitu perubahan itu sendiri,” ucapnya sebelum secara resmi membuka rangkaian acara.
Diharapkan Menjadi Agenda Berkelanjutan
Melalui forum diskusi yang berlangsung interaktif, peserta diberi kesempatan berdialog langsung dengan para narasumber mengenai dampak algoritma, budaya digital, hingga pentingnya berpikir kritis di tengah banjir informasi.
Afris berharap GEN Z SPEAKS tidak berhenti sebagai acara perdana dan dapat terus berkembang menjadi ruang diskusi yang relevan bagi generasi muda.
“Kami berharap setelah acara ini selesai, kita semua mendapatkan perspektif baru. Mari menjadi generasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga cermat; tidak sekadar mengikuti tren, melainkan berani menciptakan hal-hal baru. Kita juga tidak hanya hadir di ruang digital, tetapi turut membentuknya menjadi ruang yang lebih baik.
Karena masa depan bukan milik mereka yang paling keras bersuara, melainkan mereka yang paling tangguh dalam berpikir,” tutupnya.













