Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Pergerakan Sarinah Perkuat Perlindungan Anak Lewat Edukasi Digital Parenting dan Pojok Konseling Kesehatan Mental

banner 120x600

JAKARTA || Radarpost.id

Perlindungan anak pada era digital tidak lagi hanya berfokus pada aspek keamanan fisik. Tantangan perkembangan teknologi, kesehatan mental, hingga pola pengasuhan yang adaptif menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya memastikan setiap anak Indonesia dapat tumbuh, berkembang, dan memperoleh hak-haknya secara optimal.

Berangkat dari semangat tersebut, Pergerakan Sarinah menggelar rangkaian kegiatan dalam menyambut Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Berbagai program edukasi, advokasi, dan kolaborasi lintas sektor disiapkan untuk memperkuat perlindungan hak anak, meningkatkan literasi digital parenting, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental anak.

Salah satu program utama yang dihadirkan adalah Video Advokasi Perlindungan Hak Anak dan Digital Parenting. Produksi video edukatif ini melibatkan berbagai tokoh dari unsur organisasi masyarakat, lembaga negara, akademisi, pemerintah, hingga legislatif sebagai bentuk sinergi dalam membangun ekosistem perlindungan anak yang lebih komprehensif.

Sejumlah narasumber yang terlibat antara lain Wahyuni Refi, S.H., M.H. dari Pergerakan Sarinah, Aris Adhi Leksono dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Any Rufaedah dari Laboratorium Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Camat Jatinegara Endang Kartika W., S.K.M., M.M., serta Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Hj. Happy Farida Djarot.

Kolaborasi tersebut menjadi pesan kuat bahwa perlindungan anak bukan semata tanggung jawab keluarga. Pemerintah, lembaga negara, institusi pendidikan, tenaga profesional, organisasi masyarakat, hingga seluruh elemen masyarakat memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan ramah anak.

Melalui video advokasi tersebut, Pergerakan Sarinah menekankan pentingnya pemenuhan hak-hak anak sekaligus penguatan pola asuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Orang tua didorong tidak hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga aktif mendampingi anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara aman, cerdas, bijaksana, dan bertanggung jawab.

Pendampingan digital yang efektif juga harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan dasar anak, mulai dari kesempatan belajar, bermain, berolahraga, berinteraksi bersama keluarga, bersosialisasi dengan lingkungan, hingga memperoleh waktu istirahat yang cukup sebagai bagian dari tumbuh kembang yang sehat.

Komitmen tersebut kemudian diwujudkan dalam puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 yang berlangsung di Rasuna Epicentrum, Jakarta, pada Minggu (19/7/2026).

Pada kesempatan itu, Pergerakan Sarinah menghadirkan Pojok Konseling bekerja sama dengan Tim Laboratorium Psikologi UNUSIA Jakarta. Layanan ini menjadi ruang aman bagi anak maupun keluarga untuk berkonsultasi, berbagi pengalaman, memperoleh edukasi, serta mendapatkan pendampingan mengenai kesehatan mental.

Keberadaan Pojok Konseling diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap layanan psikologis sekaligus mengurangi stigma terhadap isu kesehatan mental yang masih kerap dianggap tabu.

Sekretaris Jenderal Pergerakan Sarinah, Tika Dian Pangastuti, S.S., M.M., menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan fondasi penting dalam proses tumbuh kembang anak.

“Anak-anak membutuhkan ruang yang aman untuk didengar, dipahami, dan didampingi. Kesehatan mental merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak. Karena itu, meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental anak harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Tika.

Menurutnya, perlindungan anak harus menjadi gerakan berkelanjutan yang tidak berhenti pada momentum peringatan tahunan semata.

“Kami ingin memastikan bahwa isu perlindungan anak tidak berhenti pada pernyataan atau peringatan seremonial. Karena itu, kami mendorong edukasi melalui video advokasi, penguatan pemahaman tentang digital parenting, serta penyediaan ruang konseling yang dapat membantu meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental anak,” katanya.

Tika juga menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh perhatian, perlindungan, dan kesempatan untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan tanpa rasa takut.

“Setiap anak berhak mendapatkan dukungan, perhatian, dan ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan. Anak yang didengar dan didampingi akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk tumbuh secara sehat, percaya diri, dan berdaya,” tuturnya.

Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Rasuna Epicentrum turut dimeriahkan dengan beragam kegiatan edukatif dan rekreatif yang melibatkan anak bersama keluarga. Rangkaian acara meliputi senam bersama, dialog interaktif, fun walk, pertunjukan seni, diskusi bersama para pemangku kepentingan, deklarasi komitmen perlindungan anak, pembagian buku, hingga kegiatan nonton film edukatif.

Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memperkuat keterlibatan keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Pergerakan Sarinah menilai bahwa tantangan perlindungan anak pada masa kini semakin kompleks. Selain perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi, anak juga membutuhkan dukungan emosional, literasi digital yang memadai, serta pendampingan dalam menghadapi dinamika perkembangan teknologi.

Karena itu, kolaborasi berkelanjutan antara organisasi masyarakat, pemerintah, lembaga negara, akademisi, psikolog, dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat luas menjadi kunci dalam membangun sistem perlindungan anak yang lebih kuat dan berkesinambungan.

“Peringatan Hari Anak Nasional bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang mengingat kembali tanggung jawab kita terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Anak yang terlindungi adalah anak yang mendapatkan perhatian terhadap kesehatan mentalnya, mendapatkan pendampingan dalam menggunakan teknologi, dan memiliki ruang untuk tumbuh serta didengar,” tegas Tika.

Melalui rangkaian advokasi, edukasi, dan kolaborasi tersebut, Pergerakan Sarinah kembali menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan perlindungan hak anak, memperluas edukasi digital parenting, meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, serta memperkuat sinergi lintas sektor demi terwujudnya ekosistem yang aman, inklusif, sehat, dan ramah anak menuju generasi Indonesia yang tangguh, berkarakter, serta berdaya saing di masa depan.