Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Doa Menag Nasaruddin Umar untuk Ellyas Pical dan Para Penerima Rumah Cahaya

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar.(Dok Menag).

Jakarta|| Radarpost.id

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan doa khusus saat menghadiri penyerahan 30 Sertifikat Hak Milik (SHM) Rumah Cahaya kepada sejumlah sosok yang dinilai berjasa bagi bangsa. Di antara penerima rumah gratis tersebut terdapat mantan petinju nasional Ellyas Pical dan legenda sepak bola Indonesia Rully Rudolf Nere.

Penyerahan Rumah Cahaya berlangsung di Serang, Banten, Senin (31/8/2026). Program ini diinisiasi Yayasan Pahlawan Harapan Sejahtera Indonesia Emas (PHSI Foundation) bekerja sama dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).

Bukan sekadar menyerahkan rumah, momen tersebut menjadi kesempatan bagi Menag Nasaruddin Umar untuk mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap mereka yang pernah mengabdikan tenaga dan kemampuannya untuk Indonesia.

Dalam doanya, Menag menyebut para penerima Rumah Cahaya sebagai sosok yang telah memberikan kontribusi bagi bangsa, namun belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dalam perjalanan hidup mereka.

“Engkau mempertemukan para pahlawan yang banyak terlupakan dengan inisiator dan donatur,” ujar Menag saat membacakan doa, Senin (31/8/2026).

Rumah Cahaya untuk Para Pahlawan yang Terlupakan

Sebanyak 30 rumah diberikan secara gratis melalui program Rumah Cahaya. Hunian tersebut berada di Serang, Banten, dan dibangun dua lantai serta dilengkapi Sertifikat Hak Milik (SHM).

Program ini menyasar sejumlah sosok yang dinilai telah berjasa bagi bangsa dan negara, termasuk veteran, mantan atlet, serta figur lainnya yang membutuhkan hunian layak.

Nama Ellyas Pical menjadi salah satu yang menarik perhatian. Mantan petinju nasional tersebut merupakan salah satu legenda olahraga Indonesia.

Selain Ellyas Pical, terdapat pula Rully Rudolf Nere, legenda sepak bola Indonesia yang dikenal sebagai salah satu pemain penting Persipura Jayapura pada era 1980-an.

Bagi para penerima, rumah tersebut bukan hanya tempat tinggal. Kepemilikan rumah yang disertai SHM juga memberikan kepastian hukum sekaligus rasa aman untuk menjalani kehidupan ke depan.

Menag: Kemerdekaan Harus Dirasakan Semua Warga

Dalam kesempatan tersebut, Menag Nasaruddin Umar menilai program Rumah Cahaya menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Menurutnya, kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat menjadi jalan untuk membantu warga yang membutuhkan perhatian.

“Lapangkanlah dada kami untuk senantiasa prihatin terhadap nasib-nasib warga kami yang membutuhkan perhatian dan pertolongan,” kata Menag dalam doanya.

Ia juga mendoakan masyarakat yang memiliki kelebihan agar tergerak untuk berbagi dengan sesama.

Menag berharap kepedulian tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan kemerdekaan yang lebih substantif. Menurutnya, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga kesempatan bagi setiap warga untuk menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat.

“Sentuhlah hati mereka, mereka-mereka yang mempunyai kelebihan untuk berbagi dengan saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air, untuk ikut juga merasakan kemerdekaan sejati dari bangsanya,” tuturnya.

Rumah Cahaya Bukan Sekadar Bantuan

Founder & Chairwoman PHSI Foundation Sofia Koswara mengatakan Rumah Cahaya sejak awal tidak dirancang sebagai program yang menempatkan penerima dalam posisi sebagai objek belas kasihan.

Menurut Sofia, rumah diberikan sebagai bentuk penghormatan terhadap harkat dan martabat para penerima.

“Rumah Cahaya lahir dari keyakinan sederhana, kebaikan harus menjadi terang yang terlihat, dirasakan, dan menerangi kehidupan orang lain. Karena itu, kami tidak datang membawa belas kasihan, melainkan penghormatan untuk harkat dan martabat,” kata Sofia.

Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui hunian layak yang tidak hanya memberikan tempat tinggal, tetapi juga kepastian kepemilikan melalui sertifikat hak milik.

Dengan demikian, Rumah Cahaya diharapkan menjadi simbol penghargaan kepada para penerima yang pernah memberikan kontribusi bagi Indonesia.

Hashim Djojohadikusumo Soroti Hunian Layak

Ketua Dewan Pembina Yayasan PHSI sekaligus Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, turut menyoroti pentingnya penyediaan hunian layak bagi masyarakat.

Ia menyebut masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki rumah yang memadai. Kondisi tersebut juga dialami oleh sejumlah sosok yang pernah berjasa bagi bangsa dan negara.

Program Rumah Cahaya menjadi salah satu upaya menghadirkan hunian layak bagi kelompok tersebut.

Di balik bangunan rumah dua lantai yang diberikan secara gratis, terdapat pesan mengenai penghargaan terhadap perjalanan hidup para penerimanya.

Doa Menag untuk Kehidupan Para Penerima

Menag Nasaruddin Umar dalam doanya tidak hanya memohon kelancaran program, tetapi juga mendoakan agar Rumah Cahaya benar-benar membawa kebahagiaan bagi para penerimanya.

Ia berharap para penerima dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang setelah memiliki hunian yang layak.

“Semoga rumah itu betul-betul memberikan kebahagiaan untuk menyelesaikan hidupnya dengan tenang dan dengan baik,” ucap Menag.

Menag juga mendoakan pihak-pihak yang terlibat dalam program tersebut agar diberikan kemudahan dalam menjalankan usaha dan terus memiliki kepedulian terhadap sesama.

Menurutnya, pertemuan antara para penerima Rumah Cahaya dengan para donatur merupakan contoh bahwa masih ada ruang bagi pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk bergandengan tangan.

Ia pun mengungkapkan rasa bahagianya melihat para penerima mendapatkan perhatian dari sesama anak bangsa.

“Sungguh kami bahagia pada hari ini, karena kami bisa menyaksikan sebagian daripada hamba-Mu tersenyum dengan begitu tulus menerima sentuhan-sentuhan dari saudara-saudaranya yang lain,” tutur Menag.

Bagi Menag, Rumah Cahaya akhirnya bukan hanya tentang 30 rumah di Serang. Program tersebut menjadi pengingat agar jasa orang-orang yang pernah mengharumkan nama Indonesia tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Ada penghormatan yang dikembalikan, ada kehidupan yang ingin dibuat lebih layak, dan ada pesan bahwa para pahlawan yang pernah berjuang untuk bangsa tidak seharusnya dilupakan begitu saja.