Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Jejak Titus K. Kurniadi di Balik Perjalanan Bulutangkis Indonesia

Tokoh yang dikenal memiliki kecintaan panjang terhadap bulutangkis itu meninggal dunia pada Senin (31/8/2026) pukul 10.52 WIB di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, dalam usia 89 tahun.(Rr)

Jakarta || Radarpost.id

Kabar duka membuat keluarga besar Drs. Titus K. Kurniadi. Tokoh yang dikenal memiliki kecintaan panjang terhadap bulutangkis itu meninggal dunia pada Senin (31/8/2026) pukul 10.52 WIB di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, dalam usia 89 tahun.

Kepergian Titus bukan hanya meninggalkan keluarga. Bagi sang putra, Stephanus L. Kurniadi, ayah juga meninggalkan cerita tentang bagaimana kecintaan terhadap olahraga dapat diwujudkan melalui organisasi dan perjuangan, meskipun dirinya bukan seorang atlet.

“Bapak Titus Kurniadi meninggalnya Senin, 31 Agustus, jam 10.52 pagi. Mungkin salah satu faktor usia, yang kedua memang ada bakteri di paru-parunya. Jadi ya, sudah 89 juga,” ujar Stephanus.

Jenazah Titus K. Kurniadi disemayamkan di Rumah Duka Ukrida, Lantai 5, Ruang Agape 2. Rangkaian ibadah penghiburan berlangsung Selasa (1/9/2026) pukul 18.00 WIB.

Selanjutnya, ibadah pelepasan dan penutupan peti Jumat digelar (4/9/2026) pukul 09.00 WIB. Jenazah kemudian diberangkatkan pukul 10.00 WIB untuk dimakamkan di San Diego Hills.

Bukan Atlet, tetapi Berjuang Lewat Organisasi

Semasa hidup, Titus K. Kurniadi memiliki kedekatan dengan dunia bulutangkis. Namun, kecintaannya terhadap olahraga tersebut tidak diwujudkan dengan menjadi atlet profesional.

Stephanus mengatakan ayahnya memilih jalur organisasi untuk memberikan sumbangsih bagi perkembangan bulutangkis Indonesia.

“Dia memang suka bulutangkis dari dulu, tapi dia bukan atlet. Walaupun dia bisa main, terus dia menyumbang buat bulutangkis, tapi bukan dengan cara bermain. Dengan organisasinya, dengan memperjuangkan bulutangkis masuk Olimpiade,” kata Stephanus.

Titus diketahui pernah aktif di Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Menurut penuturan Stephanus, ayahnya pernah menjadi bendahara PBSI sebelum kemudian dipercaya menangani bidang luar negeri.

Dari kiprah organisasi tersebut, Titus juga terlibat dalam lingkungan federasi bulutangkis internasional dan turut memperjuangkan agar bulutangkis mendapat tempat di Olimpiade.

Bagi keluarga, perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari warisan pemikiran Titus: memberikan kontribusi tidak selalu harus dilakukan dengan menjadi orang yang tampil di lapangan.

Kisah di Balik Piala Sudirman

Salah satu cerita yang dikenang Stephanus adalah keterlibatan ayahnya dalam gagasan yang kemudian berkaitan dengan Piala Sudirman, turnamen bulutangkis beregu campuran yang mempertemukan sektor putra dan putri.

Menurut Stephanus, ayahnya memiliki hubungan pertemanan dengan Sudirman, tokoh yang pernah memimpin PBSI. Dari hubungan tersebut kemudian muncul gagasan mengenai turnamen yang menggunakan nama Sudirman.

“Kalau ada namanya Piala Sudirman, Papi juga sebetulnya yang bikin. Piala Sudirman itu karena teman dulu Ketua PBSI, namanya Pak Sudirman. Temannya Papi juga,” tutur Stephanus.

Namun, Stephanus menekankan bahwa gagasan tersebut tidak lahir dari satu orang saja. Ada sejumlah tokoh yang ikut terlibat dalam perjalanan dan perkembangan bulutangkis Indonesia pada masa itu.

Pelajaran yang Ditinggalkan untuk Keluarga

Bagi Stephanus, perjalanan hidup sang ayah memberikan satu pelajaran yang terus diingat hingga kini. Menurut dia, seseorang tidak harus menjadi atlet atau berada di garis depan untuk memberikan sesuatu bagi negara.

“Kalau suka sesuatu, menyumbangkan sesuatu kan tidak harus pemain menjadi buat negara, tapi bisa dengan cara lain. Saya pikir itu bisa saya ambil pelajaran untuk anak-anaknya,” ujar Stephanus.

Kecintaan Titus terhadap bulutangkis juga sedikit menurun kepada anaknya. Dari empat anak, Stephanus menjadi satu-satunya yang sempat mengikuti olahraga tersebut, meski tidak melanjutkan menjadi atlet profesional.

“Dari empat anak, cuma saya sendiri. Tapi saya bukan atlet, cuma bisa main aja dulu,” katanya.

Perjalanan Titus K. Kurniadi ternyata tidak hanya berkaitan dengan olahraga. Stephanus menuturkan, sang ayah juga memiliki latar belakang dan perjalanan panjang di bidang farmasi.

Salah satu kiprahnya yang dikenang keluarga adalah keterlibatan dalam membawa merek Sika ke Indonesia. Produk tersebut dikenal sebagai bahan kimia yang antara lain digunakan dalam kebutuhan konstruksi.

“Kalau tahu ada merek namanya Sika, itu dulu Papi yang bawa ke Indonesia,” ungkap Stephanus.

Menurut dia, pada masa awal, produk tersebut tidak digunakan seperti pemakaian komersial yang dikenal masyarakat saat ini. Produk tersebut lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konstruksi, termasuk dalam pembangunan jalan tol dan jembatan.

Perjalanan di dunia farmasi dan aktivitas di bulutangkis pun disebut berjalan beriringan dalam kehidupan Titus.

Kini, keluarga tengah mempersiapkan proses terakhir untuk mengantarkan Titus K. Kurniadi.

Setelah penghiburan ibadah pada Selasa malam, keluarga akan menggelar ibadah pelepasan dan tutup peti pada Jumat pagi. Jenazah kemudian diberangkatkan menuju San Diego Hills untuk dimakamkan.

Sejumlah tokoh dan legenda bulutangkis juga disebut memberikan perhatian atas kepergian Titus.

Bagi Stephanus dan keluarga, kesedihan Titus bukan sekedar kehilangan seorang ayah. Ia juga meninggalkan cerita tentang kecintaan pada sesuatu yang diwujudkan melalui kerja, organisasi, dan kontribusi untuk kepentingan yang lebih luas.

“Menyumbangkan sesuatu tidak harus menjadi pemain buat negara, tapi bisa dengan cara lain.”