Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login
Berita  

Garuda Calling Timnas Indonesia: 24 Pemain Potensial Dipanggil JH

Radarpost.id | JAKARTA — Sepekan menjelang 24 September, para pemain Timnas Indonesia dari berbagai klub mulai merapat ke Jakarta.

Mereka diproyeksikan memenuhi panggilan pelatih John Herdman (JH) untuk menghadapi FIFA ASEAN Cup 2026.

Turnamen tersebut akan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno mulai 25 September mendatang.

Dengan materi pemain yang tersebar di Eropa, Amerika Serikat, Australia, hingga Liga Indonesia, Garuda memiliki banyak pilihan.

Berikut 23 pemain yang layak masuk daftar Garuda Calling berdasarkan performa dan kebutuhan tim.

1. Jay Idzes — Sassuolo

Jay Idzes menjadi salah satu bek paling penting dalam skuad Indonesia setelah mengukir sejarah bersama Venezia.

Kini, pengalaman bermain di Serie A bersama Sassuolo membuat kualitasnya semakin layak diperhitungkan.

2. Kevin Diks — Borussia Mönchengladbach

Kevin Diks melanjutkan karier di Bundesliga bersama Borussia Mönchengladbach setelah meninggalkan FC Copenhagen.

Pengalaman dan fleksibilitas posisinya menjadi modal penting bagi lini belakang Indonesia.

3. Calvin Verdonk — LOSC Lille

Calvin Verdonk kini bermain di Ligue 1 bersama LOSC Lille setelah sebelumnya memperkuat NEC Nijmegen.

Kehadirannya memberi opsi agresif dari sisi kiri sekaligus pengalaman menghadapi kompetisi level tinggi Eropa.

4. Mees Hilgers — Heerenveen

Mees Hilgers tetap menjadi salah satu opsi penting untuk memperkuat pertahanan Indonesia.

Pengalamannya di Eredivisie membuatnya terbiasa menghadapi pemain dengan tempo dan intensitas tinggi.

5. Justin Hubner dan Ole Romeny — Fortuna Sittard

Justin Hubner dan Ole Romeny kini sama-sama memperkuat Fortuna Sittard.

Keduanya dapat memberikan warna berbeda, terutama dalam duel fisik dan permainan transisi.

6. Dean James — Go Ahead Eagles

Dean James memiliki fleksibilitas sebagai bek kiri maupun wing-back.

Menit bermain reguler di Eredivisie menjadi alasan kuat untuk memasukkannya dalam daftar Garuda Calling.

7. Nathan Tjoe-A-On — Willem II

Nathan Tjoe-A-On kembali berkiprah di Eredivisie bersama Willem II.

Kemampuan bermain di beberapa posisi membuat Nathan menjadi pemain yang cukup berguna dalam skema fleksibel.

8. Elkan Baggott — Millwall

Elkan Baggott melanjutkan kariernya di Inggris bersama Millwall yang bermain di EFL Championship.

Postur dan pengalaman sepak bola Inggris membuat Baggott tetap menjadi opsi menarik bagi lini pertahanan.

9. Joey Pelupessy — Lommel SK

Joey Pelupessy kini bermain untuk Lommel SK di Belgia.

Gelandang bertipe box-to-box itu juga memiliki pengalaman memperkuat Sheffield Wednesday selama beberapa musim.

10. Mitchell Baker — Amerika Serikat

Mitchell Baker menjadi nama menarik dari sepak bola Amerika Serikat.

Ia bermain untuk Georgetown Hoyas serta Vermont Green FC di kompetisi USL League Two.

Baker juga terpilih Colorado Rapids melalui MLS SuperDraft dan diproyeksikan bergabung menjelang akhir tahun.

11. Maarten Paes — Ajax

Untuk posisi penjaga gawang, Maarten Paes menjadi opsi dengan pengalaman yang sulit diabaikan.

Kualitas dan pengalamannya membuat posisi kiper Indonesia memiliki persaingan yang semakin menarik.

Pemain Liga Indonesia Ikut Mengancam Posisi

Tidak semua tempat harus diberikan kepada pemain yang merumput di luar negeri.

Liga Indonesia juga memiliki sejumlah pemain yang layak mendapatkan kesempatan.

12. Luke Vickery — Macarthur FC

Winger berusia 20 tahun tersebut bermain untuk Macarthur FC di Liga Australia.

Vickery memiliki garis keturunan Indonesia dari sang ibu dan bisa menjadi opsi baru di sektor sayap.

13. Thom Haye — Persib Bandung

Thom Haye tetap menjadi salah satu gelandang berpengalaman yang bisa diandalkan.

Ia baru menyelesaikan satu tahun bersama Persib Bandung sekaligus merasakan atmosfer juara bersama klub tersebut.

Julukan The Professor tentu bukan sekadar tempelan jika kemampuan membaca permainan tetap konsisten.

14. Shayne Pattynama

Shayne Pattynama tampil impresif dan menjadi salah satu pilihan utama John Herdman pada AFF Hyundai Cup 2026.

Kemampuannya menyisir sisi kiri membuatnya tetap relevan dalam persaingan skuad.

15. Sandy Walsh — Persib Bandung

Sandy Walsh juga pantas kembali masuk daftar.

Penampilannya bersama Indonesia di AFF 2026 serta pengalamannya di level Eropa membuatnya memiliki nilai lebih.

Kini, ia membawa pengalaman tersebut ke Persib Bandung.

16. Ricky Kambuaya — Dewa United

Untuk pemain lokal, Ricky Kambuaya layak mendapatkan kesempatan.

Gelandang Dewa United tersebut memiliki karakter agresif dan kemampuan membawa bola yang dapat membantu permainan transisi.

17. Rizky Ridho

Rizky Ridho tetap menjadi pilihan meski beberapa kali melakukan kesalahan yang membuat pendukung mengelus dada.

Namun, sepak bola memang bukan ruang untuk mencari manusia tanpa salah.

Pengalaman, kemampuan duel, dan statusnya sebagai salah satu pemimpin skuad tetap membuat Ridho layak dipertimbangkan.

18. Ivar Jenner — Dewa United

Ivar Jenner memiliki pengalaman pendidikan sepak bola Utrecht sebelum melanjutkan karier bersama Dewa United.

Usianya masih relatif muda, tetapi pengalaman tersebut membuatnya memiliki modal taktik yang menarik.

19. Rizky Eka — PSM Makassar

Rizky Eka dapat menjadi opsi di sektor kiri.

Kemampuannya bermain sebagai gelandang maupun winger memberikan variasi tambahan bagi lini serang Indonesia.

20. Egy Maulana Vikri — Dewa United

Egy Maulana Vikri masih layak masuk persaingan.

Kecepatan, kemampuan membawa bola, serta pengalamannya bermain di Eropa membuat Egy memiliki karakter berbeda.

21. Ragnar Oratmangoen

Ragnar juga tidak seharusnya dilupakan.

Kemampuan bergerak di antara lini membuatnya dapat menjadi senjata ketika Indonesia membutuhkan kreativitas.

22. Rafael Struick — Dewa United

Rafael Struick mulai menunjukkan kemampuannya bersama Dewa United.

Jika performanya terus meningkat, striker tersebut layak mendapatkan kesempatan kembali bersama Garuda.

23. Teja Paku Alam — Persib Bandung

Untuk posisi kiper, Teja Paku Alam pantas mendapatkan kesempatan.

Ia tampil dominan bersama Persib dalam dua kompetisi terakhir dan turut membantu klub meraih gelar secara beruntun.

Mengapa bukan kiper lain?

Sederhana. Persaingan harus berdasarkan performa, bukan sekadar nama besar.

Kalau Skuadnya Sebagus Ini, Targetnya Harus Juara

Dengan komposisi pemain seperti itu, Indonesia memiliki alasan kuat memasang target tinggi di FIFA ASEAN Cup 2026.

Targetnya bukan sekadar tampil bagus.

Bukan pula sekadar bermain dengan filosofi indah.

Target paling sederhana adalah membawa pulang trofi.

Pengamat sepak bola, Syaiful Amri, menilai kegagalan meraih gelar dengan materi pemain tersebut akan menjadi persoalan serius bagi John Herdman.

Menurutnya, pelatih tim nasional senior harus dinilai berdasarkan pencapaian, bukan panjangnya narasi.

“Kalau dengan materi seperti ini Herdman tidak mampu membawa trofi, menurut saya layak dievaluasi serius, bahkan bisa berujung pemecatan.”

Syaiful menilai pemecatan pelatih merupakan hal biasa dalam sepak bola ketika target utama tidak tercapai.

Menurutnya, kursi pelatih tim nasional bukan tempat untuk mengumpulkan alasan setelah pertandingan.

“Pelatih timnas senior itu yang dicari achievement dan pencapaian tertinggi. Bukan jualan narasi atau lips service soal masa depan.”

Ia bahkan menyindir narasi besar tanpa prestasi sebagai sesuatu yang sudah tidak relevan.

“Mau ke Piala Dunia, mau membangun fondasi, semua itu bagus. Tapi kalau trofi yang ada di depan mata saja tidak bisa diambil, narasi itu bisa basi.”

Bagi Syaiful, sepak bola akhirnya kembali kepada satu ukuran paling sederhana.

Menang, juara, dan membawa pulang trofi.

Sebab, sebanyak apa pun pemain Eropa yang dipanggil, sebagus apa pun CV mereka, lapangan tetap tidak mengenal kata “hampir”.

Dan kalau materi sudah mewah tetapi trofi tetap tidak datang, jangan-jangan masalahnya bukan lagi di pemain.**