Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login
Berita  

Operasi SAR Selat Sunda-Enggano Resmi Dihentikan, Dayung Serunting IMO-Indonesia Lanjutkan Monitoring

Radarpost.id | ENGGANO | XYZ.com — Partisipasi Dayung Serunting mencari jejak lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu I yang hilang di Selat Sunda belum berakhir, meski operasi Search And Rescue (SAR) gabungan terhadap para survivor telah dihentikan sejak Kamis sore, 17 September 2026.

Organisasi sayap Ikatan Media Online (IMO) Indonesia itu akan melanjutkan monitoring mandiri di wilayah Selat Sunda, Lampung, hingga Bengkulu.

Monitoring dilakukan dengan terus mendorong partisipasi masyarakat sekitar pantai, nelayan, serta pelaut yang melintasi wilayah perairan tersebut.

“Upaya pencarian kita tidak berakhir di sini dan dengan cara-cara seperti 10 hari sebelumnya. Sesuai petunjuk Basarnas dan pimpinan organisasi, metodenya akan dialihkan menjadi pemantauan dan koordinasi patroli,” ungkap Kasatgas II SAR Dayung Serunting, Edwar Supriyadi, dalam evaluasi internal bantuan SAR Pulau Enggano di Posko Revolver, Apoho, Jum’at (18/9/2026) dini hari.

Dijelaskan, pihak berwenang tentu akan melakukan pemantauan dan koordinasi melalui penguatan sinergitas sistem komunikasi Vessel Traffic Service (VTS), Stasiun Radio Pantai (SROP), Polairud, Lanal, serta kapal-kapal yang melintas terutama di Selat Sunda.

“Hari ini kita akan pulang ke rumah masing-masing. Tapi semua anggota Dayung Serunting akan terus berperan dari daerah masing-masing, termasuk meminta organisasi induk (IMO Indonesia-red) mendorongnya melalui pemberitaan masif dan terus-menerus,” ujar Edwar.

Penanggung jawab tim relawan SAR Dayung Serunting, Tan Ersanius, memastikan organisasi gemblengan para alumni MPA Aranyacala Universitas Trisakti itu takkan mengendorkan itikad kemanusiaan terhadap para survivor.

Sementara bagi IMO sendiri, jelas dia, partisipasi SAR kali ini adalah wujud solidaritas kepada lima jurnalis yang hingga kini belum ditemukan.

“Dalam 10 hari kita sudah susuri bersama, dari Selat Sunda sampai Enggano dan seluruh garis pantai Lampung-Bengkulu. Terima kasih kepada seluruh tim Dayung Serunting yang telah membantu apa saja dalam misi ‘IMO-Indonesia untuk Solidaritas’ ini. Sajatinya, ikhtiar kita takkan pernah sia-sia,” tandas Waketum DPP IMO-Indonesia itu di Dermaga Pelabuhan Pulau Baii, Kota Bengkulu, Jum’at pagi.

Ketua Umum IMO-Indonesia, Yakub F. Ismail menuturkan senada. Dia mengapresiasi seluruh tim SAR gabungan yang telah berjibaku kurun 10 hari terakhir untuk menemukan lima jurnalis dan tiga orang lainnya dalam operasi tersebut.

Dia juga berterima kasih kepada seluruh unsur SAR Dayung Serunting yang telah berpaartisipasi di darat hingga perairan.

Kepada keluarga besar para survivor, Yakub menghaturkan permohonan maaf jika selama operasi pencarian 10 hari pertama terdapat khilaf dan kekurangan IMO-Indonesia serta organisasi sayap yang dikerahkan di lapangan.

“Apresiasi setinggi-tingginya untuk tim SAR gabungan, terima kasih kepada seluruh unsur SAR Dayung Serunting. Semoga besok atau suatu saat nanti para survivor bisa ditemukan,” tuturnya di Jakarta, Jum’at pagi.

 

*Operasi Pertama Dihentikan*

Operasi SAR Selat Sunda resmi dihentikan usai pencarian hari ke-10 tetap nihil temuan spesifik.

Penghentikan operasi yang diperluas hingga ke perairan Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, itu diumumkan Gubernur Banten Andra Soni di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Pandeglang, Banten, Kamis (17/9) sore.

Keputusan itu diambil usai Andra bersama pihak-pihak berkompeten menggelar rapat evaluasi pasca 10 hari pencarian di Selat Sunda hingga diperluas ke perairan Pulau Enggano.

“Sudah tidak efektif, maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini dinyatakan dihentikan,” ujarnya di hadapan para pewarta.

Dijelaskan, sepanjang operasi SAR digelar, tim gabungan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan survivor di seluruh sektor penyisiran.

Demikian pula operasi hari ke-10, tim SAR gabungan tidak menemukan objek spesifik walaupun 523 personel SAR gabungan dilibatkan untuk penyisiran di darat, laut bahkan udara dengan luas jangkauan mencapai 8.509 nautical mile (NM) persegi.

Andra menyebutkan, sebelumnya tim SAR memang sempat menemukan material sebanyak 13 objek terapung di laut selama operasi berlangsung.

Namun setelah diverifikasi Ditpolairud Polda Banten, dipastikan seluruhnya tidak terhubung dengan fisik maupun kelengkapan KM Arupadhatu I.

Pemerintah daerah dan Basarnas memastikan operasi SAR akan dibuka kembali sewaktu-waktu jika ditemukan petunjuk baru atau laporan terkonfirmasi dari masyarakat.

Andra menyampaikan apresiasi dan berterima kasih kepada seluruh unsur tim SAR gabungan serta insan pers yang konsisten mengawal pemberitaan dan pelaksanaan operasi kemanusiaan tersebut.

 

*Mayat Mr X di Enggano*

Sebelum penguman operasi ditutup, Kepala Kantor Basarnas Bengkulu Muslikun Sodik menyampaikan bahwa hasil penyisiran di perairan bengkulu hingga ke perairan Pulau Enggano juga nihil.

Disebutkan, sebanyak 45 personel SAR gabungan dikerahkan menyusuri perairan, diperkuat sejumlah alat utama (Alut) pertolongan perairan, di antaranya tiga Landing Craft Rescue (LCR), satu Rigid Inflatable Boat (RIB), dan dua Rigid Buoyancy Boat (RBB).

SAR di Enggano, kata Muslikun, merupakan operasi bantuan untuk Kantor Basarnas Banten yang sedang mencari jejak lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu I yang hilang kontak sejak Senin (7/9) lalu.

Mulai hari kedelapan, area pencarian di Selat Sunda diperluas hingga ke arah Bengkulu, tepatnya perairan Enggano, mengingat hasil SAR Mapping tim SAR gabungan di posko utama, Pandeglang.

Akhir pekan lalu, sesosok mayat laki-laki tidak dikenal (Mr X) ditemukan warga di pantai Enggano. Jenazahnya kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Bengkulu untuk identifikasi.

Kabid Humas Polda Bengkulu, Kombes Pol Imam Wijayanto, menyatakan pihaknya belum menerima laporan adanya orang hilang di wilayah itu dengan ciri-ciri dimiliki Mr X tersebut.

Dugaan sempat mengarah kepada salah satu survivor yang dicari tim SAR gabungan di Selat Sunda, tapi hasil pemeriksaan antemortem menunjukkan dugaan kuat mayat Mr X itu tidak ada hubungan dengan survivor dimaksud.

Polda Bengkulu masih menunggu hasil pemeriksaan postmortem dari Pusdokkes Polri untuk menemukan kemungkinan kecocokan DNA.

“Kondisi jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano memang sulit dikenali karena sudah mengalami pembusukan. Jenazah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu sejak Senin, 14 September 2026. Biddokkes Polda Bengkulu telah mengirimkan sampel DNA Mr X itu ke Pusdokkes Polri. Untuk hasilnya membutuhkan beberapa waktu. Jadi mohon bersabar, setelah ada hasilnya kami sampaikan,” jelas Imam, Selasa (15/9) lalu.[imo]***