Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login
Berita  

Gunung Tampomas, Atap Sumedang dan Pusaka Budaya Sunda

Penulis:
Andy Java
Pemerhati Lingkungan dan Budaya

BOGOR  | Radarpost id,-Jika Anda melintas dari Bandung menuju Cirebon, punggung besar yang menjulang di utara Kota Sumedang itulah Gunung Tampomas. Bagi orang Sumedang, gunung ini bukan sekadar latar foto. Ia adalah penanda arah, penanda waktu tanam, dan penanda jati diri.

Dengan ketinggian 1.684 meter di atas permukaan laut, Tampomas adalah gunung tertinggi di Kabupaten Sumedang. Puncaknya yang dikenal sebagai Sanghyang Taraje menjadi atap yang terlihat dari hampir seluruh kecamatan.

Gunung yang Sudah Tertidur Lama

Secara geologi, Tampomas adalah gunung api tua yang kini sudah tidak aktif. Karena itu ia menjadi sangat subur. Hutan hujannya yang lebat di lereng menjadi kawasan resapan air raksasa. Puluhan mata air besar bersumber dari tubuhnya, mengaliri Sungai Cimanuk, Cipeles, dan menjadi sumber air bersih untuk sawah serta air minum warga di Conggeang, Buahdua, Cimalaka hingga Kota Sumedang.

Pendaki mengenalnya sebagai gunung yang ramah untuk pemula. Trek dari Narimbang, Buahdua, dan Cimalaka bisa ditempuh 3 sampai 4 jam dengan vegetasi hutan pinus, puspa, dan cantigi yang masih terjaga.

Gunung Suci dan Perpustakaan Sejarah

Dalam cerita karuhun Sumedang Larang, Tampomas disebut sebagai gunung suci tempat para leluhur bertapa. Di puncaknya ada Situs Sanghyang Taraje, batu-batu menhir dan area yang dipercaya sebagai tempat semedi para leluhur Kerajaan Sumedang Larang penerus Pajajaran.

Itulah mengapa masyarakat adat menyebutnya Titipan Karuhun.

Tampomas Titipan Karuhun, Teu Dijual. Tampomas Titipan Karuhun, Pamali Digali.

Petuah itu hidup di kalangan kuncen dan Majelis Adat Sumedang Larang. Bagi mereka, setiap batu, hutan, dan mata air di Tampomas adalah warisan yang tidak boleh diperjualbelikan.

Setiap tahun, warga masih menggelar ritual adat dan ziarah ke puncak, terutama saat pergantian musim. Mereka bukan sekadar mendaki, tapi ngamumule, merawat hubungan antara manusia, alam, dan leluhur.

Rumah bagi Kehidupan

Tampomas adalah rumah bagi surili Jawa, elang Jawa, lutung, dan ratusan jenis anggrek hutan. Hutannya menjadi koridor penting bagi keanekaragaman hayati di Jawa Barat utara.

Warga di kaki gunung juga sangat bergantung pada hasil hutan bukan kayu seperti aren, lebah madu hutan, dan jamu-jamuan yang diambil dengan aturan adat yang ketat. Tidak boleh tebang sembarangan, tidak boleh berburu di hutan larangan.

Pesan untuk Kita Semua, Jangan Merusak Tampomas

Kepedulian warga Sumedang terhadap Tampomas menguat ketika ada wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di kawasan tersebut. Pada Rapat Dengar Pendapat di DPRD Sumedang 21 Oktober 2026, ratusan warga dari berbagai desa membludak menyuarakan penolakan karena khawatir akan merusak sumber air dan keseimbangan ekologis.

Dari peristiwa ini kita belajar satu pesan penting:

Jangan merusak Gunung Tampomas. Jangan kotori mata airnya dengan sampah, jangan tebang hutannya secara liar, jangan coret-coret situs sakralnya, dan jangan jadikan puncaknya tempat yang ditinggalkan sampah pendaki.

Tampomas bukan hanya gunung. Ia adalah ibu yang memberi air, ia adalah perpustakaan budaya Sunda. Jika sumber air rusak karena ulah kita sendiri, yang rugi bukan hanya kita hari ini, tapi anak cucu kita nanti.

Mari menjaga Tampomas dengan cara paling sederhana, mendaki tanpa merusak, berziarah tanpa mengotori, dan menceritakan kebaikannya tanpa mengeksploitasinya. Menjaga Tampomas berarti menjaga Sumedang tetap menjadi Puseur Budaya Sunda.**