Radarpost.id
Di balik meja-meja perundingan yang kerap terasa kaku, ada seorang pemimpin perempuan yang memilih jalur berbeda: menjadikan pasar sebagai ruang dialog kebangsaan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, tidak hanya datang membawa proposal dagang, tetapi juga menawarkan kepercayaan, kerja sama, dan harapan.
Di Bandar Lampung, 7 Agustus 2025, ia memimpin Misi Dagang dan Investasi yang membukukan transaksi lebih dari Rp1,055 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi simbol kolaborasi antardaerah yang dibangun dengan pendekatan manusiawi, persuasif, dan terencana.
Lebih dari Sekadar Angka: Kepercayaan sebagai Modal Utama
Dalam perdagangan antarwilayah, angka memang penting, tetapi kepercayaan adalah fondasi. Seperti dikatakan Prof. Ahmad Erani Yustika, ekonomi tidak cukup dibangun dengan proposal; ia memerlukan relasi, ritme budaya, dan pemahaman lokalitas. Khofifah memahami ini. Ia membawa Jawa Timur bukan sebagai “pasar besar” yang ingin mendominasi, melainkan sebagai mitra setara yang siap bersinergi.
Konektivitas sebagai Strategi Nasional
Khofifah menyoroti konektivitas logistik sebagai kunci efisiensi ekonomi. Di Indonesia, biaya logistik mencapai 23% PDB—salah satu yang tertinggi di Asia. Kerja sama distribusi antarwilayah, seperti Surabaya–Lampung, mampu memangkas biaya, meningkatkan margin keuntungan, dan membuat produk lokal lebih kompetitif. Ini bukan sekadar urusan transportasi; ini adalah operasi di jantung masalah ekonomi nasional.
Ekonomi yang Mengakar ke Rakyat
Model misi dagang ini melibatkan UMKM, koperasi, kelompok tani, hingga industri kecil. Poktan Tunas Harapan Kediri, misalnya, berhasil menjual gula merah tebu senilai Rp77,76 miliar ke Lampung. Inilah ekonomi gotong-royong yang disebut Dr. Arie Sujito: perdagangan yang memberi ruang langsung bagi rakyat kecil untuk menembus pasar antardaerah.
Ketahanan Pangan: Sinergi Dua Pilar
Lampung sebagai lumbung bahan baku dan Jawa Timur sebagai mesin industri pangan nasional adalah kombinasi strategis. Dukungan benih, pasokan jagung, dan kerja sama industri pangan menjadi bagian dari misi ini. Prof. Bustanul Arifin menggarisbawahi, kolaborasi seperti ini mampu meredam fluktuasi harga dan memperkuat stok pangan nasional.
Dari Transaksi ke Transformasi
Sejak 2019, Jawa Timur telah menggelar 41 misi dagang domestik dengan nilai Rp14,68 triliun, plus ekspansi ke pasar luar negeri senilai Rp1,6 triliun. Pendekatan ini tidak sekadar menjual, tetapi menanam—membangun jaringan pasar, memperluas akses produk lokal, dan menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan.
Diplomasi Ekonomi yang Menyentuh Rakyat
Di Bandar Lampung, yang terjadi bukan sekadar transaksi triliunan rupiah, melainkan penenunan simpul-simpul harapan antarwilayah. Misi dagang ini menjadi template baru pembangunan ekonomi domestik: elegan, strategis, namun tetap membumi.
Khofifah telah menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi nasional tidak hanya dibangun dari ibu kota, tetapi juga dari pasar-pasar lokal, gudang-gudang kecil, dan tangan-tangan petani serta pelaku UMKM. Diplomasi ekonomi yang ia jalankan bukan hanya menggerakkan angka, tetapi juga menggerakkan hati rakyat.
Dr. H. Romadlon, M.M
Pengamat kebijakan publik, kolumnis ekonomi kerakyatan dan pembangunan daerah













