Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login
Berita  

Keluarga Tunggu Kepulangan Jenazah Kapten Inf Zulmi, Rumah Duka Dipenuhi Karangan Bunga

banner 120x600

Cimahi ||Radarpost.id

Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar di Kota Cimahi, Jawa Barat. Karangan bunga belasungkawa terus berdatangan dan memenuhi ruas jalan di sekitar rumah duka, seiring pelayat yang silih berganti hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.

Kapten Zulmi, prajurit TNI berusia 33 tahun asal Cimahi, gugur saat menjalankan tugas sebagai bagian dari Satgas East Mobile Reserve (SEMR) dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon Selatan. Ia meninggal dunia ketika mengawal konvoi kendaraan UNIFIL pada Senin (30/3/2026).

Hingga Rabu (1/4/2026), pihak keluarga masih menantikan kepastian jadwal pemulangan jenazah almarhum ke Indonesia.

“Kami masih terus menunggu informasi dari instansi terkait mengenai rencana pemulangan adinda Zulmi. Semoga satu atau dua hari ini jenazah beliau bisa tiba di rumah duka,” ujar kakak sepupu Kapten Zulmi, Risman Efendi, saat ditemui di Cimahi.

Menurut Risman, informasi terakhir yang diterima keluarga menyebutkan jenazah Kapten Zulmi telah dievakuasi ke rumah sakit di Lebanon Selatan. Saat ini pemerintah tengah mengurus proses administrasi dan penjadwalan penerbangan menuju Tanah Air.

“Jenazahnya sudah berada di rumah sakit di Lebanon. Sekarang tinggal menunggu proses penerbangan karena situasi konflik di sana juga memengaruhi jadwal,” katanya.

Keluarga berharap jenazah Kapten Zulmi dapat terlebih dahulu disemayamkan di rumah duka sebelum dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Kota Bandung.

“Harapannya dari Jakarta nanti dibawa dulu ke rumah, supaya keluarga dan warga bisa memberikan penghormatan terakhir, baru kemudian diberangkatkan ke TMP Cikutra,” tambah Risman.

Kehilangan tersebut terasa semakin mendalam bagi keluarga karena komunikasi terakhir dengan almarhum terjadi sehari sebelum insiden. Kapten Zulmi dikenal rutin berkomunikasi dengan keluarga hampir setiap hari selama menjalankan tugas di luar negeri.

“Biasanya hampir setiap hari komunikasi. Bahkan sebelum kejadian sempat kirim foto terakhir. Setelah itu kami kehilangan kontak tepat di hari kejadian,” ungkapnya dengan suara lirih.

Kini keluarga hanya bisa menunggu kepulangan sang prajurit, sembari doa terus mengalir dari kerabat, tetangga, dan rekan sejawat yang datang memberikan dukungan moril di rumah duka.