Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Rusia Buka Peluang Ekspor Minyak ke Pertamina di Tengah Krisis Selat Hormuz

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, mengatakan negaranya terbuka untuk kerja sama energi dengan negara-negara sahabat, termasuk Indonesia, apabila terdapat kebutuhan pasokan minyak dan gas.( Istimewa).
banner 120x600

Jakarta|| Radarpost.id

Rusia menyatakan kesiapan untuk memasok minyak ke Indonesia melalui PT Pertamina (Persero) di tengah lonjakan harga energi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya penutupan jalur strategis Selat Hormuz.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, mengatakan negaranya terbuka untuk kerja sama energi dengan negara-negara sahabat, termasuk Indonesia, apabila terdapat kebutuhan pasokan minyak dan gas.

“Presiden kami telah berkali-kali menyampaikan bahwa kami siap bekerja sama di sektor minyak dan gas dengan negara sahabat jika mereka membutuhkan,” ujar Tolchenov di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Meski demikian, Tolchenov mengungkapkan hingga saat ini belum ada komunikasi resmi dari pihak Pertamina maupun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait rencana pembelian minyak dari Rusia.

Ia menegaskan Kedutaan Besar Rusia siap membuka jalur diskusi apabila Indonesia berminat.

“Silakan sampaikan kebutuhan Anda, dan kita akan diskusikan bagaimana kerja sama ini dapat diwujudkan,” katanya.

Rusia Siap Pasok ke Negara Mana Pun

Tolchenov juga menekankan bahwa Rusia tidak membatasi ekspor minyak hanya kepada negara sahabat. Bahkan negara-negara yang sebelumnya memiliki hubungan kurang harmonis pun tetap berpeluang menjalin kerja sama, selama ada kesepakatan kontrak jangka panjang.

“Kami tidak pernah menolak siapa pun. Ini soal kebutuhan dan keinginan untuk bekerja sama,” tegasnya.

Indonesia Buka Opsi Impor dari Rusia

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah Indonesia membuka peluang impor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia, sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.

Menurutnya, pemerintah tidak ingin bergantung pada satu sumber pasokan di tengah ketidakpastian global.

“Semua negara ada kemungkinan. Yang penting barang tersedia dan harganya kompetitif,” ujar Bahlil.

Ia menambahkan bahwa peluang impor dari Rusia semakin terbuka setelah Amerika Serikat melonggarkan akses pembelian minyak dari negara tersebut.

Dampak Konflik Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Krisis energi global saat ini dipicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan tersebut berdampak pada terganggunya distribusi energi dunia.

Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia, dilaporkan mengalami blokade de facto. Kondisi ini menghambat ekspor energi dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Situasi tersebut membuat banyak negara, termasuk Indonesia, mulai mencari alternatif sumber pasokan energi guna menjaga stabilitas dalam negeri.