Jakarta||Radarpost.id
Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Pontianak terus digencarkan melalui kolaborasi antara Anggota DPRD Kota Pontianak, Rino Pandriya, S.H., dan praktisi seni sekaligus pelatih public speaking R. Rama Sastra Negara, S.Sn. Keduanya bertemu di Jakarta pada Selasa (27/1/2026) untuk membahas rencana pelaksanaan pelatihan TAPSSAM (The Art of Public Speaking & Storytelling with Acting Method) sebagai program pemberdayaan guru dan masyarakat berbasis potensi lokal.
Kolaborasi ini juga dilandasi oleh ikatan personal dan sejarah akademik, di mana Rino Pandriya dan R. Rama Sastra Negara pernah bersama-sama menempuh pendidikan sebagai mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Kesamaan latar belakang tersebut menjadi titik temu visi dalam memandang seni, komunikasi, dan storytelling sebagai elemen penting dalam pembangunan manusia.
Rino Pandriya dikenal sebagai wakil rakyat yang konsisten mendorong penguatan kapasitas pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan generasi muda. Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur, melainkan harus diimbangi dengan pembangunan manusia yang percaya diri, berdaya saing, dan mampu menyampaikan gagasan secara terbuka.
“Pontianak memiliki banyak potensi dan orang-orang hebat. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan ruang dan keberanian agar mereka bisa bersuara,” ujar Rino. Menurutnya, pelatihan seperti TAPSSAM merupakan bagian dari ikhtiar membangun karakter dan kemampuan komunikasi masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara itu, R. Rama Sastra Negara merupakan praktisi seni dan komunikasi yang telah lama berkecimpung dalam pelatihan public speaking, storytelling, serta pengembangan karakter berbasis metode akting. Melalui TAPSSAM, Rama mengembangkan pendekatan pelatihan yang tidak hanya berfokus pada teknik berbicara, tetapi juga penguatan kesadaran diri, empati, keberanian personal, dan kejujuran dalam menyampaikan pesan.
Pelatihan TAPSSAM dirancang relevan dengan konteks lokal Pontianak dan Kalimantan Barat. Peserta diajak menggali kekayaan budaya setempat—mulai dari budaya Melayu, Dayak, dan Tionghoa, nilai gotong royong, tradisi lisan, hingga pengalaman hidup sehari-hari—untuk kemudian diolah menjadi kekuatan komunikasi dan storytelling yang otentik.
Program ini tidak hanya bertujuan mencetak pembicara yang piawai, tetapi juga membentuk guru yang mampu menghidupkan suasana belajar, masyarakat yang berani menyampaikan gagasan secara santun, serta generasi muda yang bangga terhadap identitas daerahnya.
Rama menegaskan bahwa setiap orang memiliki cerita dan nilai hidup yang berharga. “Melalui TAPSSAM, peserta tidak diarahkan menjadi orang lain, tetapi menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri dan menyampaikannya dengan cara yang hidup, jujur, dan bermakna,” ujarnya.
Melalui inisiatif ini, pelatihan TAPSSAM diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama yang membumi dan memberi manfaat nyata, melahirkan guru yang mengajar dengan hati, masyarakat yang komunikatif, serta generasi muda yang percaya diri membawa nama Pontianak ke tingkat yang lebih luas.
Cp













