Jakarta|| Radarpost.id
Penyanyi Shanty mengaku mengalami “culture shock” saat kembali aktif di industri musik yang kini sepenuhnya terdigitalisasi. Setelah lama berkiprah sejak era kaset dan CD, ia harus beradaptasi dengan perubahan besar, mulai dari pola konsumsi musik hingga tuntutan aktif di media sosial.
Shanty memulai karier profesionalnya pada awal 2000-an sebagai backing vokal grup Dewa 19 dalam lagu “Risalah Hati”. Namanya kemudian melambung lewat sejumlah hits seperti “Jatuh Cinta” dan “Hanya Memuji”.
Namun, ketika kembali merilis karya baru bertajuk “I Do” pada 2026, ia menghadapi realitas industri yang jauh berbeda.
“Sempat kaget, bahkan sampai ‘disekolahkan’ lagi sama manajemen karena industri musik sekarang sudah berubah jauh,” ujar Shanty dalam wawancara di Jakarta.
Dipaksa Ngonten hingga Live TikTok
Salah satu tantangan terbesar bagi Shanty adalah tuntutan untuk aktif membuat konten di media sosial. Ia mengaku harus mengikuti tren seperti membuat video pendek hingga melakukan siaran langsung di platform seperti TikTok.
Menurutnya, hal ini bukan sesuatu yang mudah karena bertolak belakang dengan kepribadiannya yang cenderung privat.
“Aku sampai sekarang masih dipaksa tim untuk live TikTok. Harus bikin konten, menari, atau sekadar interaksi supaya engagement naik,” katanya.
Shanty sempat mencoba membuat konten dengan memainkan piano saat live. Namun, respons audiens justru tidak sebesar konten keseharian—yang justru enggan ia tampilkan ke publik.
“Yang orang mau lihat itu keseharian, sementara aku orangnya privat. Aku enggak nyaman rumah disorot,” tuturnya.
Perubahan Format Lagu: Hook Harus di Depan
Tak hanya dari sisi promosi, perubahan juga terasa dalam proses kreatif bermusik. Shanty menyoroti pergeseran signifikan dalam struktur lagu di era digital.
Jika dulu lagu bisa berdurasi hingga lima menit dengan intro panjang, kini tren mengarah pada durasi lebih singkat dengan bagian “hook” yang harus muncul lebih cepat.
“Sekarang hook harus di depan karena disesuaikan dengan kebutuhan platform seperti TikTok dan Reels,” jelasnya.
Meski sempat terkejut, Shanty mencoba mengikuti perkembangan tersebut. Ia optimistis single terbarunya memiliki karakter catchy yang sesuai dengan selera pasar saat ini.
Bertahan di Tengah Perubahan
Setelah lebih dari dua dekade berkarier, Shanty menyadari bahwa adaptasi menjadi kunci untuk tetap relevan. Ia pun berusaha berkompromi antara idealisme sebagai musisi dan tuntutan industri modern yang serba digital.
Kendati demikian, ia mengakui proses tersebut tidak mudah dan membutuhkan penyesuaian besar, baik secara teknis maupun mental.
“Aku harus berevolusi. Sekarang semuanya terkoneksi dengan media sosial, engagement, dan algoritma,” ucap Shanty.
Dengan segala tantangan itu, Shanty membuktikan bahwa musisi dari generasi awal 2000-an pun masih bisa bertahan—asal mau belajar dan mengikuti perubahan zaman.













