Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Guru RI di Luxembourg Digaji Rp1,6 Miliar per Tahun, Kisah Cristina Susilowati Viral

Ia menyebut profesi guru di negara kecil di Eropa itu sangat dihormati dan mendapatkan kesejahteraan tinggi dari pemerintah.(Istimewa).
banner 120x600

Jakarta|| Radarpost.id

Kisah seorang guru asal Indonesia bernama Cristina Susilowati menjadi sorotan di media sosial setelah mengaku menerima gaji hingga Rp1,6 miliar per tahun sebagai guru sekolah dasar di Luxembourg. Namun di balik angka fantastis tersebut, tersimpan perjuangan panjang yang penuh tekanan dan pengorbanan.

Cristina mengaku saat ini mengajar di sebuah sekolah dasar di Luxembourg City. Ia menyebut profesi guru di negara kecil di Eropa itu sangat dihormati dan mendapatkan kesejahteraan tinggi dari pemerintah.

“Di sini, guru dipandang setara dengan profesi penting lain seperti hakim atau dokter,” ujar Cristina dalam kisah yang dibagikannya.

 

Meski kini menikmati kehidupan mapan, Cristina mengatakan jalan menuju posisi tersebut tidak mudah. Ia harus melewati proses panjang penyetaraan ijazah, sertifikasi, hingga penguasaan tiga bahasa sekaligus, yakni Prancis, Jerman, dan Luxemburgish.

Pernah Jadi Baby Sitter hingga Pelayan Restoran

Cristina mengungkapkan tiga tahun pertama hidupnya di Luxembourg menjadi masa paling berat. Ia mengaku sempat bekerja serabutan demi bertahan hidup sambil mengejar syarat administrasi untuk menjadi guru.

“Saya pernah jadi baby sitter sampai pelayan restoran. Tidur cuma empat jam sehari,” katanya.

Ia juga mengaku berkali-kali ditolak sekolah karena dianggap belum memenuhi kualifikasi bahasa dan administrasi.

Di tengah tekanan ekonomi dan biaya hidup tinggi di Eropa, Cristina sempat ingin menyerah dan pulang ke Indonesia. Namun ia memilih bertahan hingga akhirnya diterima menjadi pengajar di sistem pendidikan Luxembourg.

Slip Gaji Pertama Bikin Menangis

Cristina mengatakan dirinya justru menangis saat menerima slip gaji pertama yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah per bulan jika dikonversi ke mata uang Indonesia.

Menurutnya, tangisan itu muncul karena teringat kondisi guru di Indonesia yang masih banyak menghadapi persoalan kesejahteraan.

Ia mengenang sosok guru honorer semasa kecil yang tetap mengajar meski menerima gaji minim dan dibayar tidak menentu. Cristina juga menyoroti banyak lulusan pendidikan di Indonesia yang harus mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Soroti Kesejahteraan Guru di Indonesia

Cristina menilai penghargaan terhadap profesi guru di Indonesia masih perlu ditingkatkan, terutama dalam aspek kesejahteraan dan perlindungan kerja.

Menurutnya, banyak guru di daerah terpencil harus bekerja dalam kondisi sulit dengan penghasilan yang terbatas.

“Guru bukan hanya layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi juga perlu dimuliakan hidupnya,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah Indonesia dapat semakin serius meningkatkan kualitas hidup tenaga pendidik agar profesi guru kembali menjadi pekerjaan yang dihormati dan diminati generasi muda.

Kisah Cristina pun menuai beragam respons dari warganet. Sebagian memuji perjuangannya menembus sistem pendidikan Eropa, sementara lainnya menyoroti kesenjangan kesejahteraan guru antara Indonesia dan negara maju seperti Luxembourg.