Jakarta || Radarpost.id
PT Pelindo Sinergi Lokaseva (SPSL) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan kawasan industri terintegrasi berbasis pelabuhan melalui pembangunan Kawasan Industri Kuala Tanjung (KIKT) di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
Kawasan industri tersebut terhubung langsung dengan Pelabuhan Kuala Tanjung dan menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun ekosistem industri-logistik yang modern, efisien, serta berkelanjutan.
KIKT sendiri merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berada di kawasan strategis Selat Malaka, jalur pelayaran internasional dengan aktivitas perdagangan yang sangat padat. Letaknya dinilai sangat potensial untuk mendukung pengembangan industri hilir dan aktivitas ekspor nasional.
Selain memiliki akses langsung ke Pelabuhan Kuala Tanjung, kawasan ini juga didukung konektivitas Tol Medan–Kuala Tanjung, kedekatan dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, industri aluminium, hingga wilayah perkebunan kelapa sawit yang luas sebagai basis bahan baku industri.
Senior Vice President Sekretariat Perusahaan PT Pelindo Sinergi Lokaseva, Dewi Fitriyani, menyampaikan bahwa pengembangan KIKT menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap agenda transformasi ekonomi pemerintah, khususnya dalam penguatan hilirisasi dan peningkatan daya saing industri nasional.
Menurutnya, integrasi kawasan industri dengan pelabuhan akan memberikan dampak positif terhadap efisiensi rantai pasok dan memperkuat konektivitas perdagangan domestik maupun global.
“Pengembangan kawasan industri yang terintegrasi dengan pelabuhan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi logistik, memperkuat jaringan industri nasional, serta membuka peluang investasi baru di Sumatera Utara,” kata Dewi.
Infrastruktur Dasar Terus Dipercepat
Pengelolaan KIKT dilakukan melalui anak usaha SPSL, PT Prima Pengembangan Kawasan (PPK), yang saat ini fokus pada pembangunan infrastruktur dasar kawasan.
Beberapa fasilitas awal yang telah selesai dibangun antara lain gerbang utama kawasan dan jalan akses menuju area industri. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi penting untuk mendukung pengembangan kawasan pada tahap berikutnya.
Ke depan, pembangunan berbagai fasilitas pendukung lain akan terus dilakukan guna mewujudkan kawasan industri modern berbasis pelabuhan yang memiliki daya saing tinggi.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, PT PPK juga melakukan penguatan tata kelola perusahaan dan pengamanan aset. Pada awal tahun 2026, perusahaan menerima 31 sertifikat tanah Tahap I Bagian A dan B melalui pendampingan hukum bersama Kejaksaan Negeri Batu Bara.
Langkah ini dinilai penting sebagai bentuk penguatan legalitas aset perusahaan sekaligus implementasi prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Pengembangan ekosistem Kuala Tanjung juga diperkuat melalui koordinasi antarentitas di lingkungan Pelindo Group. Dalam rapat percepatan pengembangan kawasan yang digelar pada April 2026, sejumlah strategi dibahas untuk memperkuat konektivitas Pelabuhan Kuala Tanjung dengan kawasan industri sebagai pusat perdagangan internasional.
Kawasan Industri Kuala Tanjung diproyeksikan menjadi kawasan industri berbasis pelabuhan (port-led industrial and logistic infrastructure) yang terkoneksi langsung dengan jalur perdagangan global.
Melalui pengembangan tersebut, PT Pelindo Sinergi Lokaseva berharap KIKT dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan internasional.













