JAKARTA|| Radarpost.id
Festival Film Indonesia (FFI) 2026 resmi diluncurkan pada Kamis (18/6/2026) di Hutan Kota by Plataran, Jakarta. Mengusung tema “Askala Karya Sinema Indonesia”, perhelatan perfilman terbesar di Tanah Air itu tidak hanya menjadi ajang penghargaan bagi insan film, tetapi juga momentum konsolidasi untuk memperkuat ekosistem perfilman nasional di tengah pertumbuhan industri yang semakin menjanjikan.
Peluncuran FFI 2026 menandai dimulainya rangkaian kegiatan menuju Malam Anugerah Piala Citra yang dijadwalkan berlangsung pada 20 November 2026. Tahun ini, Komite FFI mengangkat filosofi cahaya sebagai simbol utama perjalanan sinema Indonesia yang terus hidup, berkembang, dan diwariskan lintas generasi.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menilai tema yang diusung FFI tahun ini mengandung makna mendalam mengenai peran film sebagai medium yang menjaga memori kolektif bangsa.
“Cahaya bukan sekadar unsur teknis dalam sinematografi, tetapi simbol pengetahuan, harapan, dan ingatan yang memberi bentuk pada cerita. Melalui film, keberagaman budaya dirayakan dan nilai-nilai kemanusiaan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Fadli.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra. Menurut dia, penguatan sumber daya manusia, perluasan ruang apresiasi, distribusi film, dan akses publik merupakan fondasi penting agar perfilman Indonesia terus berkembang sebagai wajah budaya bangsa di tingkat global.
Industri Film Tumbuh Positif
Ketua Umum Komite FFI 2026, Ario Bayu, menyebut perkembangan perfilman nasional dalam satu tahun terakhir menunjukkan tren yang sangat positif. Jumlah film Indonesia yang tayang di bioskop meningkat dibandingkan periode sebelumnya, diiringi pertumbuhan minat penonton terhadap karya-karya lokal.
Menurut Ario, keberhasilan dua film Indonesia menembus angka lebih dari 10 juta penonton pada tahun lalu menjadi indikator meningkatnya kepercayaan publik terhadap cerita yang lahir dari pengalaman dan realitas masyarakat Indonesia.
“Ini bukan sekadar soal angka penonton. Ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya pada film-film Indonesia. Bioskop dan platform streaming kini tumbuh bersama sebagai ruang distribusi yang saling melengkapi,” katanya.
Optimisme tersebut juga diamini Ketua Badan Perfilman Indonesia, Fauzan Zidni. Ia menegaskan bahwa FFI harus menjadi cermin perkembangan industri sekaligus sarana evaluasi untuk menentukan arah masa depan perfilman nasional.
“FFI bukan hanya festival, melainkan ruang apresiasi yang mendorong kualitas film Indonesia dan memperkuat ekosistem yang sehat serta berkelanjutan,” ujarnya.
Nirina dan Morgan Jadi Duta FFI
Dalam peluncuran tersebut, Komite FFI juga memperkenalkan dua figur publik yang akan menjadi wajah festival sepanjang tahun ini, yakni Nirina Zubir dan Morgan Oey.
Pemilihan keduanya dinilai mewakili semangat regenerasi sekaligus kualitas perfilman Indonesia. Nirina merupakan peraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik, sementara Morgan dikenal sebagai salah satu aktor muda yang konsisten menghasilkan karya dan memperoleh apresiasi di berbagai ajang perfilman.
Keduanya akan terlibat dalam berbagai program edukasi, kampanye publik, dan kegiatan apresiasi film selama rangkaian FFI 2026 berlangsung.
Reformasi Penjurian dan Perluasan Akses
Selain peluncuran tema, FFI 2026 juga menghadirkan sejumlah pembaruan teknis. Ketua Bidang Penjurian, Budi Irawanto, menjelaskan bahwa sistem penjurian film cerita panjang kini dilakukan melalui tiga tahapan, yakni seleksi awal, nominasi, dan penentuan pemenang.
Perubahan tersebut dilakukan berdasarkan masukan publik dan pelaku industri film agar hasil penjurian semakin mencerminkan standar artistik, teknis, dan profesional tertinggi dalam perfilman Indonesia.
Di sisi lain, Ketua Bidang Program FFI 2026, Prilly Latuconsina, menegaskan bahwa FFI akan memperluas akses edukasi perfilman melalui berbagai program publik.
Program tersebut antara lain masterclass bersama pelaku industri film, pemutaran film nominasi melalui Nomination Week, hingga kegiatan daring yang memungkinkan pegiat film di daerah ikut memperoleh akses pengetahuan dan pengalaman dari para praktisi perfilman nasional.
Menuju Piala Citra 2026
Pendaftaran karya untuk FFI 2026 resmi dibuka mulai 18 Juni hingga 31 Agustus 2026. Film yang dapat mengikuti kompetisi adalah karya yang telah diputar di bioskop, festival film, pemutaran alternatif, maupun platform streaming dalam periode 1 September 2025 hingga 31 Agustus 2026.
Dengan tema yang menempatkan sinema sebagai cahaya yang menerangi perjalanan budaya bangsa, FFI 2026 diharapkan tidak hanya melahirkan karya-karya terbaik, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta perfilman dunia.
Di tengah pertumbuhan jumlah penonton, meningkatnya kualitas produksi, serta semakin luasnya akses distribusi, Festival Film Indonesia tahun ini menjadi penanda bahwa sinema nasional tengah memasuki fase baru: tidak sekadar bertahan, melainkan bersinar lebih terang di panggung global.













