Depok || Radarpost.id
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok memanfaatkan musim kemarau untuk mengintensifkan kegiatan normalisasi kali dan situ di sejumlah wilayah. Langkah ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kapasitas saluran air sekaligus mengurangi potensi banjir saat musim hujan tiba.
Kepala DPUPR Kota Depok, Yodi Joko Bintoro, mengatakan penurunan debit air selama musim kemarau menjadi momentum yang tepat untuk melakukan pengerukan sedimentasi dan pembersihan saluran air yang selama ini terhambat oleh tingginya permukaan air saat banjir.
“Kami melibatkan puluhan personel satuan tugas untuk melaksanakan kegiatan normalisasi di delapan titik prioritas yang tersebar di wilayah Kota Depok,” ujar Yodi kepada wartawan, Rabu (24/6/2026).
Adapun lokasi yang menjadi fokus kegiatan normalisasi meliputi:
1. Kali Cabang Barat, Kecamatan Pancoran Mas.
2. Kali Pesanggrahan, wilayah Bulak Barat, Kecamatan Cipayung.
3. Kali Cabang Barat, Kecamatan Limo.
4. Situ Pengarengan, Kecamatan Sukmajaya.
5. Kali Pesanggrahan, area Jembatan Jago hingga Pasir Putih, Kecamatan Cipayung.
6. Kali Cabang Timur, kawasan Balai Kota Depok.
7. Tersier Kali Caringin 2, Kecamatan Sawangan.
8. Kali Cabang Timur, perbatasan Jalan Raya Tapos.

Menurut Yodi, delapan titik tersebut merupakan bagian penting dari sistem drainase dan pengendalian banjir di Kota Depok. Karena itu, pemeliharaan rutin melalui kegiatan normalisasi menjadi langkah strategis untuk menjaga kelancaran aliran air.
Dalam pelaksanaannya, metode pekerjaan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Beberapa lokasi dikerjakan secara manual oleh personel satgas, sementara titik-titik yang membutuhkan penanganan lebih intensif menggunakan berbagai alat berat khusus.
“Beberapa pekerjaan dilakukan secara manual, namun ada juga yang menggunakan alat berat seperti Amphibi PC 210, Truxor, Spider R65, Mini Spider, dan Amphibi PC 200,” jelasnya.
Penggunaan alat berat tersebut dinilai efektif untuk mengangkat endapan lumpur dan sedimentasi yang telah menumpuk di dasar kali maupun situ, sehingga kapasitas tampung dan aliran air dapat kembali optimal.

Meski demikian, Yodi menegaskan bahwa keberhasilan program normalisasi tidak hanya bergantung pada upaya pemerintah. Ia mengajak masyarakat untuk turut menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah ke sungai, kali, maupun saluran air.
“Kesadaran masyarakat sangat penting. Mudah-mudahan kita bisa saling menghargai, baik sesama maupun lingkungan dengan tidak membuang sampah, terutama sampah plastik yang sulit terurai,” katanya.
DPUPR berharap kegiatan normalisasi yang dilakukan selama musim kemarau ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, khususnya dalam mengurangi risiko genangan dan banjir saat intensitas hujan kembali meningkat.
Selain itu, partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air menjadi faktor penting untuk mendukung keberlanjutan hasil normalisasi yang telah dilakukan. (**).













