Cirebon|| Radarpost.id
Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat peran Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus sekaligus mendorong terciptanya Program Kampus Bahagia Tanpa Kekerasan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Konsolidasi dan Konferensi Nasional PSGA PTKI yang berlangsung di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Rabu.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, mengatakan PSGA memiliki peran strategis dalam mendampingi penyelesaian kasus kekerasan seksual maupun kekerasan berbasis gender sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

“PSGA harus menjadi garda terdepan. Sebelum sebuah kasus menjadi viral, harus ada penyelesaian yang baik di internal kampus dengan tetap mengedepankan keadilan dan perlindungan bagi korban,” ujar Suyitno.
Ia menjelaskan Kementerian Agama juga telah mengembangkan sistem pelaporan digital guna mempercepat penanganan kasus secara transparan dan terintegrasi.
Menurutnya, penguatan PSGA merupakan bagian dari implementasi Program Kampus Bahagia Tanpa Kekerasan yang bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang aman, inklusif, dan menjunjung tinggi martabat manusia.
“Program ini dimaksudkan untuk mengembalikan ruh pendidikan sebagai ruang kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, dan pembelajaran yang bebas dari kekerasan,” katanya.
Selain fokus pada perlindungan perempuan dan anak, Suyitno menekankan perguruan tinggi juga dituntut menghasilkan riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak langsung terhadap penyelesaian persoalan sosial.

“Kampus hari ini dituntut menjadi kampus yang berdampak. Jangan hanya banyak seminar dan workshop, tetapi harus menghadirkan kerja nyata yang manfaatnya dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamarudin Amin menilai PSGA perlu bertransformasi menjadi pusat rujukan nasional dalam isu kesetaraan gender, perlindungan anak, serta penguatan ketahanan keluarga.
Menurut dia, PSGA tidak cukup hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga harus mampu menghilirisasikan hasil riset menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Ia menyebut berbagai isu strategis seperti stunting, tingginya angka perceraian, kemiskinan, hingga pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) memerlukan kontribusi aktif dari kalangan akademisi.
“PSGA adalah kumpulan akademisi dan ilmuwan yang seharusnya memberikan kontribusi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Kamarudin.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Pakta Integritas Anti Kekerasan sebagai bentuk komitmen bersama menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Sahiron mengatakan penguatan PSGA juga diarahkan untuk mendukung pencapaian SDGs, khususnya pada aspek kesetaraan gender melalui kebijakan kampus yang dapat dipantau dan dievaluasi secara berkelanjutan.
Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Aan Jaelani, melaporkan konferensi diikuti oleh 48 PTKI dan tiga PTKIS dari berbagai daerah. Sebanyak 180 artikel ilmiah diterima dalam waktu sekitar dua pekan, sementara 30 jurnal PTKI berkolaborasi mempublikasikan hasil konferensi dan 15 PSGA mempresentasikan praktik terbaik yang telah diterapkan di kampus masing-masing.
Menurut Aan, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan meningkatnya perhatian akademisi terhadap isu kesetaraan gender, inklusivitas, kemanusiaan, serta perlindungan perempuan dan anak sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan perguruan tinggi.













