Jakarta|| Radarpost.id
Titi Kamal kembali hadir lewat film horor Namun, kali ini ia memastikan Perumahan Laddaland bukan sekadar menyajikan rentetan adegan jump scare yang biasa ditemui dalam film horor Indonesia.
Dalam film adaptasi horor Thailand Ladda Land itu, Titi menyebut penonton justru akan diajak masuk ke dalam ketegangan psikologis yang dibangun perlahan hingga memengaruhi emosi sepanjang film.
“Ini film horor aku yang kelima kayaknya tahun ini. Dan ini beda dari yang sebelum-sebelumnya karena ini kan psychological thriller dan psychological horror,” kata Titi Kamal saat ditemui di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).
Menurut istri Christian Sugiono itu, kekuatan Perumahan Laddaland bukan berada pada banyaknya adegan mengejutkan, melainkan atmosfer yang terus menekan penonton dari awal hingga akhir cerita.
Alih-alih mengandalkan kemunculan sosok hantu secara tiba-tiba, sutradara Awi Suryadi memilih membangun rasa takut melalui situasi, konflik, dan tekanan batin yang dialami setiap karakter.
“Jadi jauh lebih berbeda karena ini tuh benar-benar ada mencekamnya juga walaupun lagi nggak ada jump scare. Jadi dari awal sampai akhir mental dan pikiran kita benar-benar diuji banget,” ungkapnya.
Pernyataan Titi sekaligus menggambarkan tren baru film horor Indonesia yang mulai banyak menggabungkan unsur psychological horror dengan drama keluarga. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan rasa takut yang lebih membekas karena bersumber dari konflik emosional para tokohnya, bukan hanya penampakan.
Dalam Perumahan Laddaland, Titi memerankan seorang ibu yang bersama keluarganya memutuskan pindah ke sebuah kompleks perumahan demi kehidupan yang lebih baik. Namun, harapan itu perlahan berubah menjadi mimpi buruk setelah berbagai kejadian misterius mulai meneror penghuni rumah.
Seiring meningkatnya intensitas gangguan supranatural, hubungan antaranggota keluarga ikut diuji. Ketakutan, rasa curiga, hingga tekanan mental menjadi bagian penting yang menggerakkan cerita.
Bagi Titi, lapisan drama keluarga itulah yang membuat film ini terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, di balik seluruh teror yang disajikan, Perumahan Laddaland tetap berbicara tentang arti rumah dan keluarga sebagai tempat seseorang kembali ketika menghadapi berbagai persoalan hidup.
“Apapun yang terjadi, keluarga tetap nomor satu. Kita kembali ke keluarga. Setelah capek kerja dan menghadapi semuanya, keluarga adalah tempat kita berpulang,” tuturnya.
Film yang disutradarai Awi Suryadi dan ditulis Lele Laila ini merupakan adaptasi dari film horor Thailand Ladda Land yang sempat sukses di Asia. Versi Indonesia berupaya mempertahankan nuansa horor psikologis dari film aslinya, sekaligus menghadirkan sentuhan yang lebih dekat dengan kultur keluarga Indonesia.
Perumahan Laddaland dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026. Dengan mengedepankan teror psikologis dibanding sekadar jump scare, film ini menjadi salah satu horor yang menawarkan pengalaman menonton berbeda bagi pencinta genre tersebut.













