Jakarta|| Radarpost.id
Penyanyi dan gitaris Iqbal Aria kembali meramaikan industri musik Indonesia lewat single keduanya berjudul “Takkan Ada”. Lagu ini menjadi langkah lanjutan Iqbal setelah merilis single perdana “Home”, sekaligus menandai eksplorasinya ke warna musik Indonesian retro pop.
Dalam proses produksinya, Iqbal Aria menggandeng Petra Sihombing sebagai produser. “Takkan Ada” dirilis melalui Better Days Production, label musik milik Afgan.
Secara musikal, “Takkan Ada” memadukan nuansa pop 80-an dan soft R&B dengan karakter musik yang ringan, dinamis, dan cenderung danceable. Di balik aransemen yang terdengar cerah, lagu ini membawa cerita tentang seseorang yang masih sulit melupakan kekasih masa lalu meski telah memiliki pasangan baru.
“Selama kau inginkan yang ku inginkan juga, selamanya ku akan cinta padamu,” menjadi salah satu penggalan lirik yang menggambarkan perasaan tersebut.
Iqbal mengatakan, ide “Takkan Ada” berangkat dari ketertarikannya terhadap musik era terdahulu yang memiliki struktur lagu dan modulasi yang tidak mudah ditebak.
“Aku suka dengan lagu-lagu zaman dulu yang mana modulasi di dalam bagian lagunya tidak dapat ditebak. Tapi, ketika didengarkan berkali-kali menjadi make sense,” ujar Iqbal.
Ia sengaja mempertemukan lirik bernuansa sedih dengan musik yang lebih ringan. Menurutnya, kesedihan dalam lagu tidak harus selalu diterjemahkan melalui musik yang gloomy atau penuh tekanan.
“Aku ingin lagu yang liriknya sedih dengan musik yang agak goofy, dancy, namun tetap light. Tentunya, masih sesuai dengan karakterku. Meski sedih, aku ingin lagunya tidak gloomy, desperate, ataupun stressful, tapi fun,” katanya.
Untuk memperkuat karakter musik tersebut, Iqbal memilih Petra Sihombing sebagai produser. Ia menilai musikalitas Petra memiliki kesesuaian dengan arah musik yang ingin dibangun dalam “Takkan Ada”.
“Dengan sentuhan Petra Sihombing, ‘Takkan Ada’ jadi lebih indah secara sound design dan rasa,” ujar Iqbal.
Dari Rock hingga Solois
Perjalanan musik Iqbal Aria tidak dimulai dari musik pop. Sejak kecil, ia telah menekuni aktivitas bermusik, khususnya menyanyi dan bermain gitar.
Ia mempelajari berbagai genre, mulai dari jazz yang menjadi akar musikalnya, pop, vintage rock hingga metal. Pada 2015, Iqbal mulai serius menekuni dunia musik dan tampil di berbagai panggung.
Kariernya kemudian berkembang ketika pada 2019 ia dikenal sebagai vokalis sekaligus gitaris grup heavy rock MAUT.
Iqbal selanjutnya mengambil langkah sebagai solois dan merilis “Home” sebagai single perdananya. Melalui “Takkan Ada”, ia menunjukkan sisi musikal yang berbeda dengan mengeksplorasi warna retro pop Indonesia.
Perubahan tersebut juga menjadi bagian dari upayanya untuk keluar dari zona nyaman sebagai musisi.
Bertemu Afgan hingga Jadi Artis Pertama Better Days Production
Perjalanan Iqbal Aria sebagai solois turut mempertemukannya dengan penyanyi Afgan pada 2024. Keduanya bertemu dalam sebuah acara karaoke ketika Iqbal diminta untuk bernyanyi.
Afgan kemudian melihat karakter vokal Iqbal yang kuat dengan timbre soulful. Selain kemampuan bermusik, Afgan juga menilai Iqbal memiliki sikap yang rendah hati, terbuka untuk belajar, dan autentik.
Iqbal akhirnya menjadi artis pertama yang bergabung dengan Better Days Production, label yang didirikan Afgan.
Menurut Afgan, Iqbal memiliki karakter musikal yang sesuai dengan arah dan prinsip label tersebut.
“Iqbal menunjukkan dirinya sebagai sosok yang versatile sebagai seorang artis. Di single-nya yang ke-2 ini, Iqbal switch musiknya dari ‘Home’ yang akustik menjadi ‘Takkan Ada’ dalam balutan Indonesian retro pop,” kata Afgan.
Afgan menilai eksplorasi genre menjadi langkah penting bagi Iqbal untuk memperluas jangkauan pendengarnya.
“Memang sudah saatnya bagi Iqbal untuk membuka diri ke genre musik yang baru agar ia bisa masuk ke dalam market yang lebih besar,” ujarnya.
Menurut Afgan, kombinasi antara kemampuan bermusik dan kemauan Iqbal untuk terus belajar menjadi modal penting dalam membangun karier di industri musik Indonesia.
Dengan “Takkan Ada”, Iqbal Aria tidak hanya melanjutkan perjalanan solonya setelah “Home”, tetapi juga memperlihatkan keberaniannya mengolah pengalaman musikal dari berbagai genre ke dalam identitas baru sebagai solois.













