Jakarta|| Radarpost.id
Kesenian Jaran Kepang atau Jathilan mendapat sentuhan baru dari penyanyi muda asal Jawa Tengah, Bianca Shakila. Lewat single terbarunya berjudul “Jaran Kepang”, Bianca memadukan unsur budaya Jawa dengan musik hiphop, koplo, dan remix untuk mendekatkan kesenian tradisional kepada generasi muda.
lagu tersebut bukan sekadar karya musik, tetapi juga menjadi cara untuk ikut nguri-uri budaya Jawa di tengah perkembangan industri hiburan dan musik modern.
“Aku pengin sekali lewat lagu Jaran Kepang ini aku bisa nguri-uri budaya Jawa, yaitu kesenian Jathilan atau Jaranan,” ujar Bianca Shakila.
Saat ini Bianca, ide menciptakan lagu “Jaran Kepang” muncul ketika dirinya mendapatkan inspirasi pada momentum Malam Suro 2026. Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya dengan aransemen yang lebih dekat dengan karakter musik populer saat ini.
“Lagu ini jujur tercipta saat mendapatkan inspirasi di Malam Suro 2026 kemarin,” kata Bianca.
Jaran Kepang Bertemu Hiphop, Koplo, dan Remix
Dalam penggarapannya, Bianca tidak meninggalkan identitas budaya yang menjadi dasar lagu. Unsur Jathilan justru ditempatkan sebagai bagian penting dari konsep musik, kemudian dipadukan dengan warna hiphop, koplo, dan remix.
Aransemen lagu tersebut dikerjakan bersama Cak Bram, Shakila Musik, dan Musiclabs. Menariknya, Bianca memilih konsep pengiring yang relatif sederhana dengan menghadirkan seorang operator DJ.
“Dalam proyek musik ini, aku sengaja cuma menghadirkan pengiring seorang operator DJ,” ujarnya.
Pilihan tersebut menjadi bagian dari upayanya menghadirkan warna berbeda sekaligus menawarkan Jaran Kepang kepada pendengar yang lebih akrab dengan musik modern.
“Tujuannya memberi tawaran baru kepada penikmat musik yang suka hiphop, koplo, dan remix,” sambungnya.
Tidak hanya musik, Bianca juga memberi perhatian pada lirik. Ia menyebut terdapat pesan tertentu dalam lagu tersebut, termasuk unsur mantra yang disisipkan ke dalam lirik.
“Part lirik di dalamnya ada pesan yang mendalam dan di antara lirik sederhananya juga terselip mantra-mantra yang punya manfaat untuk kita bila bisa memanfaatkannya,” tutur Bianca.
Membawa Jaran Kepang ke dalam musik modern merupakan salah satu cara agar kesenian tradisional tetap memiliki ruang di tengah perubahan selera hiburan.

Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal Jaran Kepang sebagai pertunjukan tradisional, tetapi juga memahami bahwa kesenian tersebut memiliki nilai budaya yang dapat dikemas dalam berbagai bentuk kreatif.
“Harapannya kesenian Jaran Kepang bisa dikenal oleh anak-anak generasi sekarang,” kata Bianca.
Video tersebut diproduksi Shakila Enterprise dengan mengambil latar suasana pedesaan di wilayah Semarang.
Sebelum lagu dirilis, Bianca terlebih dahulu memperkenalkannya melalui sejumlah teaser di media sosial. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya membawa tema budaya Jawa ke ruang digital yang banyak diakses generasi muda.
Bianca bukan nama baru dalam dunia hiburan Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai penyanyi pop dangdut berbahasa Jawa yang juga dekat dengan perkembangan musik ambyar.
Pada 2020, Bianca sempat mendapatkan dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang ketika menggarap lagu “Lawang Sewu”.
Karier panggungnya kemudian berkembang melalui sejumlah pertunjukan berskala besar. Pada Juli 2024, Bianca tampil dalam perayaan HUT Bhayangkara Polda Jawa Tengah di Semarang yang dihadiri sekitar 60 ribu orang.
Ia kemudian tampil di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, di hadapan belasan ribu penonton. Pada Oktober 2024, Bianca juga tampil bersama Uut Permatasari dalam sebuah acara di Palangkaraya.
Memasuki 2025, aktivitas panggung Bianca berlanjut ke Cargill Ketapang, Kalimantan Barat. Pada Agustus tahun yang sama, ia tampil dalam rangkaian HUT Provinsi Jawa Tengah ke-80 di Alun-alun Jepara bersama NDX AKA.
Bianca juga sempat menjajal pengalaman di dunia program televisi melalui “The Police” yang tayang di Trans7. Dalam program tersebut, ia mengikuti kegiatan patroli bersama anggota kepolisian dan mendatangi sejumlah lokasi yang disebutnya berada di wilayah rawan.
“Vibes adrenalinnya sangat beda karena harus sidak ke daerah-daerah yang notabene di zona rawan,” ungkap Bianca.
Kini, melalui “Jaran Kepang”, Bianca kembali mempertemukan dua dunia yang berbeda: akar budaya Jawa dan musik populer modern.
Jathilan bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi tradisi yang masih relevan untuk diperkenalkan kembali dengan pendekatan yang sesuai dengan zaman.
“Karena kebetulan memang Jathilan merupakan tradisi yang punya nilai luhur di tanah air kita,” pungkas Bianca.













