|| JAKARTA || RADAR POST.ID ||
Suasana penuh refleksi dan semangat kebangsaan menyelimuti pameran fotografi yang digelar untuk memperingati Bulan Bung Karno, bertepatan dengan hari kelahiran Proklamator RI, 6 Juni. Uniknya, peringatan kali ini juga bersamaan dengan Hari Raya Iduladha, yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai pesan simbolik akan pentingnya pengorbanan dan perjuangan di masa kini.
Namun, penyelenggara pameran yang juga fotografer senior, Mas Toh, mengingatkan agar publik tidak mencampuradukkan aspek spiritual dengan fakta sejarah.
“Bung Karno lahir 6 Juni adalah fakta sejarah. Iduladha 6 Juni juga fakta sejarah. Itu semua sudah takdir Allah SWT. Tidak perlu dicampuradukkan,” tegasnya.
Pameran tersebut menampilkan berbagai karya fotografi Mas Toh yang merekam jejak perjalanan bangsa—dari masa perjuangan kemerdekaan hingga dinamika sosial kontemporer. Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menjadi bentuk penghormatan terhadap Bung Karno, melainkan juga sebagai upaya nyata menggalang dana bagi mereka yang membutuhkan, termasuk jurnalis, musisi, serta masyarakat umum yang tengah menghadapi kesulitan kesehatan.
“Kami membantu tanpa birokrasi yang rumit. Banyak yang datang minta bantuan karena stroke, patah tulang, dan sebagainya. Maka dari itu, kegiatan seperti ini penting untuk terus digelar,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan seputar kemungkinan keluarga Bung Karno mengajukan rehabilitasi hukum atau pengadilan ulang terkait perlakuan terhadap sang Proklamator di era Orde Baru, Mas Toh menilai hal itu tidak lagi relevan.
“MPRS sudah mencabut keputusan-keputusan lama, dan Bung Karno sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Jadi tidak ada yang perlu diklarifikasi lagi,” tuturnya lugas.
Turut hadir dalam pameran, politisi sekaligus budayawan Fadli Zon, yang menyampaikan apresiasinya terhadap karya-karya yang dipamerkan. Ia menilai bahwa foto-foto Mas Toh tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga catatan sejarah yang bernilai tinggi.
“Mas Toh adalah seniman sejati. Foto-fotonya merekam peristiwa penting, tokoh-tokoh besar, dan kehidupan rakyat biasa. Ini bagian dari upaya merawat sejarah kita,” ujar Fadli.
Ia juga menegaskan bahwa posisi Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Proklamator dan Founding Fathers sudah final dan tidak tergantikan.
“Status beliau sebagai pahlawan nasional dan proklamator sudah jelas dan resmi melalui keputusan presiden. Sekarang tugas kita adalah melanjutkan perjuangan beliau dalam konteks kekinian,” tambahnya.
Pameran ditutup dengan sesi makan siang bersama dan hiburan, mempererat silaturahmi di antara peserta, tamu undangan, serta komunitas seni dan sejarah yang hadir.













