Bekasi|| Radarpost.id
Krisis air bersih yang melanda Kampung Pamoyanan, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, tak hanya menyulitkan kebutuhan rumah tangga warga. Kemarau berkepanjangan juga mengubah rutinitas anak-anak sekolah yang kini harus mandi di sungai sebelum berangkat belajar.
Akibatnya, tidak sedikit siswa yang terlambat tiba di sekolah karena harus mengantre di Kali Tegakadu-Leuwi Kacapi, satu-satunya sumber air yang masih bisa dimanfaatkan warga.
“Anak jadi sering telat sekolah, soalnya mereka juga ikut mandi di kali. Biasanya subuh sudah berangkat, pulangnya sekitar jam 07.30, itu juga kalau enggak antre,” kata Iin (33), warga Desa Sirnajati.
Menurut Iin, keluarganya telah mengalami krisis air bersih selama sekitar empat bulan. Sumur di rumah nyaris tidak lagi mengeluarkan air sehingga seluruh kebutuhan sehari-hari bergantung pada air sungai.
Untuk mencapai lokasi, warga harus berjalan kaki sekitar satu jam atau menempuh perjalanan 15 hingga 20 menit menggunakan sepeda motor. Air sungai digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan, hingga mencuci beras.
Sementara itu, kebutuhan air minum tetap dipenuhi dengan membeli air galon isi ulang karena air sungai tidak layak dikonsumsi.
Jarak yang jauh membuat warga tidak bisa setiap saat mengambil air. Mereka memilih mengumpulkan pakaian kotor terlebih dahulu sebelum mencuci agar tidak bolak-balik ke sungai.
“Nyuci baju kadang dua hari sekali. Bajunya dikumpulin dulu biar enggak capek bolak-balik,” ujarnya.
Tak hanya pada pagi hari, Iin mengaku masih harus kembali ke sungai pada siang hari untuk mengambil persediaan air bagi keluarganya. Meski merasa khawatir mandi di sungai, kondisi tersebut menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari.
“Sebenarnya takut mandi di kali. Tapi mau gimana lagi, kalau enggak ke kali ya enggak mandi,” tuturnya.
Warga menyebut selama ini sumur mereka bergantung pada air hujan. Namun minimnya curah hujan selama musim kemarau menyebabkan cadangan air tanah terus menurun hingga sumur-sumur warga mengering.
Kondisi tersebut membuat aktivitas sederhana seperti mandi dan mencuci kini membutuhkan perjuangan ekstra, bahkan berdampak pada aktivitas belajar anak-anak yang harus mengawali hari dengan mengantre air sebelum masuk sekolah.













