Jakarta|| Radarpost.id
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan kondisi cuaca di Indonesia pada awal April 2026 masih didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, disertai potensi hujan lebat di sejumlah wilayah.
Dalam keterangan resminya, BMKG menyebutkan hujan lebat masih terjadi di berbagai daerah pada periode akhir Maret 2026, dengan curah hujan tertinggi tercatat di Papua Selatan mencapai 140 mm per hari, disusul Sumatra Utara 105,2 mm per hari, Jawa Tengah 94,1 mm per hari, Aceh 92 mm per hari, serta Papua 78,6 mm per hari.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer, seperti gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin, yang masih aktif di sejumlah wilayah Indonesia.
Selain itu, peralihan dominasi monsun Asia menuju monsun Australia turut memicu terbentuknya pola sirkulasi dan konvergensi udara yang meningkatkan potensi hujan.
BMKG menjelaskan, dalam sepekan ke depan atau periode 31 Maret hingga 6 April 2026, dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal masih berperan dalam membentuk pola cuaca di Indonesia.
Secara global, fenomena El Niño-Southern Oscillation berada pada fase netral, dengan indeks NINO 3.4 sebesar -0,51. Kondisi ini tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia.
Sementara itu, Dipole Mode Index (DMI) juga berada pada fase netral dengan nilai -0,13, sehingga dampaknya terhadap distribusi curah hujan relatif terbatas.
Pada skala regional, monsun Australia terpantau menguat dan diprakirakan akan terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Penguatan ini menyebabkan aliran massa udara kering dari Australia menuju Indonesia, yang menjadi salah satu indikasi awal peralihan menuju musim kemarau.
Meski demikian, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi melintasi wilayah Sumatera bagian utara hingga tengah serta sebagian Papua, yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Selain itu, gelombang Rossby Ekuatorial juga diperkirakan aktif di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Aceh, Laut Natuna, Kalimantan Barat, serta Samudera Pasifik utara Papua, yang meningkatkan peluang hujan di wilayah tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang, khususnya di Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Barat.
Sementara itu, musim kemarau 2026 diprakirakan mulai berlangsung secara bertahap pada April di sekitar 114 zona musim atau 16,3 persen wilayah Indonesia. Wilayah yang berpotensi lebih awal memasuki kemarau meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara.
BMKG menambahkan, pada Mei 2026 sebanyak 184 zona musim atau 26,3 persen wilayah diprediksi mulai memasuki kemarau, disusul pada Juni 2026 sekitar 163 zona musim atau 23,3 persen wilayah lainnya.
“Pergerakan awal musim kemarau diprakirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara dan bergerak ke arah barat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya,” demikian pernyataan BMKG.













