Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

FFH Edisi Ke-5 Bahas Sensor Film Horor, “Suzanna: Santet Dosa Di Atas Dosa” Jadi Film Terpilih

Pada edisi ke-5 yang berlangsung di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026), FFH mengangkat tema “Horor Sensor, Promosi Film Horor”.(Istimewa)
banner 120x600

Jakarta|| Radarpost.id

Festival Film Horor (FFH) kembali digelar dan kian menunjukkan eksistensinya di kalangan pecinta film genre horor. Pada edisi ke-5 yang berlangsung di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026), FFH mengangkat tema “Horor Sensor, Promosi Film Horor”.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari industri film seperti Akhlis Suryapati (penggiat dan kritikus film), Ryan Fadilah (editor), serta Rama Djunarko (co-sutradara), dengan Irfan Handoko sebagai moderator.

Dalam diskusi, para pembicara mengupas bagaimana proses sensor dalam film horor ternyata sudah dimulai sejak tahap awal produksi, bahkan sejak ide masih dirancang.

Salah satu pembicara mengungkapkan bahwa praktik “sensor internal” kerap dilakukan oleh para sineas demi menjaga orisinalitas ide.

“Bahkan judul film bisa dirahasiakan. Tidak jarang sutradara pun belum mengetahui judul proyeknya. Ini untuk menghindari pencurian ide,” ujarnya.

Sementara itu, Rama Djunarko menyoroti strategi agar film bisa lolos sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF). Ia menyebut bahwa pendekatan kisah nyata kerap menjadi jalan aman, meskipun tetap memiliki tantangan tersendiri.

“Kalau angkat kisah nyata sering lolos sensor, tapi kadang keluarga korban meminta adegan tertentu dihilangkan, terutama yang terlalu sensitif,” jelasnya.

Di sisi lain, Akhlis Suryapati menekankan pentingnya memahami akar cerita dalam produksi film horor. Menurutnya, kekuatan horor terletak pada unsur kejutan yang dikombinasikan dengan aspek mistik yang dekat dengan budaya Indonesia.

“Horor itu soal kejutan. Di Indonesia, unsur mistik jadi kekuatan utama. Ini bisa jadi strategi agar film tetap menarik sekaligus lolos sensor,” katanya.

Meski memiliki sudut pandang berbeda dalam menyiasati sensor, para pembicara sepakat bahwa keberadaan lembaga sensor merupakan bentuk perlindungan negara terhadap masyarakat dari potensi dampak negatif film.

Tak hanya dalam produksi, aspek promosi film juga dinilai harus mematuhi aturan. Promosi yang menimbulkan keresahan publik tetap bisa dibatasi meski film telah lolos sensor.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, FFH edisi ke-5 juga memberikan penghargaan kepada sejumlah insan film. Film “Suzanna: Santet Dosa Di Atas Dosa” terpilih sebagai Film Terbaik dan meraih Nini Suny Award.

Adapun daftar pemenang FFH edisi ke-5:

Film Terpilih: “Suzanna: Santet Dosa Di Atas Dosa”

Pemeran Wanita Terpilih: Sandrinna Michelle (Danur)

Pemeran Pria Terpilih: Iwa K (Suzanna)

Sutradara Terpilih: Awi (Danur)

Director of Photography Terpilih: Muhammad Firdaus (Suzanna)

FFH yang rutin digelar setiap bulan ini menjadi ruang diskusi sekaligus apresiasi bagi para pelaku industri film horor di Indonesia.