Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Kirab Budaya Lebaran Depok, Wujud Nyata Budaya di Kota Depok Perlu di Lestarikan

banner 120x600

Depok || Radarpost.id

Perayaan Lebaran Depok berlangsung meriah dengan kehadiran pawai budaya lintas daerah pada Sabtu, 9 Mei 2026. Kegiatan ini akan mencapai puncaknya sampai malam.

Kirab budaya yang diikuti ribuan peserta ini hadir dengan beragam adat Nusantara, bukan hanya Depok ada Betawinya.

Beberapa di antaranya, seperti penampilan Ogoh-ogoh, Reog Ponorogo, Barongsai, hingga atraksi pencak silat khas Depok.

“Ya inilah keguyuban kebersamaan, kekeluargaan sebagai wujud harapan kita merasakan Depok adalah rumah kita,” kata Walikota Depok, H. Supian Suri, di sela sela menyambut kirab budaya, Sabtu (9/5/2026).

Supian memastikan, agenda tersebut akan menjadi bagian acara rutin tahunan. Namun ia berharap, khusus untuk pawai budaya dilaksanakan malam hari.

“Ya saya melihat suasananya, terik matahari, rasa-rasanya tapi ini menjadi baru diskusi. Kedepan, kemarin saya juga udah ketemu Pak Gubernur, mau dikolaborasikan juga dengan kegiatan provinsi mungkin nanti kita adakan satu kegiatan yang sama, juga didalamnya dengan provinsi dan diadakan mungkin malam,” tuturnya.

Supian mengatakan, pemilihan tempat di Alun-Alun GDC dinilai sudah cukup tepat. “Mungkin diantisipasi luasan buat penonton. Kalau kita lihat tadi, rasanya ruang yang udah disiapin ternyata masih sempit. Jadi bisa aja nanti tenda kita tarik ke belakang,” ujarnya.

“Prinsipnya kita ingin Depok ini bener-bener dirasakan sebagai rumah buat kita semua yang tinggal di Depok,” sambung dia.

Lebih lanjut Supian mengaku, dirinya siap mendukung rencana sejumlah anggota DPRD yang menginginkan Lebaran Depok masuk dalam peraturan daerah atau Perda.

“Ya saya sangat mengapresiasi karena keharapan kita kegiatan yang udah positif ini bisa terus berlangsung setiap tahun. Sekali lagi ini jadi media silaturahmi, media unjuk kebolehan dan kesenian,” ucapnya.

Ramai-ramai Dorong Perda Wakil Ketua DPRD Depok, Yuni Indriany, mengaku setuju dan siap mendorong kegiatan tahunan ini memiliki landasan Perda.

“Selalu men-support ya, karena ini kan bagian dari kita tuh memastikan kelestarian budaya kita, khususnya Depok, menjadi hegemoni Kota Depok juga, salah satunya kan Lebaran Depok,” ujarnya.

Atas dasar itulah, menurut dia perlu ada payung hukum yang mengatur kegiatan tersebut. Ini penting untuk memastikan pelestarian budaya ini siapapun pemimpinnya.

“Jadi siapapun pemimpinnya, acara permanen tiap tahun. Dan itu sudah ada contohnya ya di Jakarta. Jakarta ada Lebaran Betawi.”

Yuni berpendapat, acara ini memiliki segudang manfaat bukan hanya sebagai destinasi wisata, tapi juga sebagai identitas budaya.

“Mengingatkan gen-Z sekarang yang sudah mulai modernisasi makanya perlu mengingat zaman dulu, tradisi tempo-tempo dulu. Kayak proses kemarin kita ngubek empang, nyedengin baju, ngaduk dodol dan lain-lain.” “Dari sini, kita mengajarkan anak-anak cucu kita untuk melestarikan budaya-budaya yang sudah pernah ada. Jangan sampai krisis identitas,” sambung politisi PDI-Perjuangan tersebut.

Hal senada juga disampaikan Anggota DPRD Depok Hamzah, ia mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu upaya melestarikan budaya sekaligus magnet wisatawan.

“Artinya dipandang perlu atau tidak? Ya, sangat perlu. Hal yang baik, perestarian budaya dan tradisi orang-orang Depok. Dan kita juga tampilkan budaya-budaya nusantara,” jelasnya.

“Kalau Lebaran Depok ini dijadikan perda, menjadikan khususan secara otomatis, itu semua anggarannya disupport oleh anggaran APBD. Dan kita harus seperti itu. Maka, menurut nama saya, saya sangat setuju. Ini hal positif kok,” timpalnya politisi Gerindra yang juga dipercaya sebagai Ketua Acara Lebaran Depok 2026 ini.

Dukungan serupa juga mengalir dari Anggota DPRD Fraksi PKB, Babai Suhaimi. “Dilihat dari kemanfaatan Lebaran Depok ini, menurut saya wajar. Kita buat peraturan sebagai pengikat hukum, karena ini untuk kepentingan masyarakat,” tuturnya.

Kemudian, lanjut Babai, Lebaran Depok ini adalah ikhtiar untuk melestarikan budaya. “Dan kita lihat tadi, walaupun Lebaran Depok, tapi bukan hanya adat istiadat Depok saja yang ditampilkan. Tapi berbagai macam daerah lain. Jadi menurut saya itu lebih tepat ketika memang diperdakan.

Babai juga mengatakan, kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Depok adalah kota yang penuh dengan toleransi.

“Ya, salah satunya itu. Dengan perda itu nanti, dan bukan hanya persoalan tentang budaya, tapi persoalan tentang tadi, tradisi kebersamaan semua, adat istiadat yang ada. Itu kan lintas persoalan SARA,” tegasnya.

Sebagai Anggota DPRD Jawa Barat, Pradi Supriatna berharap, agenda ini menjadi bagian dari heritage Kota Depok yang masuk di dalam agenda-agenda kegiatan nasional.

“Ya, harapan saya tentu ke depan seperti itu. Maka Indonesia kecil ini kan ada di Kota Depok. Berbagai unsur budaya macam-macam ditampilkan di sini ya,” ucapnya.

“Maka sudah barang tentu kami yang memang tinggal di Depok nih sangat bersyukur ya sudah selayaknya kegiatan yang sudah sekian tahun berjalan ini menjadi bagian tentu identitas Kota Depok,” timpalnya lagi. (**).