Depok || Radarpost.id
Pondok Pesantren DAR eL FIKR di Kelurahan Serua Kecamatan Bojongsari Kota Depok, menggelar Puluhan Santri di wisuda tahfidz Al-Qur’an 30 jus dan Kitab, pada Minggu (25/1/2026), dihadiri langsung Walikota Depok, Dr. H. Supian Suri.
Acara yang diadakan di halaman utama Pondok Pesantren tersebut dihadiri oleh ratusan tamu undangan. Mulai dari jajaran Pemerintah Kota Depok, wali santri, dan juga tokoh masyarakat setempat.
Dalam suasana penuh semangat, para santri merayakan keberhasilan mereka menyelesaikan pendidikan agama dan akademik di Pondok Pesantren DAR eL FIKR.
Pimpinan Pondok Pesantren KH Hadi Hadiatullah, SQ. MA mengatakan, bahwa sejak berdiri Pesantren telah melahirkan ratusan penghafal Al-Quran yang saat ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan bahkan sudah berkancah di berbagai Negara.
“Alhamdulillah kita melaksanakan wisuda tahfidz Al-Qur’an dan kitab. Kegiatan ini dilaksanakan tiap tahun bagi santri yang telah menghafal 30 juz Al-Quran,” ujar KH. Hadi.
Pimpinan Pondok Pesantren DAR el Fikr KH. Hadiyatullah, Lc., MA mengutarakan, puluhan santri yang di Wisuda hapal Al-Qur’an 30 Juz dan Kitab, usianya berbeda-beda. Serta, tidak membatasi berapa lama mereka harus mampu membaca, menghafal Al Qur’an dan memahami kitab kuning.
“Disini kemampuan santri kan beda-beda, ada yang cepat, ada yang biasa-biasa dan ada yang lambat. Tapi, hampir semua santri hapal kitabiah, lantaran mempelajari setiap masuk kelas,” jelasnya.

“Yang Santri di sini berasal dari mulai Aceh sampai Madura, ada Kalimantan. Nah tadi yang wisuda Tahfidz itu dari Sulawesi, Riau sudah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI bahkan dari Depok juga ada,” papar Kiai Hadi.
Dirinya menerangkan, Al-Quran sebagai pegangan hidup mesti dipelajari bukan hanya hapal atau dibaca. Kemudian kenapa ada kitab, karena untuk mempelajari Al Qur’an tidak gampang, mesti memiliki perangkat ilmu.
“Kalau kita tidak belajar kitab ngandelin al-qur’an doang, nanti ibaratnya kayak melihat buah manggis. Kita tidak tahu di dalamnya manis, disangkanya pahit padahal pas dibuka ternyata manisnya,” paparnya.
Kiai Hadi mengemukakan, kalau mempelajari Al-Qur’an juga perlu diteliti ayatnya. Misalnya, Allah menurunkan air maksudnya, apa di mana Madinah apa Makkah, tujuannya apa.
“Nah itu, kandungan Al-Qur’an hanya bisa dipahami kalau kita belajar kitab kuning. Tidak bisa hanya hapal saja,” ungkapnya.

Para santri pun, beber Kiai, bahkan ada yang mau melanjutkan kuliah umum seperti ke IPB. Santri DAR eL Fikr ditawarin juga sama IPB untuk anak-anak yang 30 juz, ITB juga nawarin kalau ada yang memiliki kemampuan, UI juga pernah nawarkan.
Bahkan ada yang kuliah sekarang itu, S2 manajemen keuangan di Australia. Ia tidak membatasi para santri, untuk menuntut ilmu umum lainnya, agar bisa bekerja diberbagai bidang.
“Setelah mondok mereka ada yang mau jadi insinyur, dokter apapun profesinya kita perbolehkan. Sehingga lulusan Pondok DAR eL Fikri ini, bisa bekerja ditempatkan dimana saja,” tuturnya. (**).













