Jakarta || Radarpost.id
Kepulangan ke kampung halaman seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Namun, bagi Beni, perjalanan pulang justru membuka pintu menuju persoalan yang jauh lebih besar. Masa lalu, keluarga, ambisi, hingga kepercayaan masyarakat setempat bertemu dalam film horor terbaru Suanggi: Ilmu Kutukan.
Film produksi Mutiara Films dan Subtube Studio tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 10 September 2026. Film berdurasi 88 menit ini menggabungkan genre horor dengan thriller dan misteri.
Ceritanya berpusat pada Beni, seorang mantan penyanyi yang kariernya tidak lagi berjalan seperti dulu. Dalam kondisi terlilit masalah keuangan, ia memilih kembali ke kampung halaman bersama kekasihnya, Gia.
Kepulangan Beni bukan tanpa alasan. Ia mendapat kabar mengenai kondisi Mama Lin, ibu angkatnya yang sedang sakit. Tetapi setibanya di sana, keduanya justru mendapati suasana yang tidak biasa.

Warga seolah menyimpan kekhawatiran terhadap kedatangan Beni. Kecurigaan semakin kuat ketika berbagai kejadian aneh mulai terjadi.
Bagi Gia, situasi tersebut membuat kepulangan yang awalnya terlihat sederhana berubah menjadi teka-teki. Ia mulai merenungkan sejumlah hal tentang Beni, termasuk alasan sebenarnya mereka kembali ke tempat tersebut.
Di titik inilah Suanggi: Ilmu Kutukan membangun konflik horornya. Teror tidak hanya datang dalam bentuk gangguan mistis, tetapi juga muncul dari rahasia yang perlahan terbuka.
Sutradara Dom Dharmo membawakan cerita Suanggi ke dalam format film fiksi dengan menjadikan budaya Indonesia Timur sebagai salah satu fondasi dunia cerita.
Suanggi sendiri dikenal dalam berbagai cerita masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia Timur. Cara masyarakat menggambarkannya pun tidak seragam. Perbedaan versi cerita tersebut menjadi bagi ruang film untuk membangun interpretasi sinematiknya sendiri.
Namun, film ini tidak berhenti pada upaya menghadirkan sosok atau kekuatan supernatural.
Ada persoalan manusia yang ikut menjadi penggerak cerita. Keluarga, rasa takut, kepercayaan, ambisi, serta keputusan seseorang ketika berhadapan dengan kekuatan yang tidak sepenuhnya ia pahami menjadi bagian dari konflik.
Dom Dharmo melihat cerita rakyat Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi film yang dapat diterima penonton lintas daerah.
“Indonesia memiliki kekayaan cerita rakyat yang luar biasa dan layak mendapat ruang lebih luas di industri kreatif,” ujar Dom Dharmo.
Menurutnya, cerita Suanggi dikembangkan dengan memasukkan persoalan yang lebih universal sehingga tidak hanya berbicara mengenai mitos atau ketakutan.
Produser Bona Pascal memberikan perspektif lain mengenai kekuatan yang menjadi pusat cerita film ini.
Menurut Bona, Suanggi tidak sejak awal ditempatkan sebagai sesuatu yang semata-mata jahat. Kekuatan tersebut dalam konteks cerita memiliki fungsi yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
Persoalan muncul ketika kekuatan tersebut disalahgunakan.
Konsep tersebut menjadi salah satu dasar yang menarik dalam film Suanggi: Ilmu Kutukan. Alih-alih hanya mempertentangkan manusia dengan makhluk supernatural, film ini juga berbicara mengenai bagaimana sebuah kekuatan dapat berubah menjadi ancaman ketika berada di tangan yang keliru.
“Suanggi ini adalah kekuatan yang amat berbahaya jika berada di tangan yang salah,” kata Bona Pascal.
Pendekatan itu membuat konflik dalam film memiliki lapisan yang lebih luas. Teror bukan hanya persoalan siapa yang menjadi korban, tetapi juga bagaimana seseorang menggunakan kekuatan dan menghadapi konsekuensi dari pilihannya.
Karakter Gia yang dimainkan Carissa Perusset memiliki posisi menarik dalam cerita.
Sebagai orang yang berasal dari luar lingkungan tersebut, Gia berada dalam situasi ketika banyak hal yang ia lihat tidak sepenuhnya ia pahami. Karakter tersebut membuat penonton memiliki ruang untuk mengikuti berbagai kejanggalan dari perspektif seseorang yang sedang mencoba memahami lingkungan baru.
Carissa mengaku proses memerankan Gia membuatnya mendapatkan pengalaman baru, terutama karena harus beradaptasi dengan karakter dan latar budaya yang berbeda.
“Saya memerankan karakter Gia yang merupakan outsider, pacarnya si Beni,” ujar Carissa Perusset.
Untuk mempersiapkan perannya, Carissa mendapatkan pendampingan dari coach serta dukungan para pemain yang memiliki latar belakang dari Papua.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena Suanggi: Ilmu Kutukan tidak hanya menjual ketakutan, tetapi juga berusaha membangun atmosfer Indonesia Timur melalui karakter dan lingkungan tempat cerita berlangsung.
Pengalaman berbeda dirasakan Iwa K yang dipercaya memainkan karakter Aroba.
Bagi Iwa K, salah satu tantangan terbesar adalah membangun cara bicara dan intonasi yang sesuai dengan karakter serta lingkungan cerita.
Ia melakukan observasi dan penelitian untuk mendapatkan pendekatan yang tepat. Dalam proses tersebut, ia mendapat bantuan dari pelatih Bobi serta pemain lain, termasuk Yewen.
“Persiapan memang jadi PR, bagaimana intonasi, dialek Indonesia Timur, segala macam,” kata Iwa K.
Proses tersebut sekaligus membuat Iwa K melihat produksi film ini sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi sesuatu yang berbeda.
Sementara itu, aktor sekaligus komedian asal Papua John Yewen memerankan Bapa John.
Dibalik pepatahnya, terdapat kisah pribadi. John mengatakan karakter pendeta yang ia mainkan memiliki kaitan dengan cita-cita yang sebelumnya diharapkan oleh sang mama untuk dirinya sendiri.
Menariknya, pengalaman John selama terlibat dalam film juga cerita mistis. Ia mengaku mengalami kejadian yang menurutnya tidak biasa ketika sedang mempelajari naskah di tempat tinggalnya bersama Ian Williams, pemeran Reynold.
Pengalaman tersebut menambah cerita di balik proses pembuatan film horor Suanggi: Ilmu Kutukan.
Di tengah banyaknya film horor Indonesia yang terus bermunculan, Suanggi: Ilmu Kutukan mencoba mengambil jalur berbeda dengan menjadikan cerita dan atmosfer Indonesia Timur sebagai bagian penting dari identitas film.
Film ini tidak sekadar memindahkan kisah Suanggi ke layar lebar. Tim produksi juga menggabungkan penelitian budaya, pengembangan karakter, sinematografi, tata suara, dan lanskap Indonesia Timur untuk membangun atmosfer cerita.
Dengan latar tersebut, Suanggi: Ilmu Kutukan menawarkan horor yang tidak hanya bertumpu pada kejutan, tetapi juga pada misteri mengenai masa lalu, hubungan keluarga, kepercayaan masyarakat, dan konsekuensi dari sebuah keputusan.
Film yang disutradarai Dom Dharmo dan dibintangi antara lain Pangeran Lantang, Carissa Perusset, Iwa K, Dayu Wijanto, serta John Yewen. mengklasifikasikan film tersebut untuk penonton 21 tahun ke atas karena mengandung unsur kekerasan dan kengerian yang intens.
Bagi penonton yang ingin melihat sisi lain dari horor Indonesia, Suanggi: Ilmu Kutukan menawarkan kesempatan untuk masuk ke sebuah cerita yang berangkat dari budaya Indonesia Timur, tetapi dikemas sebagai konflik keluarga, rahasia, ambisi, dan teror yang saling berkelindan.












