Jakarta|| Radarpost.id
Langit mulai meredup di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Jumat (1/5/2026). Riuh suara orasi dan nyanyian solidaritas buruh yang sejak pagi menggema perlahan menghilang, berganti dengan bunyi sapu lidi yang beradu dengan aspal.
Di sepanjang Jalan Gatot Subroto, sisa-sisa aksi Hari Buruh Internasional masih tampak jelas. Plastik bekas minuman, kertas tuntutan, hingga potongan spanduk berserakan di jalan dan trotoar. Di beberapa titik, asap tipis masih mengepul dari sisa pembakaran.
Namun, di balik itu semua, ada wajah-wajah yang bekerja dalam diam.
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mulai bergerak ketika massa benar-benar membubarkan diri. Sekitar pukul 18.00 WIB, mereka menyebar, menyapu, mengumpulkan, dan mengangkut sampah yang tersisa dari aksi ribuan orang.
Adi (45), salah satu petugas PPSU, terlihat tak berhenti sejak sore. Keringat membasahi wajahnya, sementara tangannya terus mengayunkan sapu.
“Kami sudah siap dari siang, tapi baru bisa masuk total setelah massa bubar,” ujarnya di lokasi.
Baginya, pekerjaan hari itu bukan sekadar membersihkan sampah biasa. Sisa pembakaran menjadi tantangan tersendiri. Beberapa titik masih panas dan berasap, membuat proses pembersihan harus dilakukan dengan lebih hati-hati.
Tak hanya sampah, jejak lain dari aksi juga tertinggal di tembok dan pagar beton. Coretan cat semprot dan poster tuntutan menempel kuat—seakan menjadi “pesan” yang belum selesai disampaikan.
“Kalau yang coretan begini biasanya bukan kami yang tangani. Harus ada tim khusus atau dicat ulang,” kata Adi.
Di sisi lain, aparat kepolisian yang masih berjaga ikut membantu. Mereka mengangkat sampah berukuran besar dan memindahkan pembatas jalan agar arus lalu lintas bisa kembali normal.
Perlahan, wajah kawasan DPR berubah. Dari yang sempat penuh massa dan tuntutan, menjadi ruang yang kembali tertata.
Meski begitu, sisa-sisa aksi hari itu menyisakan cerita. Tentang tuntutan buruh yang belum sepenuhnya terjawab, tentang semangat yang sempat berkobar, dan tentang mereka yang datang setelah semuanya usai—untuk memastikan kota kembali berjalan seperti biasa.
Di antara debu, asap, dan sampah yang disapu, senja di DPR hari itu bukan sekadar penutup aksi. Ia menjadi pengingat, bahwa setiap peristiwa besar selalu menyisakan pekerjaan sunyi yang jarang terlihat.













