Depok || Radarpost.id
Kesenian tradisional khas Kota Depok, Topeng Cisalak, Kota Depok Jawa Barat, kini mendapat kehormatan besar Pemerintah Kota Depok.
Warisan budaya yang sudah diakui secara nasional ini resmi diangkat menjadi maskot Kota Depok dalam ajang bergengsi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat XV.
Pengangkatan ini bertujuan tidak hanya untuk mempromosikan olahraga, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya lokal kepada masyarakat luas.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, Eko Herwiyanto, menjelaskan bahwa Topeng Cisalak merupakan kesenian teater khas Betawi yang berasal dari Kampung Cisalak.
Kesenian ini diciptakan oleh Ibu Kinang pada tahun 1918 dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2022.
“Topeng Cisalak sekarang tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga telah menjelma sebagai simbol kebanggaan daerah di panggung olahraga,” tutur Eko, Minggu (26/4/2026).

Dalam ajang ini, Topeng Cisalak dihadirkan melalui dua karakter maskot yang unik dan penuh makna, bernama Toca dan Toci.
Toca: Simbol Semangat Juang dan Keberanian
Karakter Toca didesain untuk merepresentasikan semangat juang para atlet. Dengan dominasi warna merah, maskot ini melambangkan keberanian, daya saing, dan energi sportivitas yang tinggi.
Postur tubuhnya yang tegas mencerminkan ketangguhan, disiplin, dan kesiapan bertanding, sementara ekspresinya yang ceria menunjukkan bahwa olahraga juga sarat akan kegembiraan.
Toci: Simbol Sportivitas dan Persatuan
Sebagai penyeimbang, hadir karakter Toci yang didominasi warna putih. Warna ini menggambarkan kejujuran, ketulusan, dan sikap adil.
Gestur tangan yang menyatu pada karakter ini mencerminkan rasa hormat, persaudaraan, serta persatuan antar-atlet. Toci hadir untuk mengingatkan bahwa olahraga bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga tentang kedewasaan dan kebersamaan.
“Melalui Toca dan Toci, Topeng Cisalak tidak hanya hadir sebagai identitas budaya, tetapi juga membawa pesan kuat tentang semangat juang, sportivitas, dan persatuan dalam dunia olahraga,” pungkas Eko Herwiyanto. (**).













