Jakarta|| Radarpost.id
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyoroti masih minimnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memiliki sertifikat higienis setelah ratusan siswa di Jakarta Timur diduga mengalami keracunan usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, mengatakan hingga kini baru 167 SPPG yang mengantongi sertifikat higienis dari total unit layanan yang beroperasi di Jakarta.
“Pemprov DKI Jakarta sangat prihatin dan menanggapi serius kasus dugaan keracunan pangan ini,” kata Chico di Jakarta, Minggu.
Kasus dugaan keracunan tersebut terjadi di wilayah Jakarta Timur dengan jumlah siswa terdampak mencapai 252 orang. Para siswa dilaporkan mengalami gejala setelah mengonsumsi menu MBG berupa pangsit tahu yang disebut memiliki rasa masam.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Badan Gizi Nasional (BGN) guna menelusuri penyebab insiden tersebut.
Menurut Chico, sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan telah dibawa untuk diuji laboratorium oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Hasil pemeriksaan diperkirakan keluar pada pekan depan.
“Ada salah satu menu yang dilaporkan berasa masam. Sampel makanan sudah diambil untuk uji laboratorium,” ujarnya.
Pemprov DKI juga memastikan seluruh siswa yang mengalami gejala telah mendapatkan penanganan medis. Pemerintah daerah, kata dia, akan melakukan evaluasi terhadap standar keamanan pangan pada penyedia MBG, termasuk kepemilikan sertifikasi higienis di setiap SPPG.
Kasus ini kembali memunculkan sorotan terhadap pengawasan distribusi makanan dalam program MBG yang dijalankan di sejumlah sekolah. Evaluasi terhadap kualitas pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebut investigasi epidemiologi masih berlangsung untuk memastikan sumber kontaminasi makanan yang menyebabkan ratusan siswa mengalami dugaan keracunan tersebut.













