Semarang || Radarpost.id
PLN UP2B Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta memberdayakan ibu-ibu rumah tangga untuk mengolah gulma Rawa Pening menjadi produk bernilai jual di Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini untuk menambah keterampilan masyarakat serta menjadi langkah nyata dalam meningkatkan perekonomian warga berbasis potensi lokal sekaligus menjaga kelestarian ekosistem Rawa Pening.
Enceng gondok biasanya menutupi permukaan rawa secara cepat, menghambat masuknya sinar matahari, menurunkan kadar oksigen dalam air, serta mengganggu aktivitas perikanan, pariwisata, dan irigasi. Namun, di balik itu, tanaman ini juga memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Melalui pelatihan, enceng gondok (Eichhornia crassipes) yang tumbuh subur di kawasan Rawa Pening disulap menjadi bahan baku produk kerajinan seperti tas, keranjang, dan anyaman rumah tangga.
PLN UP2B Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta menggelar pelatihan bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Svargha Jaghat Anugeraha yang selama ini aktif mengembangkan potensi lokal di sekitar Rawa Pening. Melalui kerja sama ini, masyarakat khususnya ibu rumah tangga diajak untuk belajar mulai dari tahap paling dasar, yaitu cara memanen eceng gondok, teknik pengeringan, hingga proses penganyaman.
Pelatihan yang tepat akan menghasilkan produk yang memiliki standar kualitas layak jual. Tidak hanya aspek teknis kerajinan, warga juga dibekali wawasan tentang tren pasar, desain produk yang diminati konsumen, hingga cara menjaga konsistensi kualitas agar dapat bersaing di pasar UMKM.
General Manager PLN UIP2B Jawa, Madura, dan Bali, Munawwar Furqan, menyampaikan bahwa pelatihan tidak berhenti pada teori, melainkan benar-benar dapat langsung dipraktikkan oleh peserta. Selain itu dapat menjadi solusi terhadap masalah lingkungan di rawa pening sekaligus memberdayakan masyarakat secara ekonomi.
Selain Pokdarwis, program ini juga mendapat dukungan dari Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Semarang. Peran IWAPI sangat penting, khususnya dalam memberikan pendampingan kewirausahaan dan memperluas akses pasar. Produk kerajinan eceng gondok dari Desa Asinan nantinya tidak hanya dipasarkan di sekitar daerah Bawen, tetapi juga diarahkan menembus pusat oleh-oleh khas Kabupaten Semarang hingga platform e-commerce nasional.
Kolaborasi antara PLN, IWAPI, dan Pokdarwis ini memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di desa. Dengan adanya pendampingan berkelanjutan, warga tidak hanya dibekali kemampuan produksi, tetapi juga diberikan akses jaringan pemasaran yang lebih luas. Hal ini akan membuka jalan bagi Desa Asinan untuk dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan berbasis lingkungan di Jawa Tengah.
Ketua Srikandi PLN UP2B Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta, Elly Suryaningsih, menyampaikan bahwa pelatihan ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat Desa Asinan dapat meningkatkan potensi lokal menjadi sumber ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Pelatihan yang diselenggarakan PLN sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). Terdapat tiga poin yang tercapai melalui program ini diantaranya SDG poin 8, yaitu mendukung pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi selanjutnya SDG poin 12, terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab dan terakhir SDG poin 15, yaitu menjaga ekosistem daratan, dalam hal ini ekosistem rawa.
Dengan memanfaatkan bahan baku yang melimpah dan murah, masyarakat tidak hanya memperoleh sumber pendapatan baru, tetapi juga membantu menjaga kelestarian Rawa Pening. Setiap kerajinan yang dihasilkan sekaligus merepresentasikan solusi inovatif untuk mengatasi persoalan lingkungan.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan solusi jangka pendek, tetapi juga menciptakan rantai nilai berkelanjutan bagi perekonomian desa. Keberhasilan mengolah eceng gondok menjadi produk kerajinan bernilai ekspor membuka peluang Desa Asinan untuk menjadi pusat kerajinan berbasis lingkungan yang dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi masyarakat.













