Jakarta|| Radarpost.id
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama untuk meneladani semangat Raden Ajeng Kartini dengan berani berpikir berbeda serta menghadirkan perubahan nyata dalam pelayanan kepada masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan Menag saat peringatan Hari Kartini yang digelar di halaman kantor pusat Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, meneladani Kartini tidak cukup hanya melalui simbol atau seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam keberanian berpikir kritis dan bertindak untuk kemajuan bangsa.
“Raden Ajeng Kartini adalah pelopor kesadaran kemerdekaan perempuan Indonesia. Di usia muda, beliau sudah berani mempertanyakan berbagai kondisi sosial di lingkungannya,” ujar Menag.
Menag menjelaskan, pemikiran Kartini lahir dari kegelisahannya terhadap praktik sosial pada masanya, seperti pembatasan ruang gerak perempuan melalui tradisi pingitan serta keterbatasan akses pendidikan. Hal tersebut mendorong lahirnya gagasan tentang pentingnya keadilan dan kesetaraan.
Selain isu sosial, lanjutnya, Kartini juga memiliki pandangan progresif dalam memahami ajaran agama. Ia menilai, Kartini tidak sekadar membaca teks keagamaan secara literal, tetapi juga mendorong pemahaman yang lebih mendalam.
“Beliau tidak puas hanya membaca Al-Qur’an secara tekstual tanpa memahami maknanya. Kartini mendorong adanya tafsir agar agama tidak hanya menjadi dogma, tetapi menjadi pedoman hidup bagi masyarakat,” katanya.
Menag menambahkan, latar belakang Kartini sebagai bagian dari kalangan priyayi tidak menghalangi munculnya pemikiran kritis. Justru dari lingkungan tersebut, Kartini menunjukkan keberanian untuk melihat realitas secara berbeda dan menantang norma yang ada.
Ia menegaskan, keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan semangat memberi manfaat merupakan nilai utama yang harus diinternalisasi oleh ASN Kemenag dalam menjalankan tugas pelayanan publik.
“Seorang tokoh besar lahir dari keberanian untuk berpikir berbeda, berani mengambil sikap, dan menghadapi tantangan zamannya. Itulah yang ditunjukkan Kartini,” tegasnya.
Menag berharap peringatan Hari Kartini tidak hanya menjadi refleksi historis, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen menghadirkan ruang yang inklusif, adil, dan berdaya bagi seluruh elemen bangsa tanpa membedakan latar belakang maupun gender.













