Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Sanggar Hopeland Menari Debut di Ajang Internasional 24 Jam Menari ISI Solo

Sanggar tari tradisional Sunda yang berbasis di kawasan Hopeland Camp, lereng Gunung Salak tersebut mengirimkan tujuh penari remaja asal Desa Cipelang untuk tampil di panggung internasional.( Ist)
banner 120x600

Solo|| Radarpost.id

Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Solo) kembali menggelar perhelatan 24 Jam Menari dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia, Selasa (29/4/2026). Dalam ajang berskala internasional ini, Sanggar Hopeland Menari dari Bogor mencatatkan debut perdananya.

Sanggar tari tradisional Sunda yang berbasis di kawasan Hopeland Camp, lereng Gunung Salak tersebut mengirimkan tujuh penari remaja asal Desa Cipelang untuk tampil di panggung internasional.

Chief Financial Officer (CFO) Hopeland Camp, Umi Khulsum Ph.D, mengatakan partisipasi ini menjadi momentum penting bagi para penari binaannya yang sebagian besar baru pertama kali tampil di luar daerah.

“Penari yang kami bina itu anak desa di kaki gunung. Sebagian besar belum pernah ke luar kabupaten. Ajang ini penting untuk memupuk kepercayaan diri mereka,” ujar Umi dalam keterangannya.

Umi sendiri turut tampil membawakan Tari Gunung Sari, tarian klasik gaya Surakarta yang menggambarkan karakter ksatria halus Raden Gunung Sari dengan gerakan lembut, jujur, dan bijaksana.

Sementara itu, Tasya Aulia Putri membawakan Tari Kagembang khas Jawa Barat yang menggambarkan perempuan Sunda yang lincah, energik, dan penuh semangat cinta.

Penampilan juga diperkuat oleh enam penari siswi SMP Negeri 1 Cijeruk melalui Tari Sancang Gugat. Tarian ini merepresentasikan semangat perempuan Sunda modern yang berani membela kebenaran, dengan gerak dinamis yang terinspirasi dari tokoh wayang seperti Srikandi.

Sanggar Hopeland Menari sendiri merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial (CSR) Hopeland Camp. Sanggar ini bertujuan melestarikan budaya Sunda sekaligus memberikan aktivitas positif bagi remaja desa agar tidak bergantung pada gawai.

Ketua Umum Panitia 24 Jam Menari ISI Solo, Maryono, menjelaskan bahwa tahun ini acara mengusung tema “Tanpa Batas: Menembus Medan Budaya.”

“Perhelatan ini menjadi ruang terbuka bagi penari, koreografer, dan pegiat seni untuk bertukar gagasan serta pengalaman lintas budaya,” ujarnya.

Festival ini melibatkan sekitar 3.000 penari dari berbagai daerah di Indonesia seperti Bogor, Papua, Jakarta, Solo, Bandung, Surabaya, hingga Madura, serta partisipan dari mancanegara seperti Amerika Serikat.

Selain pertunjukan tari selama 24 jam tanpa henti, rangkaian acara juga mencakup pertunjukan dari keraton, pertemuan departemen tari perguruan tinggi dalam dan luar negeri, bazar industri kreatif, hingga orasi budaya.

Tahun ini, para penampil dalam 24 Jam Menari juga menjadi bagian dari program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Ikon Inspirasi.

Pertunjukan digelar di berbagai titik di lingkungan kampus ISI Solo, mulai dari pendopo, teater kecil, teater besar, hingga teater kapal yang terbuka untuk publik.