Jakarta || Radarpost.id
Hari terakhir gelaran “Persit Bisa 2026” berlangsung meriah di Balai Kartini, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan yang digelar Persit Kartika Chandra Kirana itu menghadirkan beragam pertunjukan budaya, fashion show, hingga diskusi pemberdayaan perempuan di era digital.
Mengangkat tema Tenun Pringgasela, acara penutupan menjadi ajang unjuk kreativitas anggota Persit sekaligus bentuk pelestarian budaya Nusantara melalui karya dan kolaborasi.
Sejak pagi, suasana kegiatan sudah dipenuhi antusiasme peserta dan pengunjung. Acara dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta penampilan Vocal Group Puspomad yang membawakan sejumlah lagu secara interaktif.
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah penayangan “Journey Pringgasela” yang memperlihatkan proses pembuatan serta nilai budaya Tenun Pringgasela sebagai warisan wastra Nusantara.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Fashion Show Pringgasela by Kraton yang memadukan unsur tradisional dan modern dalam balutan busana elegan.
Selain hiburan dan peragaan busana, “Persit Bisa 2026” juga menghadirkan seminar bertema pemberdayaan perempuan di era digital dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Ekonomi Kreatif.
Dalam sesi tersebut dibahas peluang perempuan untuk berkembang melalui teknologi digital, mulai dari penguatan UMKM, pemasaran produk, hingga membangun jejaring usaha secara kreatif dan adaptif.
Pada sesi berikutnya, panggung kembali diramaikan dengan Fashion Show Selvi Collection yang menampilkan karya busana hasil kreativitas anggota Persit.
Tidak hanya itu, acara juga menghadirkan Fashion Show Nusantara dengan 28 koleksi dari berbagai Pengurus Daerah Persit se-Indonesia. Setiap daerah menampilkan ciri khas budaya melalui motif, warna, dan desain yang merepresentasikan identitas lokal masing-masing.
Nuansa hiburan semakin terasa dengan penampilan musik instrumental dari Kartika Band yang mengiringi jalannya acara hingga sore hari.
Menjelang penutupan, Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana, Uli Simanjuntak, menyampaikan pesan penutup sekaligus apresiasi atas partisipasi seluruh anggota dan peserta.
Acara kemudian ditutup dengan penampilan Rampak Gendang Kopassus yang dibawakan anggota Persit Kopassus. Tarian penuh semangat tersebut menjadi simbol kekompakan, kreativitas, dan semangat kebersamaan perempuan Indonesia.
Melalui “Persit Bisa 2026”, Persit Kartika Chandra Kirana ingin menunjukkan bahwa organisasi perempuan tidak hanya menjadi wadah kebersamaan, tetapi juga ruang pengembangan kreativitas, budaya, dan pemberdayaan ekonomi di tengah perkembangan zaman.













