Jakarta|| Radarpost.id
Katy Perry akhirnya merilis versi lengkap video musik lagu hitnya, The One That Got Away, setelah disebut tersimpan selama 15 tahun. Video versi terbaru tersebut diumumkan Katy Perry melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat (9/5/2026).
Penyanyi asal Amerika Serikat itu mengungkapkan bahwa versi sutradara video tersebut sebelumnya belum pernah dipublikasikan sejak proses produksi pada 2010.
Dalam unggahannya, Katy menyebut para penggemar menjadi alasan utama dirinya akhirnya merilis director’s cut dari video musik tersebut.
“Versi ini sudah tersimpan di brankas selama 15 tahun, dan sekarang kalian memberi saya alasan untuk merilisnya,” tulis Katy Perry.
Berbeda dari video musik original yang dirilis pada era album Teenage Dream, versi terbaru menghadirkan nuansa yang lebih emosional dan sinematik.
Salah satu kejutan terbesar dalam video tersebut adalah hadirnya legenda rock Stevie Nicks yang mengisi narasi puitis mengenai kenangan dan penyesalan.
Dalam salah satu penggalan narasi, Stevie Nicks mengatakan, “The past is like a handful of dust. It filters through your fingers, disappearing, little by little.”
Narasi itu kemudian disambung oleh Katy Perry dengan kalimat reflektif tentang keinginan kembali ke masa lalu dan memperbaiki keputusan hidup.
Video musik versi panjang tersebut masih mengangkat kisah cinta tragis pasangan muda yang harus berakhir karena kecelakaan mendadak. Namun, tambahan adegan dan narasi membuat alur cerita terasa lebih mendalam dibanding versi sebelumnya.
Sejak pertama kali dirilis pada 2010, “The One That Got Away” dikenal sebagai salah satu lagu patah hati paling ikonik milik Katy Perry. Lagu itu menjadi bagian penting dari kesuksesan album “Teenage Dream” yang melahirkan sederet hit global.
Perilisan ulang video musik ini langsung memicu antusiasme penggemar di media sosial. Banyak fans mengaku nostalgia dengan era kejayaan musik pop awal 2010-an sekaligus tersentuh dengan pendekatan emosional dalam versi terbaru tersebut.
Kembalinya “The One That Got Away” juga memperlihatkan bagaimana karya lama masih memiliki tempat kuat di industri musik global, terutama ketika dikemas ulang dengan pendekatan yang lebih personal dan sinematik.













