Jakarta|| Radarpost.id
Di tengah kevakuman Fourtwnty yang belum menemukan titik pulang, lahirlah sebuah proyek baru bernama 1TENGAH. Bukan sekadar band pengganti atau pelarian dari rasa rindu, 1TENGAH hadir sebagai ruang baru bagi para personel untuk melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti.
Nama-nama lama seperti Nuwi, Prim, dan Ryan kembali dipertemukan dalam proyek ini, diperkuat oleh Jerash dan Andri Begenk dalam format pertunjukan mereka. Namun yang paling mencuri perhatian adalah kemunculan Primandha Ridho—yang selama ini dikenal sebagai drummer Fourtwnty—kini berdiri di depan mikrofon sebagai vokalis utama.
Transformasi itu sekaligus menjadi penanda arah baru 1TENGAH. Jika selama ini publik mengenal Prim lewat permainan ritmis di balik drum, kini ia tampil membawa narasi personal lewat suara dan lirik yang terasa lebih intim.
Album perdana bertajuk Mula Masa menjadi langkah pertama mereka memperkenalkan identitas tersebut. Sebuah karya yang lahir bukan dari situasi ideal, melainkan dari fase hidup yang penuh benturan, kehilangan, dan pencarian makna.

Nuansa itu terasa kuat sejak awal mendengarkan album ini. 1TENGAH tidak mencoba terdengar megah atau berlebihan. Mereka justru memilih pendekatan yang tenang, reflektif, dan emosional—sesuatu yang membuat pendengar merasa sedang diajak masuk ke ruang percakapan paling personal para personelnya.
“Mula Masa bukan sekadar album debut. Ini seperti catatan perjalanan kami saat berada di titik paling rapuh, lalu perlahan mencoba berdiri lagi,” begitu kesan yang terasa dari keseluruhan materi album tersebut.
Sebelum album dirilis penuh, 1TENGAH lebih dulu memperkenalkan tiga nomor pembuka: “Di Sana”, “Tanah Yang Sama”, dan “Echoes Of You”. Ketiga lagu itu menjadi pengantar atmosfer album sekaligus memperlihatkan warna musikal mereka yang tetap akrab bagi pendengar lama Fourtwnty, namun kini hadir dengan pendekatan yang lebih kontemplatif.
“Di Sana” berbicara tentang jarak dan kehilangan dengan balutan aransemen minimalis yang hangat. Sementara “Tanah Yang Sama” membawa pesan tentang manusia yang pada akhirnya dipertemukan oleh pengalaman hidup yang serupa. Di sisi lain, “Echoes Of You” terdengar lebih sunyi dan melankolis, seolah menjadi ruang gema untuk kenangan yang belum selesai.
Puncak emosional album ini hadir lewat track penutup berjudul “Mula Masa”. Lagu tersebut menjadi simpul dari keseluruhan cerita yang dibangun 1TENGAH sejak awal album.
Secara lirik, “Mula Masa” menggambarkan perjalanan manusia ketika hidup memaksanya jatuh, tersesat, lalu perlahan belajar menerima keadaan. Simbol “malam” dan “terang” muncul sebagai metafora tentang fase gelap sebelum seseorang menemukan harapan baru.
“Secara garis besar, lagu ini bisa digambarkan sebagai luka yang terobati, gelap yang akhirnya menemukan terang, hati yang resah hingga akhirnya berpasrah, manusia yang hilang arah akhirnya menemukan semangat dan motivasi kembali untuk hidup dengan cara berjuang,” ujar Prim, vokalis sekaligus penulis lagu.
Salah satu penggalan lirik yang paling menonjol berbunyi, “sekian banyak alasan kita dilahirkan.” Kalimat sederhana itu menjadi inti pesan album: bahwa di tengah rasa lelah dan kehilangan arah, selalu ada alasan untuk terus melanjutkan hidup.
Secara musikal, Mula Masa masih membawa napas folk alternatif yang selama ini melekat dengan para personelnya. Namun di album ini, 1TENGAH terdengar lebih dewasa dan jujur. Mereka tidak berusaha mengulang formula lama, melainkan mencoba membuka lembar baru dengan identitas yang lebih personal.
Kehadiran Prim sebagai vokalis juga memberi karakter berbeda. Warna suaranya tidak dibuat sempurna atau terlalu teknis, tetapi justru terasa manusiawi—sesuatu yang membuat pesan lagu-lagu mereka terdengar lebih dekat.
Lebih dari sekadar proyek musik baru, 1TENGAH tampaknya ingin membangun rumah baru bagi pendengar yang tumbuh bersama karya-karya mereka sebelumnya. Sebuah ruang untuk menerima luka, merawat kehilangan, lalu perlahan berjalan lagi.
Album Mula Masa kini telah tersedia di seluruh platform digital streaming musik.













