Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Komdigi Gandeng Klinik Digital, Literasi PP TUNAS Kini Tersedia dalam 20 Bahasa Daerah

Komdigi Gandeng Klinik Digital, Literasi PP TUNAS Kini Tersedia dalam 20 Bahasa Daerah
Komdigi Gandeng Klinik Digital, Literasi PP TUNAS Kini Tersedia dalam 20 Bahasa Daerah
banner 120x600

Jakarta || Radarpost.id

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkuat implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) dengan meluncurkan Buku Saku Panduan Orang Tua mengenai PP TUNAS dan Pengasuhan Digital dalam 20 bahasa daerah.

Peluncuran dilakukan dalam kegiatan “Tunas Indonesia Cakap Digital” yang mengusung tema Peringatan Bersama Hari Anak Nasional 2026 dan Girls in ICT Day 2026 di Garuda Spark Innovation Hub (Ganara Art), FX Sudirman, Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Pengembangan dan penerjemahan buku saku tersebut merupakan hasil kolaborasi Komdigi dengan Klinik Digital, bagian dari Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), sebagai upaya menghadirkan materi literasi digital yang lebih inklusif, kontekstual, dan mudah dipahami masyarakat di berbagai daerah.

Acara dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dan dihadiri lebih dari 300 peserta yang terdiri atas pelajar, kepala sekolah, guru, organisasi internasional, perusahaan teknologi, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan.

Dalam sambutannya, Meutya menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap anak.

“Kemajuan digital harus berjalan seiring dengan pelindungan anak. Membangun ruang digital yang aman merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, industri, dunia pendidikan, orang tua, dan masyarakat,” ujarnya.

Bahasa Daerah Dinilai Lebih Efektif

Founder Klinik Digital sekaligus Associate Professor Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menjelaskan penggunaan bahasa daerah dalam literasi digital bukan sekadar menerjemahkan materi, tetapi merupakan strategi komunikasi berbasis penelitian.

Menurutnya, berbagai studi menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu mampu meningkatkan pemahaman, partisipasi, serta kepercayaan diri masyarakat dalam menerima pengetahuan baru.

Senada, Wiratri Anindhita dari Klinik Digital mengatakan penyampaian materi menggunakan bahasa sehari-hari membuat pesan mengenai keamanan digital, perlindungan data pribadi, dan pengasuhan digital lebih mudah dipahami sekaligus diterapkan di lingkungan keluarga.

Sementara itu, Ketua Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), Mila Viendyasari, menilai Indonesia membutuhkan pendekatan literasi digital yang menghargai keragaman bahasa.

“Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Menghadirkan Buku Saku PP TUNAS dalam 20 bahasa daerah merupakan strategi komunikasi publik berbasis bukti agar seluruh keluarga memiliki kesempatan yang sama memahami perlindungan anak di ruang digital,” katanya.

Kolaborasi Literasi Digital Berkelanjutan

Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Komdigi, Rizky Ameliah, mengatakan peluncuran buku saku tersebut merupakan kelanjutan dari kolaborasi pemerintah dengan Klinik Digital dalam Jejaring Nasional Literasi Digital Siberkreasi.

Sejak 2021, Klinik Digital bersama lebih dari 120 organisasi telah mendukung berbagai program literasi digital nasional, termasuk Program Makin Cakap Digital yang berhasil menjangkau lebih dari lima juta masyarakat Indonesia.

Kolaborasi tersebut juga menghasilkan 10 Modul Literasi Digital C-A-B-E (Cakap, Aman, Budaya, dan Etis) untuk berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi.

Hadirkan Edukasi Interaktif

Selain peluncuran buku saku, kegiatan juga diisi dengan talkshow, dongeng digital, workshop kecerdasan artifisial (AI), pelatihan digital parenting, serta berbagai booth edukasi yang melibatkan Google, Meta, TikTok, Canva, Blibli, Nutrifood, Betadine, ICT Watch, Relawan TIK, KPAI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta sejumlah mitra strategis lainnya.

Melalui peluncuran Buku Saku PP TUNAS dalam 20 bahasa daerah ini, Komdigi berharap literasi digital dan pemahaman mengenai perlindungan anak dapat menjangkau lebih banyak keluarga Indonesia, sekaligus memperkuat transformasi digital yang inklusif dengan tetap menghargai keberagaman bahasa dan budaya Nusantara.