Jakarta|| Radarpost.id
Adopsi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Namun, sebagian besar organisasi dan perusahaan masih memanfaatkan teknologi tersebut untuk kebutuhan produktivitas sehari-hari, belum menjadikannya sebagai alat untuk mendorong transformasi bisnis secara menyeluruh.
Fakta tersebut diungkap HP Indonesia dalam gelaran HP Elevate Indonesia 2026, sebuah forum yang mempertemukan pelaku industri, akademisi, dan pemimpin bisnis untuk membahas masa depan dunia kerja yang semakin dipengaruhi perkembangan AI.
President Director HP Indonesia, Juliana Cen, mengungkapkan sekitar 18 juta organisasi dan perusahaan di Indonesia telah mengadopsi teknologi AI. Jumlah itu setara dengan sekitar 28 persen dari total organisasi yang ada di Indonesia.

Meski demikian, tingkat pemanfaatannya dinilai masih belum optimal.
“Sebanyak 76 persen penggunaan AI saat ini masih berfokus pada produktivitas. Misalnya untuk membantu membuat email, merangkum dokumen, membuat konten, hingga mendukung kebutuhan rapat. Sementara yang benar-benar menggunakan AI untuk transformasi bisnis, menciptakan produk baru, atau meningkatkan model usaha masih di bawah 10 persen,” ujar Juliana.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyak perusahaan telah mengenal AI, tetapi belum sepenuhnya memahami potensi teknologi tersebut sebagai penggerak pertumbuhan bisnis.
Padahal, AI dinilai mampu membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat proses pengambilan keputusan, memperbaiki pengalaman pelanggan, hingga menciptakan sumber pendapatan baru melalui inovasi produk dan layanan.
“AI bukan hanya soal membuat pekerjaan lebih cepat selesai. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi ini mampu memberikan dampak nyata bagi organisasi dan menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan,” katanya.
AI Masuk Babak Baru
Dalam kesempatan yang sama, HP memperkenalkan visinya mengenai masa depan dunia kerja yang akan semakin didukung oleh teknologi AI yang lebih cerdas, personal, dan terintegrasi.
Jika saat ini AI banyak digunakan sebagai asisten digital untuk membantu menyelesaikan tugas tertentu, ke depan teknologi tersebut diprediksi berkembang menjadi sistem yang mampu mengambil tindakan secara mandiri berdasarkan tujuan yang diberikan pengguna.
Konsep tersebut dikenal sebagai Agentic AI, yakni AI yang tidak hanya mampu memberikan jawaban, tetapi juga dapat menjalankan serangkaian proses lintas aplikasi untuk menyelesaikan pekerjaan secara otomatis.
Sebagai contoh, pengguna tidak lagi perlu membuka berbagai aplikasi berbeda untuk memeriksa jadwal, mengakses data pelanggan, membuat laporan, atau mengatur rapat. AI dapat mengelola berbagai sistem tersebut secara bersamaan dan memberikan rekomendasi tindakan yang perlu dilakukan.
“Ke depan orang tidak perlu lagi berpindah-pindah aplikasi. Mereka cukup berinteraksi dengan AI yang memahami konteks pekerjaan dan membantu mengambil keputusan berdasarkan berbagai sumber data yang tersedia,” jelas Juliana.
Bahas Agentic AI Bersama Akademisi dan Pelaku Industri
Potensi Agentic AI menjadi salah satu topik utama dalam sesi diskusi bertajuk Designing Agentic AI that Works.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai sektor, yakni Guru Besar Sistem Informasi BINUS University Prof. Dr. Ir. Meyliana, S.Kom., MM., IPU., CDMS., CBDMP., CME, Director of Strategic Business Development & Portfolio Telkom Indonesia Seno Soemadji, serta Managing Director & Partner BCG Indonesia Sunaryo Gunawan. Sesi ini dimoderatori langsung oleh Juliana Cen.
Para pembicara membahas bagaimana organisasi perlu mempersiapkan strategi, infrastruktur data, serta sumber daya manusia agar dapat memanfaatkan AI secara maksimal.
Selain kesiapan teknologi, faktor budaya organisasi juga dinilai menjadi tantangan penting. Banyak perusahaan masih berada pada tahap eksperimen penggunaan AI dan belum mengintegrasikannya ke dalam proses bisnis utama.
Karena itu, transformasi digital berbasis AI membutuhkan perubahan pola pikir agar teknologi tersebut tidak hanya menjadi alat bantu individu, melainkan menjadi bagian dari strategi perusahaan.
Perkenalkan Inovasi Terbaru
Melalui HP Elevate Indonesia 2026, HP juga memperkenalkan berbagai inovasi terbaru di kategori perangkat komersial, konsumen, printing, dan solusi teknologi berbasis AI.
Berbagai inovasi tersebut dirancang untuk mendukung tren kerja hybrid yang semakin berkembang, sekaligus membantu pengguna bekerja lebih efektif dari berbagai lokasi.
HP melihat kebutuhan dunia kerja saat ini tidak lagi hanya soal perangkat dengan performa tinggi, tetapi juga kemampuan menghadirkan pengalaman kerja yang lebih cerdas dan terhubung.
Perusahaan meyakini kombinasi perangkat, software, data, dan AI akan menjadi fondasi utama dunia kerja masa depan.
Dengan tingkat adopsi AI yang terus meningkat di Indonesia, HP optimistis perusahaan-perusahaan lokal memiliki peluang besar untuk memanfaatkan teknologi tersebut sebagai mesin pertumbuhan baru. Tantangannya kini bukan lagi apakah AI akan digunakan atau tidak, melainkan seberapa jauh teknologi itu dapat menciptakan dampak nyata bagi bisnis dan organisasi.
“Kami ingin membantu organisasi memanfaatkan AI secara lebih strategis sehingga tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mampu mendorong inovasi dan transformasi bisnis,” tutup Juliana.













